Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana merupakan pembaruan dari Hukum Acara Pidana kolonial yang berbentuk Herziene Inlandsch Reglement (HIR). Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana telah digunakan lebih dari 40 (empat puluh) tahun dan dalam penerapannya masih terdapat banyak kekurangan. Dengan adanya perubahan sistem ketatanegaraan dan perkembangan hukum, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang maka perlu dilakukan penggantian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Penggantian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dilakukan untuk mewujudkan sistem peradilan pidana terpadu dengan menyesuaikan fungsi, tugas, dan wewenang aparat penegak hukum agar selaras dengan perkembangan ketatanegaraan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta konvensi internasional yang telah disahkan oleh Pemerintah Indonesia. Indonesia telah mengesahkan beberapa konvensi internasional yang substansinya langsung berkaitan dengan penegakan hukum antara lain:
Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment yang disahkan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pengesahan Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia);
International Covenant on Civil and Political Rights yang disahkan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik); dan
United Nations Convention Against Corruption yang disahkan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003).
Pembaruan hukum acara pidana juga dimaksudkan untuk mewujudkan hukum yang memiliki nurani keadilan, kepastian, dan kemanfaatan hukum sehingga dapat membawa perubahan yang signifikan terhadap penegakan hukum. Undang-Undang ini juga telah menyesuaikan dengan perkembangan hukum yang diatur dalam beberapa Undang-Undang dan putusan Mahkamah Konstitusi.
Materi muatan pokok dalam Undang-Undang ini terdiri atas:
Penguatan hak Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, Korban, dan Penyandang Disabilitas.
Penguatan hak Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, Korban, dan Penyandang Disabilitas bertujuan untuk menjamin keadilan, transparansi, dan perlindungan hak asasi manusia dalam penegakan hukum serta memberikan kesetaraan posisi antara Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, Korban, dan Penyandang Disabilitas dengan aparat penegak hukum.
Penyempurnaan kewenangan Penyelidik, Penyidik, dan Penuntut Umum, serta penguatan koordinasi antara Penyidik dan Penuntut Umum.
Perubahan pengaturan ini diperlukan untuk menciptakan sistem peradilan pidana yang lebih efektif, transparan, dan akuntabel agar dapat meningkatkan efektivitas penegakan hukum.
Perubahan pengaturan mengenai Upaya Paksa.
Perubahan ini memperluas ruang lingkup dan mekanisme Upaya Paksa dengan menambahkan Penetapan Tersangka dan Pemblokiran .
Penambahan Pengakuan Bersalah (Plea Bargain) dan Perjanjian Penundaan Penuntutan (Deferred Prosecution Agreement).
Ketentuan ini merupakan dua konsep yang berkaitan dengan penyelesaian perkara pidana di luar pengadilan, namun keduanya belum diatur secara eksplisit dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana di Indonesia.
Penguatan mekanisme Praperadilan.
Praperadilan merupakan mekanisme hukum yang bertujuan untuk menguji keabsahan tindakan Penyidik dan Penuntut Umum dalam peradilan pidana.
Pengaturan mengenai mekanisme Keadilan Restoratif.
Mekanisme Keadilan Restoratif dilakukan untuk memulihkan keadaan semula Korban yang dilakukan pada tahap Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan.
Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan Kompensasi.
Dalam proses peradilan pidana, Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan Kompensasi merupakan bentuk pemulihan hak bagi Korban atau pihak yang dirugikan akibat suatu tindakan pidana.
Penguatan peran Advokat.
Advokat memiliki peran penting dalam memastikan hak Tersangka, Terdakwa, dan Terpidana terpenuhi selama menjalani proses peradilan pidana baik dalam pemeriksaan maupun di luar pemeriksaan. Advokat tidak hanya memiliki hak untuk membela Tersangka, Terdakwa, dan Terpidana, tetapi juga memiliki hak dan kewajiban lainnya dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai Advokat sesuai dengan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Saksi mahkota.
Undang-Undang ini mengatur saksi mahkota yang merupakan Tersangka atau Terdakwa dengan peran ringan yang dijadikan Saksi untuk membantu mengungkap keterlibatan pelaku lain dalam perkara yang sama. Jika tidak ada Tersangka berperan ringan, Terdakwa yang mengaku bersalah dan membantu substantif dapat mendapat pengurangan pidana. Penunjukan Saksi mahkota ditentukan oleh Penuntut Umum untuk memperkuat pembuktian terhadap pelaku utama. Mekanisme ini harus tetap menjamin keadilan dan menghindari kesaksian yang dipaksakan.
Pengaturan kembali Upaya Hukum.
Undang-Undang ini menitikberatkan pada peningkatan efektivitas dan akuntabilitas dalam mekanisme banding dan peninjauan kembali. Undang-Undang ini merumuskan penguatan peran pengadilan tinggi untuk melakukan pemeriksaan ulang fakta yang ada, sesuai dengan perannya. Untuk memastikan bahwa proses banding bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi sarana untuk menilai ulang fakta dan bukti secara menyeluruh.
BAB I - KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
Penyidik adalah penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, penyidik pegawai negeri sipil, atau penyidik tertentu yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan.
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Penyidik Polri adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang untuk melakukan penyidikan.
Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah pejabat pegawai negeri sipil yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan berdasarkan Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya.
Penyidik Tertentu adalah pejabat suatu lembaga selain Penyidik Polri dan PPNS yang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan berdasarkan Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya.
Penyidikan adalah serangkaian tindakan Penyidik untuk mencari dan mengumpulkan alat bukti guna membuat terang tindak pidana, serta menemukan tersangka.
Penyidik Pembantu adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberi kewenangan tertentu untuk melakukan Penyidikan .
Penyelidik adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia atau pejabat lain yang berdasarkan Undang-Undang diberi kewenangan untuk melakukan penyelidikan.
Penyelidikan adalah serangkaian tindakan Penyelidik untuk mencari dan menemukan peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan Penyidikan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Jaksa adalah pegawai negeri sipil dengan jabatan fungsional yang memiliki kekhususan dan melaksanakan tugas, fungsi, dan kewenangannya berdasarkan Undang-Undang.
Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi kewenangan untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.
Penuntutan adalah tindakan Penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang untuk diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.
Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi kewenangan untuk menerima, memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pidana.
Mengadili adalah serangkaian tindakan Hakim untuk menerima, memeriksa, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Upaya Paksa adalah tindakan aparat penegak hukum berupa penetapan tersangka, penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan surat, penyadapan, pemblokiran, serta larangan bagi tersangka atau terdakwa untuk keluar wilayah Indonesia yang dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini dalam rangka kepentingan penegakan hukum.
Praperadilan adalah kewenangan pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus keberatan yang diajukan tersangka atau keluarga tersangka, korban atau keluarga korban, pelapor, atau advokat atau pemberi bantuan hukum yang diberi kuasa untuk mewakili kepentingan hukum tersangka atau korban, atas tindakan Penyidik dalam melakukan Penyidikan atau tindakan Penuntut Umum dalam melakukan Penuntutan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Pengakuan Bersalah (Plea Bargain) adalah mekanisme hukum bagi terdakwa untuk mengakui kesalahannya dalam suatu tindak pidana dan kooperatif dalam pemeriksaan dengan menyampaikan bukti yang mendukung pengakuannya dengan imbalan keringanan hukuman.
Perjanjian Penundaan Penuntutan (Deferred Prosecution Agreement) adalah mekanisme hukum bagi Penuntut Umum untuk menunda Penuntutan terhadap terdakwa yang pelakunya korporasi.
Putusan Pengadilan adalah pernyataan Hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa putusan pemidanaan, putusan bebas, putusan lepas dari segala tuntutan hukum, putusan pemaafan Hakim, atau putusan berupa tindakan.
Putusan Pemaafan Hakim adalah pernyataan Hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka yang menyatakan terdakwa terbukti bersalah, tetapi karena ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, atau keadaan pada waktu dilakukan tindak pidana serta yang terjadi kemudian, Hakim tidak menjatuhkan pidana atau tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan.
Upaya Hukum adalah hak terdakwa atau Penuntut Umum untuk tidak menerima Putusan Pengadilan yang berupa perlawanan, banding, dan kasasi, atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Keadilan Restoratif adalah pendekatan dalam penanganan perkara tindak pidana yang dilakukan dengan melibatkan para pihak, baik korban, keluarga korban, tersangka, keluarga tersangka, terdakwa, keluarga terdakwa, dan/atau pihak lain yang terkait, yang bertujuan mengupayakan pemulihan keadaan semula.
Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang yang mengatur mengenai advokat, dan/atau orang yang dapat memberikan jasa hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan sebagai bagian dari pengabdian masyarakat untuk memberikan bantuan hukum cuma-cuma berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pembimbing Kemasyarakatan adalah petugas pemasyarakatan yang melaksanakan penelitian kemasyarakatan, pendampingan, pembimbingan, dan pengawasan terhadap klien, baik di dalam maupun di luar proses peradilan pidana.
Jasa Hukum adalah jasa yang diberikan Advokat yang meliputi memberikan konsultasi hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum tersangka atau terdakwa.
Bantuan Hukum adalah Jasa Hukum yang diberikan secara cuma-cuma oleh Advokat atau pemberi bantuan hukum kepada tersangka, terdakwa, pelapor, pengadu, saksi, atau korban yang tidak mampu.
Pemberi Bantuan Hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan Bantuan Hukum berdasarkan Undang-Undang mengenai bantuan hukum.
Pendamping adalah orang yang dipercaya dan memiliki kompetensi mendampingi korban dalam mengakses hak atas penanganan, pelindungan, dan pemulihan.
Tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, patut diduga sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan minimal 2 (dua) alat bukti.
Terdakwa adalah Tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan.
Terpidana adalah Terdakwa yang dipidana berdasarkan Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Penetapan Tersangka adalah proses penetapan seseorang menjadi Tersangka setelah Penyidik berhasil mengumpulkan dan memperoleh kejelasan terjadinya tindak pidana berdasarkan minimal 2 (dua) alat bukti.
Penangkapan adalah tindakan Penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan Tersangka, Terdakwa, atau Terpidana berdasarkan minimal 2 (dua) alat bukti untuk kepentingan Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Penahanan adalah penempatan Tersangka atau Terdakwa di tempat tertentu oleh Penyidik, Penuntut Umum, atau Hakim dengan penetapannya.
Penggeledahan adalah tindakan Penyidik untuk melakukan pemeriksaan atas objek yang dimiliki atau di bawah penguasaan seseorang terkait tindak pidana untuk kepentingan pembuktian pada tahap Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Penyitaan adalah tindakan Penyidik untuk mengambil alih dan/atau menyimpan di bawah penguasaannya atas benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud, untuk kepentingan pembuktian dalam Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Penyadapan adalah kegiatan untuk memperoleh informasi pribadi yang dilakukan secara rahasia dalam penegakan hukum dengan cara mendengarkan, merekam, membelokkan, menghambat, mengubah, menyambungkan, memasang alat pada jaringan, memasang alat perekam secara tersembunyi, dan/atau mencatat transmisi informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik, dengan menggunakan jaringan kabel komunikasi, jaringan nirkabel, atau melalui jaringan sistem informasi elektronik internet, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pemblokiran adalah tindakan untuk mencegah akses penggunaan atau pemindahan sesuatu terhadap harta kekayaan, bukti kepemilikan, transaksi perbankan, akun platform daring, informasi elektronik, dokumen elektronik, atau produk administratif lainnya untuk sementara waktu yang dilakukan atas perintah Penyidik, Penuntut Umum, atau Hakim dengan penetapannya.
Informasi Elektronik adalah data elektronik yang telah diolah dan memiliki arti tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dokumen Elektronik adalah Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, disimpan, dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik yang memiliki makna atau arti tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tertangkap Tangan adalah tertangkapnya seseorang pada waktu: a. sedang melakukan tindak pidana; b. beberapa saat setelah tindak pidana dilakukan; c. sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukan tindak pidana; atau d. sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana yang menunjukkan bahwa dirinya adalah pelakunya, turut melakukan, atau membantu melakukan tindak pidana.
Ganti Rugi adalah hak seseorang untuk mendapat pemenuhan atas tuntutannya yang berupa sejumlah uang karena ditangkap, ditahan, dituntut, atau diadili tanpa alasan yang sah berdasarkan Undang-Undang, karena kekeliruan mengenai orangnya, atau karena kekeliruan mengenai hukum yang diterapkan.
Rehabilitasi adalah hak seseorang untuk mendapat pemulihan haknya sesuai dengan kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya yang diberikan pada tahap Penyidikan, Penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan karena ditangkap, ditahan, dituntut, atau diadili tanpa alasan yang berdasarkan Undang-Undang, karena kekeliruan mengenai orangnya, atau karena kekeliruan mengenai hukum yang diterapkan.
Restitusi adalah pembayaran ganti rugi yang dibebankan kepada pelaku atau pihak ketiga berdasarkan penetapan atau Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, atas kerugian materiel dan/atau imateriel yang diderita korban atau ahli warisnya.
Kompensasi adalah ganti rugi yang diberikan oleh negara karena pelaku tidak mampu memberikan ganti rugi sepenuhnya yang menjadi tanggung jawabnya kepada korban atau keluarganya.
Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang kepada Penyelidik, Penyidik Polri, PPNS, atau Penyidik Tertentu mengenai telah terjadinya peristiwa pidana, sedang terjadinya peristiwa pidana, atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.
Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada Penyelidik, Penyidik Polri, PPNS, atau Penyidik Tertentu untuk menindak menurut hukum seseorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang merugikannya.
Saksi adalah seseorang yang memberikan keterangan mengenai peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri, atau orang yang memiliki dan/atau menguasai data dan/atau informasi yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa guna kepentingan Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Keterangan Saksi adalah alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari Saksi pada tahap Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Penerjemah Tersumpah yang selanjutnya disebut Penerjemah adalah orang atau individu yang mempunyai keahlian dalam menghasilkan terjemahan, yang telah diangkat sumpah oleh pemerintah atau lembaga yang berwenang.
Korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.
Ahli adalah seseorang yang memiliki: a. pengetahuan dalam bidang tertentu yang dibuktikan dengan ijazah akademik atau sertifikat tertentu; dan/atau b. pengalaman dan keterampilan khusus yang terkait dengan peristiwa pidana.
Keterangan Ahli adalah alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari Ahli pada tahap Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Keluarga adalah seseorang yang memiliki hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, atau hubungan suami atau istri meskipun telah bercerai, dengan orang yang terlibat dalam suatu perkara pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.
Korporasi adalah kumpulan terorganisasi dari orang dan/atau kekayaan, baik merupakan badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, yayasan, perkumpulan, koperasi, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha milik desa, atau yang disamakan dengan itu, maupun perkumpulan yang tidak berbadan hukum atau badan usaha yang berbentuk firma, persekutuan komanditer, atau yang disamakan dengan itu.
Hari adalah 24 (dua puluh empat) jam.
Bulan adalah 30 (tiga puluh) Hari .
Pasal 2
(1)
Acara pidana dilaksanakan hanya berdasarkan tata cara yang diatur dalam Undang-Undang.
(2)
Acara pidana dilaksanakan dengan sistem peradilan pidana terpadu atas dasar prinsip diferensiasi fungsional yang menekankan fungsi
Penyidikan pada Kepolisian Negara Republik Indonesia,
Penuntutan pada Jaksa, pemeriksaan pengadilan pada Hakim,
Advokat yang memberikan
Jasa Hukum dan
Bantuan Hukum dalam rangka mendudukkan peristiwa pidana secara profesional dan proporsional serta
Pembimbing Kemasyarakatan yang melaksanakan fungsi pembinaan terhadap narapidana dan
Terpidana .
Pasal 3
(1)
Ruang lingkup berlakunya Undang-Undang ini dimaksudkan untuk melaksanakan tata cara peradilan pidana dalam lingkungan peradilan umum pada semua tahap peradilan.
(2)
Ketentuan dalam Undang-Undang ini dimaksudkan untuk melaksanakan tata cara peradilan pidana terhadap seluruh tindak pidana, kecuali diatur lain dalam Undang-Undang.
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan agar peraturan perundang-undangan yang lebih rendah dari Undang-Undang tidak boleh mengatur hukum acara pidana.
Pasal 4
Acara pidana yang diatur dalam Undang-Undang ini dilaksanakan dengan perpaduan antara sistem
Hakim aktif dengan para pihak berlawanan secara berimbang dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.
Yang dimaksud dengan "sistem Hakim aktif" adalah Hakim mempunyai peran besar dalam mengarahkan, MEMUTUSKAN perkara, aktif dalam menemukan fakta, dan cermat dalam menilai alat bukti. Yang dimaksud dengan "para pihak berlawanan secara berimbang" adalah yang dikenal dengan sistem adversarial yang harus menjamin keseimbangan antara hak Penyidik, hak Penuntut Umum, dan/atau hak Tersangka atau Terdakwa dalam proses peradilan pidana. Dengan demikian, penerapan hukum acara pidana di Indonesia merupakan perpaduan antara sistem eropa kontinental dengan sistem adversarial.
BAB II - PENYELIDIKAN DAN PENYIDIKAN
Bagian Kesatu - Penyelidik
Pasal 5
(1)
Penyelidik karena kewajibannya mempunyai wewenang:
menerima Laporan atau Pengaduan dari seseorang mengenai adanya tindak pidana baik secara tertulis maupun melalui media telekomunikasi dan/atau media elektronik;
mencari, mengumpulkan, dan mengamankan keterangan dan barang bukti;
menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;
melakukan asesmen dan mengupayakan fasilitas dan/atau rujukan bagi kebutuhan khusus perempuan dan kelompok rentan; dan
mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
(2)
Penyelidik atas perintah
Penyidik dapat melakukan tindakan berupa:
Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, Penggeledahan, dan Penahanan ;
pemeriksaan dan Penyitaan surat;
mengambil sidik jari, melakukan identifikasi, memotret seseorang, dan mengambil data forensik seseorang; dan
membawa dan menghadapkan seseorang pada Penyidik .
(3)
Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada
Penyidik .
(4)
Penyelidik mempunyai wewenang melaksanakan tugas di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "media telekomunikasi dan/atau media elektronik" adalah media resmi milik aparat penegak hukum.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "melakukan asesmen" antara lain melakukan penilaian terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan keamanan perempuan dan kelompok rentan yang terlibat dalam perkara pidana, baik sebagai Korban, Saksi, Tersangka, maupun Terdakwa .
Huruf e
Yang dimaksud dengan "mengupayakan fasilitas dan/atau rujukan bagi kebutuhan khusus perempuan dan kelompok rentan" antara lain:
memastikan bahwa proses Penyelidikan berjalan dengan memperhatikan kebutuhan khusus, termasuk penyediaan fasilitas pemeriksaan yang ramah perempuan dan anak, pendamping psikologis, Penerjemah, juru bahasa isyarat, atau layanan medis; dan
melakukan koordinasi dengan lembaga terkait dalam pemenuhan kebutuhan khusus perempuan dan kelompok rentan.
Ayat (2)
Huruf c
Yang dimaksud dengan "data forensik seseorang", antara lain, foto wajah, retina, asam deoksiribonukleat (DNA), biologi, kimia, fisika dan data odontologi.
Bagian Kedua - Penyidik dan Penyidik Pembantu
Paragraf 1 - Penyidik
Pasal 6
(2)
Penyidik Polri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan
Penyidik utama yang diberi kewenangan untuk melakukan
Penyidikan terhadap semua tindak pidana.
(3)
Syarat kepangkatan, pendidikan dan pelatihan, serta sertifikasi bagi
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 7
(1)
Penyidik mempunyai tugas dan wewenang:
menerima Laporan atau Pengaduan dari seseorang mengenai adanya tindak pidana;
mencari dan mengumpulkan serta mengamankan alat bukti;
melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
menyuruh berhenti seseorang dan memeriksa surat atau tanda pengenal diri yang bersangkutan;
mencari orang yang diduga melakukan tindak pidana untuk menetapkan Tersangka ;
melakukan Upaya Paksa ;
mengambil sidik jari, melakukan identifikasi, memotret seseorang, dan mengambil data forensik seseorang;
mendatangi orang yang berhubungan dengan tindak pidana untuk diperiksa dan didengar keterangannya;
memanggil orang untuk diperiksa dan didengar keterangannya sebagai Saksi, Ahli, atau Tersangka ;
melakukan penghentian Penyidikan dengan memberitahukan kepada Penuntut Umum ;
melakukan penyelesaian perkara melalui mekanisme Keadilan Restoratif ;
menetapkan Tersangka sebagai saksi mahkota;
menerima pengakuan bersalah;
melakukan asesmen dan mengupayakan fasilitas dan/atau rujukan bagi kebutuhan khusus perempuan dan kelompok rentan; dan
melakukan tindakan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
PPNS dan
Penyidik Tertentu mempunyai wewenang berdasarkan Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya.
(5)
Koordinasi dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dikecualikan untuk
Penyidik di Kejaksaan Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "seseorang" adalah orang perseorangan termasuk pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia, PPNS, dan Penyidik Tertentu .
Huruf c
Yang dimaksud dengan "tindakan pertama", antara lain, mengamankan tempat kejadian perkara dan memasang garis polisi (police line).
Pasal 8
(1)
Penyidik membuat berita acara pelaksanaan tindakan yang sesuai dengan kewenangannya.
(3)
Penyerahan berkas perkara yang dilakukan oleh PPNS atau
Penyidik Tertentu dilakukan melalui
Penyidik Polri untuk kemudian secara bersama-sama menyerahkan berkas perkara kepada
Penuntut Umum .
Pasal 9
Penyidik berwenang melaksanakan tugas di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Paragraf 2 - Penyidik Pembantu
Pasal 10
Yang dimaksud dengan "pelimpahan wewenang dari Penyidik " adalah pelimpahan wewenang Penahanan yang hanya dapat dilakukan atas perintah dari Penyidik kepada Penyidik Pembantu ketika terdapat hambatan letak geografis yang sulit dijangkau, belum ada penyidik, dan/atau kondisi lain yang dapat diterima menurut kewajaran.
Pasal 11
Penyidik Pembantu membuat berita acara dan menyerahkan berkas perkara kepada Penyidik, kecuali perkara dengan acara pemeriksaan singkat yang dapat langsung diserahkan kepada
Penuntut Umum .
Pasal 12
Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian
Penyidik Pembantu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 dan
Pasal 11 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Ketiga - Penyelidikan
Pasal 13
(1)
Penyelidik yang mengetahui atau menerima
Laporan atau
Pengaduan terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan
Penyelidikan yang diperlukan.
(4)
Penyelidik wajib membuat berita acara mengenai tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) and ayat (3), serta melaporkan tindakan tersebut kepada
Penyidik .
Pasal 14
(1)
Laporan atau
Pengaduan yang diajukan secara tertulis harus ditandatangani oleh pelapor atau pengadu.
(3)
Dalam hal pelapor atau pengadu tidak dapat menulis, hal itu harus disebutkan sebagai catatan dalam
Laporan atau
Pengaduan tersebut.
Pasal 15
Dalam melaksanakan tugas Penyelidikan,
Penyelidik wajib menunjukkan tanda pengenalnya.
Pasal 16
(1)
Penyelidikan dapat dilakukan dengan cara:
pengolahan tempat kejadian perkara;
pengamatan;
wawancara;
pembuntutan;
penyamaran;
pembelian terselubung;
penyerahan di bawah pengawasan;
pelacakan;
penelitian dan analisis dokumen;
mendatangi atau mengundang seseorang untuk memperoleh keterangan; dan/atau
kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Sasaran
Penyelidikan meliputi:
orang;
benda atau barang;
tempat;
peristiwa/kejadian; dan/atau
kegiatan.
Ayat (1)
Ketentuan Penyelidikan dengan cara penyamaran, pembelian terselubung, dan penyerahan di bawah pengawasan merupakan teknik investigasi khusus yang diatur dalam Undang-Undang, antara lain, pada Undang-Undang mengenai narkotika dan psikotropika.
Pasal 17
Pasal 18
Pasal 19
(2)
Dalam hal
Penyidik MEMUTUSKAN status peristiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana,
Penyidik menindaklanjuti peristiwa tersebut ke tahap
Penyidikan .
(3)
Dalam hal
Penyidik MEMUTUSKAN status peristiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan merupakan tindak pidana,
Penyidik menghentikan
Penyelidikan .
(4)
Dalam hal
Penyidik MEMUTUSKAN status peristiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana, namun bukan kewenangan
Penyidik yang bersangkutan,
Penyidik yang bersangkutan melimpahkan berkas perkara hasil
Penyelidikan kepada instansi yang berwenang.
Pasal 20
(1)
Dalam melaksanakan tugas Penyelidikan,
Penyelidik dikoordinasikan, diawasi, dan diberi petunjuk oleh
Penyidik Polri.
(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk
Penyelidikan di Kejaksaan Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Pasal 21
Bagian Keempat - Penyidikan
Pasal 22
(1)
Untuk kepentingan Penyidikan,
Penyidik dapat memanggil atau mendatangi seseorang untuk memperoleh keterangan tanpa sebelumnya memberi status orang tersebut sebagai
Tersangka atau
Saksi .
(2)
Untuk kepentingan Penyidikan,
Penyidik dapat menetapkan
Tersangka sebagai saksi mahkota untuk membantu mengungkapkan keterlibatan
Tersangka lain yang patut dipidana dalam perkara yang sama.
(3)
Dalam menetapkan saksi mahkota sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penyidik berkoordinasi dengan
Penuntut Umum dan dituangkan dalam berita acara.
(4)
Untuk kepentingan Penyidikan,
Penyidik dapat menerima pengakuan bersalah dari
Tersangka dengan dituangkan dalam berita acara.
(5)
Dalam menerima pengakuan bersalah sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
Penyidik berkoordinasi dengan
Penuntut Umum .
Pasal 23
(1)
Setiap orang yang mengetahui permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada
Penyelidik atau
Penyidik .
(4)
Dalam hal pelapor atau pengadu tidak bisa baca tulis, hal itu harus disebutkan sebagai catatan dalam
Laporan atau
Pengaduan tersebut.
(7)
Penyelidik atau
Penyidik dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan kewenangannya melampaui atau melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan atau kode etik dikenai sanksi administratif, sanksi etik, atau sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 24
(2)
Penghentian
Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan karena:
tidak terdapat cukup alat bukti;
peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana;
Penyidikan dihentikan demi hukum;
terdapat Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap Tersangka atas perkara yang sama;
kedaluwarsa;
Tersangka meninggal dunia;
ditariknya Pengaduan pada tindak pidana aduan;
tercapainya penyelesaian perkara melalui mekanisme Keadilan Restoratif ;
Tersangka membayar maksimum pidana denda atas tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana denda paling banyak kategori II; atau
Tersangka membayar maksimum pidana denda kategori IV atas tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak kategori III.
(4)
Dalam hal
Penyidik menghentikan Penyidikan,
Penyidik wajib memberitahukan kepada Penuntut Umum, Korban, dan/atau
Tersangka paling lama 1 (satu)
Hari terhitung sejak tanggal penghentian
Penyidikan .
(5)
Penghentian
Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan untuk
Penyidik di Kejaksaan Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Pasal 25
Pasal 26
(2)
Pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan surat panggilan yang sah dengan memperhatikan jangka waktu yang wajar dan menyebutkan alasan pemanggilan secara jelas.
Pasal 27
Dalam hal terhadap penghentian
Penyidikan yang dilakukan untuk menindaklanjuti keputusan gelar perkara diajukan permohonan ke pengadilan negeri untuk memeriksa sah atau tidaknya penghentian
Penyidikan dan pengadilan negeri MEMUTUSKAN penghentian
Penyidikan tidak sah,
Penuntut Umum wajib melakukan
Penuntutan .
Pasal 28
Pasal 29
(1)
Dalam hal
Tersangka dan/atau
Saksi yang dipanggil tidak datang dengan memberi alasan yang sah dan patut kepada
Penyidik yang melakukan pemeriksaan,
Penyidik tersebut datang ke tempat kediamannya untuk melakukan pemeriksaan.
(2)
Dalam hal
Tersangka dan/atau
Saksi menghindar dari pemeriksaan,
Penyidik dapat langsung mendatangi kediaman
Tersangka dan/atau
Saksi tanpa terlebih dahulu dilakukan pemanggilan untuk melakukan pemeriksaan.
Pasal 30
(1)
Pemeriksaan terhadap seseorang yang disangka melakukan tindak pidana direkam dengan menggunakan kamera pengawas selama pemeriksaan berlangsung.
(2)
Rekaman kamera pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk kepentingan Penyidikan, Penuntutan, pembelaan terhadap
Tersangka atau
Terdakwa dan dalam pemeriksaan di sidang pengadilan atas permintaan
Hakim .
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penguasaan dan penggunaan rekaman kamera pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "kamera pengawas" adalah Closed Circuit Television (CCTV).
Pasal 31
Pasal 32
(3)
Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicatat dalam berita acara.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "dicatat dalam berita acara" adalah penulisan seluruh ucapan atau alasan keberatan Tersangka, Advokat, atau Pemberi Bantuan Hukum secara lengkap dan detail tanpa ada yang dihilangkan atau disingkat.
Pasal 33
(1)
Penyidik memeriksa
Saksi dengan tidak disumpah, kecuali jika terdapat cukup alasan untuk diduga bahwa
Saksi tidak akan dapat hadir dalam pemeriksaan di pengadilan.
(2)
Penyidik memeriksa
Saksi secara tersendiri, tetapi dapat dipertemukan yang satu dengan yang lain dan wajib memberikan keterangan yang sebenarnya.
Pasal 34
(1)
Dalam memberikan penjelasan atau keterangan pada tingkat Penyidikan,
Tersangka diberitahukan haknya.
(2)
Penyidik mencatat keterangan
Tersangka secara teliti sesuai dengan yang dikatakannya dalam pemeriksaan dan dimuat dalam berita acara pemeriksaan.
(3)
Dalam hal keterangan
Tersangka tidak menggunakan bahasa Indonesia,
Penyidik wajib menunjuk Penerjemah untuk menerjemahkan keterangan
Tersangka .
(4)
Keterangan
Tersangka sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus ditandatangani oleh Penerjemah dan dilampirkan pada berkas perkara.
(5)
Dalam hal
Tersangka merupakan Penyandang Disabilitas,
Penyidik memfasilitasi akses dukungan kebutuhan khusus, diantaranya namun tidak terbatas pada juru bahasa dan pendamping sesuai ragam disabilitasnya.
Pasal 35
(2)
Dalam pemeriksaan
Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Keterangan Saksi dicatat dalam berita acara pemeriksaan.
Pasal 36
(1)
Keterangan
Tersangka dan/atau
Saksi dicatat dalam berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh Penyidik, Tersangka, dan/atau
Saksi setelah membaca dan mengerti isinya.
(3)
Dalam hal
Tersangka dan/atau
Saksi tidak bersedia membubuhkan tanda tangan atau cap jempol,
Penyidik mencatat hal tersebut dalam berita acara pemeriksaan dengan menyebut alasannya.
Pasal 37
(1)
Dalam hal
Tersangka dan/atau
Saksi yang harus didengar keterangannya berdiam atau bertempat tinggal di luar daerah hukum
Penyidik yang melakukan Penyidikan, pemeriksaan terhadap
Tersangka dan/atau
Saksi dapat dilimpahkan kepada
Penyidik di tempat kejadian atau tempat tinggal
Tersangka dan/atau
Saksi tersebut.
(2)
Berita acara pemeriksaan terhadap
Tersangka dan/atau
Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diserahkan kepada
Penyidik yang melakukan
Penyidikan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh)
Hari terhitung sejak pemeriksaan selesai dilaksanakan.
Pasal 38
(2)
Sebelum memberikan
Keterangan Ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Ahli mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka
Penyidik untuk memberikan keterangan menurut pengetahuannya dengan sebaik-baiknya.
(3)
Jika
Ahli yang karena harkat dan martabat, pekerjaan, atau jabatan diwajibkan menyimpan rahasia,
Ahli dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.
Pasal 39
Penyidik atas kekuatan sumpah jabatannya dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari membuat berita acara yang diberi tanggal dan memuat:
tindak pidana yang dipersangkakan dengan menyebut waktu, tempat, dan keadaan pada waktu tindak pidana dilakukan;
nama dan tempat tinggal dari Tersangka dan/atau Saksi ;
keterangan Tersangka, Saksi, dan/atau Ahli ;
catatan mengenai akta dan/atau benda; dan
segala sesuatu yang dianggap perlu untuk kepentingan penyelesaian perkara.
Pasal 40
Pasal 41
Dalam hal
Penyidik melakukan Penggeledahan,
Penyidik terlebih dahulu menunjukkan tanda pengenalnya dan surat izin
Penggeledahan dari ketua pengadilan negeri kepada
Tersangka atau Keluarganya.
Pasal 42
(2)
Penyidik lebih dahulu membacakan berita acara
Penggeledahan kepada Tersangka, kemudian diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penyidik,
Tersangka atau Keluarganya, dan kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun tetangga dengan 2 (dua) orang saksi.
(3)
Dalam hal
Tersangka atau Keluarganya tidak bersedia membubuhkan tanda tangan, hal tersebut dicatat dalam berita acara dengan menyebut alasannya.
Pasal 43
(1)
Untuk keamanan dan ketertiban Penggeledahan,
Penyidik dapat mengadakan penjagaan atau penutupan tempat yang bersangkutan.
(2)
Penyidik berhak memerintahkan setiap orang yang dianggap perlu untuk tidak meninggalkan tempat tersebut selama
Penggeledahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlangsung.
Pasal 44
Dalam hal
Penyidik melakukan Penyitaan,
Penyidik terlebih dahulu menunjukkan tanda pengenalnya dan surat izin
Penyitaan dari ketua pengadilan negeri kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda tersebut.
Pasal 45
(1)
Penyidik menjelaskan benda yang akan disita kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda tersebut atau Keluarganya dan dapat meminta keterangan mengenai benda yang akan disita tersebut dengan disaksikan oleh kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun tetangga dengan 2 (dua) orang saksi.
(2)
Penyidik membuat berita acara
Penyitaan yang kemudian dibacakan kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda atau Keluarganya dengan diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penyidik, pemilik atau pihak yang menguasai benda, atau Keluarganya dan kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun tetangga dengan 2 (dua) orang saksi.
(3)
Dalam hal pemilik atau pihak yang menguasai benda atau Keluarganya tidak bisa baca tulis, berita acara
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibacakan oleh Penyidik, serta diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penyidik, dibubuhkan cap jempol oleh pemilik atau pihak yang menguasai benda atau Keluarganya, dan ditandatangani oleh kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun tetangga dengan 2 (dua) orang saksi.
(4)
Dalam hal pemilik atau pihak yang menguasai benda tidak bersedia membubuhkan tandatangannya atau cap jempol, hal tersebut dicatat dalam berita acara
Penyitaan dengan menyebut alasannya.
(5)
Turunan atau salinan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh
Penyidik kepada atasannya, ketua pengadilan negeri, pemilik atau pihak yang menguasai benda sitaan atau Keluarganya, dan kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun tetangga.
Pasal 46
(1)
Benda sitaan sebelum dibungkus, dicatat mengenai berat dan/atau jumlah menurut jenis masing-masing, ciri atau sifat khas, tempat, hari dan tanggal Penyitaan, dan identitas pemilik atau pihak yang menguasai benda yang disita atau Keluarganya, yang kemudian diberi lak dan cap jabatan yang ditandatangani oleh
Penyidik .
(2)
Dalam hal benda sitaan tidak mungkin dibungkus,
Penyidik memberi catatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang ditulis di atas label dan ditempelkan atau dikaitkan pada benda sitaan.
Pasal 47
Untuk pengungkapan suatu tindak pidana,
Penyidik dapat melakukan
Penggeledahan terhadap surat, buku, kitab, daftar, atau data tertulis lain yang belum disita dan jika diperlukan
Penyidik dapat melakukan
Penyitaan terhadap surat, buku, kitab, daftar, atau data tertulis lain tersebut.
Pasal 48
(1)
Dalam hal
Pengaduan yang diterima terdapat surat atau tulisan palsu, dipalsukan, atau diduga palsu oleh Penyidik, untuk kepentingan Penyidikan,
Penyidik dapat meminta keterangan mengenai hal itu kepada
Ahli .
(2)
Dalam hal timbul dugaan kuat terdapat surat atau tulisan palsu atau dipalsukan,
Penyidik dengan surat izin ketua pengadilan negeri dapat datang atau dapat meminta pejabat penyimpan umum untuk mengirimkan surat asli yang disimpannya sebagai bahan perbandingan.
(3)
Pejabat penyimpan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memenuhi permintaan
Penyidik .
(4)
Dalam hal suatu surat yang dipandang perlu untuk pemeriksaan menjadi bagian dan tidak dapat dipisahkan dari daftar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 47 ,
Penyidik dapat meminta daftar tersebut seluruhnya selama waktu yang ditentukan dalam surat permintaan dikirimkan kepadanya untuk diperiksa, dengan menyerahkan tanda penerimaan.
(5)
Dalam hal surat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menjadi bagian dari suatu daftar, penyimpan membuat salinan sebagai penggantinya sampai surat asli diterima kembali dan di bagian bawah dari salinan tersebut diberi catatan salinan tersebut dibuat.
(6)
Dalam hal surat atau daftar itu tidak dikirimkan dalam waktu yang ditentukan dalam surat permintaan tanpa alasan yang sah,
Penyidik berwenang mengambilnya.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "pejabat penyimpan umum", antara lain, pejabat yang berwenang dari arsip negara, catatan sipil, balai harta peninggalan, atau notaris sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 49
(1)
Dalam hal
Penyidik untuk kepentingan peradilan menangani korban luka, keracunan, atau mati yang diduga akibat peristiwa tindak pidana,
Penyidik berwenang mengajukan permintaan keterangan kepada
Ahli kedokteran forensik atau dokter dan/atau
Ahli lainnya.
(2)
Permintaan
Keterangan Ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara tegas untuk pemeriksaan luka, keracunan, mayat, dan/atau bedah mayat.
(3)
Dalam hal korban mati, mayat dikirim kepada
Ahli kedokteran forensik dan/atau dokter pada rumah sakit dengan memperlakukan mayat tersebut secara baik dengan penuh penghormatan dan diberi label yang dilak dan diberi cap jabatan yang memuat identitas mayat dan dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Ayat (1)
Keterangan yang diberikan oleh Ahli kedokteran forensik dianggap sebagai Keterangan Ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan Ahli kedokteran forensik dianggap hanya sebagai keterangan.
Pasal 50
(1)
Dalam hal untuk keperluan pembuktian diperlukan pembedahan mayat yang tidak mungkin lagi dihindari,
Penyidik wajib terlebih dahulu memberitahukan pembedahan mayat tersebut kepada
Keluarga Korban .
(3)
Dalam hal
Keluarga Korban keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau
Keluarga Korban atau pihak yang perlu diberitahukan tidak ditemukan,
Penyidik dapat meminta penetapan dari pengadilan negeri setelah dilakukan pembedahan mayat.
Pasal 51
Pasal 52
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan
Penyidikan dibebankan kepada negara.
Bagian Kelima - Pelindungan Pelapor, Pengadu, Saksi, dan Korban
Pasal 53
(1)
Setiap pelapor, pengadu, Saksi, dan/atau
Korban berhak memperoleh pelindungan.
(2)
Pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pada setiap tahap pemeriksaan.
(3)
Dalam hal diperlukan, pelindungan dapat dilakukan secara khusus dan tanpa batas waktu.
(4)
Pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan
Saksi dan
Korban .
(5)
Penyidik, Penuntut Umum, dan
Hakim berkoordinasi dengan lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan
Saksi dan
Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (4).
(6)
Tata cara pemberian pelindungan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (1)
Pelindungan dalam ketentuan ini adalah pelindungan terhadap pelapor, pengadu, Saksi, dan/atau Korban dari segala ancaman, yakni segala bentuk perbuatan yang mempunyai implikasi memaksa pelapor, pengadu, Saksi, dan/atau Korban untuk melakukan suatu hal yang berkenaan dengan diperlukannya keterangan dan/atau kesaksiannya pada semua proses peradilan.
Pasal 54
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pelindungan pelapor, pengadu, Saksi, dan/atau
Korban dibebankan kepada negara.
Bagian Keenam - Bantuan Teknis Penyidikan
Pasal 55
Pasal 56
(1)
Bantuan teknis
Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 55 , meliputi:
laboratorium forensik, digunakan dalam hal Penyidik memerlukan pemeriksaan dan pengujian barang bukti yang harus mendapat penanganan dan/atau perlakuan khusus;
identifikasi, digunakan dalam hal Penyidik memerlukan kepastian identitas Tersangka, Saksi, atau Korban tindak pidana dan sebagai alat bukti;
kedokteran forensik, digunakan dalam hal Penyidik memerlukan pemeriksaan Tersangka, Saksi, atau Korban yang harus mendapatkan penanganan atau perlakuan fisik secara khusus;
psikologi forensik, digunakan dalam hal Penyidik memerlukan pemeriksaan Tersangka, Saksi, atau Korban yang harus mendapatkan penanganan atau perlakuan psikis secara khusus;
digital forensik, digunakan dalam hal Penyidik memerlukan pemeriksaan dan pengujian barang bukti digital yang harus mendapat penanganan atau perlakuan secara khusus; dan
bantuan teknis lain yang dibutuhkan.
(2)
Bantuan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.
(3)
Dalam melaksanakan bantuan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat meminta bantuan teknis dari instansi atau lembaga lain.
Pasal 57
Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis
Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 55 dan
Pasal 56 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Ketujuh - Koordinasi antara Penyidik dan Penuntut Umum
Pasal 58
Penanganan setiap tindak pidana dilaksanakan oleh
Penyidik dengan melibatkan
Penuntut Umum dengan cara berkoordinasi sesuai dengan kewenangan masing-masing dalam kerangka sistem peradilan pidana terpadu.
Pasal 59
(1)
Koordinasi antara
Penyidik dan
Penuntut Umum dalam penanganan setiap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 58 dilakukan secara setara, saling melengkapi, dan saling mendukung.
(3)
Koordinasi antara
Penyidik dan
Penuntut Umum dapat dilakukan dengan menggunakan sarana teknologi informasi.
(4)
Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sebelum dan setelah hasil
Penyidikan dikirimkan
Penyidik kepada
Penuntut Umum serta wajib dituangkan dalam berita acara.
(5)
Koordinasi yang dilakukan setelah hasil
Penyidikan dikirimkan
Penyidik kepada Penuntut Umum, hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam setiap perkara.
(6)
Pendapat
Penuntut Umum dalam penelitian berkas perkara meliputi aspek formal dan aspek materiel.
(7)
Pemberitahuan lengkapnya berkas perkara yang diajukan Penyidik, dituangkan dalam surat pemberitahuan yang ditandatangani oleh kepala kejaksaan negeri selaku penanggung jawab
Penuntutan di wilayah hukum yang bersangkutan.
Pasal 60
(2)
Dalam waktu paling lama 3 (tiga)
Hari sejak surat pemberitahuan dimulainya
Penyidikan diterima kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Penyidik berkoordinasi dengan
Penuntut Umum yang ditunjuk untuk mengikuti perkembangan
Penyidikan .
(3)
Dalam berjalannya Penyidikan,
Penyidik dapat berkoordinasi dengan
Penuntut Umum dalam melengkapi berkas perkara, perpanjangan Penahanan, dan/atau pemberitahuan penghentian
Penyidikan .
Pasal 61
(2)
Dalam hal
Penuntut Umum menilai berkas perkara yang diterima dari
Penyidik belum lengkap,
Penuntut Umum mengembalikan berkas perkara kepada
Penyidik disertai dengan petunjuk mengenai hal yang harus dilengkapi berdasarkan hasil koordinasi.
(3)
Penyidik wajib melengkapi berkas perkara melalui
Penyidikan tambahan sesuai hasil koordinasi dengan
Penuntut Umum dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari terhitung sejak tanggal diterimanya pengembalian berkas perkara dari
Penuntut Umum .
Pasal 62
(2)
Penyidik melengkapi berkas perkara dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari untuk menindaklanjuti berkas perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) and mengundang
Penuntut Umum untuk melakukan gelar perkara yang dihadiri oleh Penyidik, pengawas Penyidik, Penuntut Umum, pengawas Penuntut Umum, and
Ahli .
(3)
Dalam hal hasil gelar perkara MEMUTUSKAN status perkara dihentikan,
Penyidik wajib mengeluarkan surat ketetapan penghentian
Penyidikan dengan memberitahukan surat penghentian
Penyidikan kepada
Penuntut Umum .
(4)
Dalam hal hasil gelar perkara MEMUTUSKAN status berkas perkara lengkap,
Penyidik mengirim kembali berkas perkara kepada
Penuntut Umum untuk dinyatakan sebagai berkas perkara yang lengkap and selanjutnya dilakukan
Penuntutan .
(6)
Dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari setelah menerima berkas perkara dari
Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
Penuntut Umum menentukan perkara dilanjutkan atau tidak dilanjutkan ke persidangan.
Pasal 63
BAB III - PENUNTUTAN
Bagian Kesatu - Penuntut Umum
Pasal 64
Penuntut Umum terdiri atas:
pejabat Kejaksaan Republik Indonesia; and
pejabat suatu lembaga yang diberi kewenangan untuk melakukan Penuntutan berdasarkan ketentuan Undang-Undang.
Huruf b
Pejabat suatu lembaga yang dimaksud juga berstatus sebagai Jaksa . Sebagai contoh dalam pemberantasan tindak pidana korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang kewenangan Penyidikan dan Penuntutan ada pada lembaga tersebut, namun yang melakukan Penuntutan adalah Jaksa yang ada pada KPK atas dasar kuasa Jaksa Agung. Demikian pula di kemudian hari jika ada lembaga khusus yang diberi kewenangan Penuntutan pidana hanya dapat dilakukan Jaksa pada lembaga tersebut atas dasar kuasa Jaksa Agung sebagai Penuntut Umum tertinggi dan sebagai pengejawantahan sistem Penuntutan terpadu (single prosecution system).
Pasal 65
Penuntut Umum mempunyai wewenang:
menerima and memeriksa berkas perkara Penyidikan dari Penyidik ;
melakukan koordinasi antara Penyidik and Penuntut Umum untuk kepentingan melengkapi hasil Penyidikan ;
memberikan perpanjangan Penahanan, melakukan Penahanan atau Penahanan lanjutan, and/atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh Penyidik ;
membuat surat dakwaan;
melimpahkan perkara and melakukan Penuntutan ke pengadilan;
melakukan penghentian Penuntutan dengan memberitahukan kepada Penyidik ;
menyampaikan pemberitahuan kepada Terdakwa mengenai ketentuan waktu and tempat perkara disidangkan and disertai surat panggilan kepada Terdakwa and Saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan;
melaksanakan penetapan and/atau putusan Hakim pengadilan negeri, Hakim pengadilan tinggi, atau Hakim Mahkamah Agung;
melakukan penyelesaian denda damai;
melakukan penyelesaian perkara melalui mekanisme Keadilan Restoratif ;
melakukan Perjanjian Penundaan Penuntutan ;
menerima Pengakuan Bersalah; and
menutup perkara demi kepentingan hukum.
Pasal 66
(1)
Denda damai sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 65 huruf i merupakan mekanisme penghentian perkara di luar pengadilan dengan membayar denda yang disetujui oleh
Jaksa Agung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan denda damai diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Ayat (1)
Denda damai digunakan pada tindak pidana ekonomi, antara lain, tindak pidana perpajakan, tindak pidana kepabeanan, atau tindak pidana ekonomi lainnya berdasarkan Undang-Undang.
Pasal 67
(1)
Penuntut Umum menuntut perkara tindak pidana yang terjadi dalam daerah hukumnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
(2)
Dalam hal tertentu,
Penuntut Umum dapat menuntut perkara tindak pidana di luar daerah hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)
Untuk melaksanakan
Penuntutan perkara di luar daerah hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penuntut Umum harus mendapatkan surat pengangkatan sementara dari
Jaksa Agung sebagai
Jaksa di daerah hukum
Penuntutan dilaksanakan.
Ayat (2)
Ketentuan ini diartikan bahwa setiap Penuntut Umum diangkat untuk wilayah hukum kejaksaan negeri. Apabila ada Jaksa dari luar wilayah hukum kejaksaan negeri yang bersangkutan atau dari Kejaksaan Tinggi atau dari Kejaksaan Agung yang akan melakukan Penuntutan di suatu wilayah kejaksaan negeri tertentu, maka harus ada surat pengangkatan sementara dari Jaksa Agung sebagai Jaksa di tempat itu.
Pasal 68
Penuntut Umum dalam melaksanakan tugas, fungsi, and kewenangannya melampaui atau melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan atau kode etik dikenai sanksi administratif, sanksi etik, atau sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua - Penuntutan
Pasal 69
Pasal 70
Pasal 71
(2)
Gugurnya kewenangan
Penuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika:
terdapat Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap Terdakwa atas perkara yang sama;
kedaluwarsa;
Terdakwa meninggal dunia;
ditariknya Pengaduan bagi tindak pidana aduan;
Terdakwa membayar maksimum pidana denda atas tindak pidana yang hanya diancam dengan pidana denda paling banyak kategori II;
Terdakwa membayar maksimum pidana denda kategori IV atas tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak kategori III;
tercapainya penyelesaian perkara melalui mekanisme Keadilan Restoratif ; atau
diberikannya amnesti atau abolisi.
(3)
Isi surat ketetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan kepada
Tersangka and jika
Tersangka ditahan, wajib segera dibebaskan.
(4)
Salinan surat ketetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan kepada Tersangka, Keluarganya, atau Advokat, pejabat rumah tahanan negara, Penyidik, and
Hakim .
Pasal 72
(1)
Apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan
Penuntut Umum menerima beberapa perkara,
Penuntut Umum dapat melakukan penggabungan perkara and membuatnya dalam 1 (satu) surat dakwaan, dalam hal:
beberapa tindak pidana dilakukan oleh seseorang yang sama and kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya;
beberapa tindak pidana bersangkut paut satu dengan yang lain; atau
beberapa tindak pidana ada hubungannya satu dengan yang lain and penggabungan tersebut diperlukan untuk kepentingan pemeriksaan.
(2)
Beberapa tindak pidana dapat dituntut dalam 1 (satu) surat dakwaan tanpa memperhatikan gabungan dari pidana umum atau khusus atau ditetapkan oleh Undang-Undang khusus sepanjang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kecuali dalam kompetensi pengadilan khusus.
Ayat (1)
Huruf b
Yang dimaksud dengan "tindak pidana bersangkut paut satu dengan yang lain" adalah jika tindak pidana tersebut dilakukan oleh:
lebih dari seorang yang bekerja sama dan dilakukan pada saat bersamaan;
lebih dari seorang pada saat dan tempat yang berbeda, akan tetapi merupakan pelaksanaan dari permufakatan jahat yang dibuat oleh mereka sebelumnya; dan/atau
seorang atau lebih dengan maksud mendapat alat yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana lain atau menghindarkan diri dari pemidanaan.
Pasal 73
(2)
Saksi mahkota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan keringanan dari tuntutan pidana, jika saksi mahkota membantu mengungkapkan keterlibatan
Tersangka atau
Terdakwa lain yang patut dipidana dalam perkara yang sama.
Pasal 74
(1)
Dalam hal
Tersangka yang akan dijadikan sebagai saksi mahkota menerima untuk melakukan negosiasi kesepakatan saksi mahkota,
Penuntut Umum memanggil
Tersangka yang akan dijadikan sebagai saksi mahkota beserta Advokatnya untuk membahas isi kesepakatan dari perjanjian saksi mahkota.
(2)
Kesepakatan perjanjian saksi mahkota dibuat secara tertulis yang ditandatangani oleh Penuntut Umum, calon saksi mahkota, and Advokatnya, yang memuat isi kesepakatan sebagai berikut:
keterangan yang akan diungkapkan dalam persidangan Terdakwa pada persidangan lain;
syarat pemberian keterangan yang wajib dipatuhi oleh saksi mahkota;
pasal tindak pidana yang akan dituntut oleh Penuntut Umum kepada saksi mahkota; and
imbalan serta jaminan yang wajib diberikan oleh Penuntut Umum .
(3)
Imbalan serta jaminan yang diberikan oleh
Penuntut Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d hanya dapat berupa:
jaminan untuk tidak menuntut pidana mati atau pidana penjara seumur hidup;
jaminan untuk mengurangi ancaman tuntutan penjara sampai dengan 2/3 (dua pertiga) dari maksimal ancaman hukuman terhadap pasal yang dituntut; and/atau
jaminan untuk menuntut pidana pengawasan atau denda, jika ancaman hukuman dari pasal yang disangkakan kurang dari 7 (tujuh) tahun.
(4)
Penuntut Umum mengajukan permohonan kepada ketua pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari terhitung sejak tercapainya kesepakatan.
(5)
Dalam hal kesepakatan tidak tercapai,
Penuntut Umum wajib memastikan bahwa keterangan yang telah diberikan oleh
Tersangka yang diajukan sebagai saksi mahkota pada tahap negosiasi kesepakatan tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti pada pemeriksaan di sidang pengadilan.
Pasal 75
(1)
Penuntut Umum melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan permintaan agar
Mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari .
(2)
Penuntut Umum membuat surat dakwaan yang berisi:
tanggal penandatanganan, nama lengkap, tempat lahir, umur and tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, and pekerjaan Tersangka ;
uraian secara cermat, jelas, and lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu and tempat tindak pidana dilakukan;
pasal Undang-Undang yang dilanggar; and
tanda tangan Penuntut Umum .
(3)
Surat dakwaan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b batal demi hukum.
(4)
Dalam hal surat dakwaan batal demi hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
Hakim memberikan kesempatan 1 (satu) kali kepada
Penuntut Umum untuk memperbaiki and mengajukan kembali surat dakwaan kepada pengadilan negeri.
(5)
Dalam hal surat dakwaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) masih diajukan keberatan oleh
Terdakwa atau Advokatnya,
Hakim memeriksa and memutus keberatan tersebut bersama dengan pokok perkara dalam putusan akhir.
(6)
Salinan surat pelimpahan perkara beserta surat dakwaan disampaikan kepada Penyidik, Tersangka, dan
Advokat pada saat yang bersamaan dengan penyampaian surat pelimpahan perkara tersebut ke pengadilan negeri.
Pasal 76
(1)
Penuntut Umum dapat menyempurnakan surat dakwaan atau tidak melanjutkan
Penuntutan sebelum pengadilan menetapkan hari sidang.
(2)
Penyempurnaan surat dakwaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan 1 (satu) kali paling lambat 7 (tujuh)
Hari sebelum tanggal sidang dimulai.
Pasal 77
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan
Penuntutan dibebankan kepada negara.
Bagian Ketiga - Pengakuan Bersalah
Pasal 78
(1)
Pengakuan Bersalah hanya dapat diterapkan dengan persyaratan:
baru pertama kali melakukan tindak pidana;
terhadap tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V; dan/atau
bersedia membayar Ganti Rugi atau Restitusi .
(3)
Dalam hal
Terdakwa mengaku bersalah,
Terdakwa wajib didampingi oleh
Advokat dan pengakuan tersebut dinyatakan dalam berita acara.
(4)
Pengakuan Bersalah diajukan dalam sidang tertentu sebelum persidangan pokok perkara dimulai.
(5)
Persidangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan oleh
Hakim tunggal.
(7)
Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) memuat sebagai berikut:
Terdakwa mengetahui konsekuensi dari Pengakuan Bersalahnya, termasuk pengabaian hak diam dan hak untuk diadili dengan acara pemeriksaan biasa;
pengakuan dilakukan secara sukarela;
pasal yang didakwa dan ancaman hukuman yang akan dituntut kepada Terdakwa sebelum Pengakuan Bersalah dilakukan;
hasil perundingan antara Penuntut Umum, Terdakwa, dan Advokat, termasuk alasan pengurangan masa hukuman Terdakwa ;
pernyataan bahwa perjanjian Pengakuan Bersalah mengikat bagi para pihak yang menyetujui dan berlaku seperti Undang-Undang; dan
bukti dilakukannya tindak pidana oleh Terdakwa untuk memastikan Terdakwa melakukan tindak pidana.
(8)
Hakim wajib menilai Pengakuan Bersalah dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan, dan dengan pemahaman penuh dari
Terdakwa .
(9)
Dalam hal
Hakim menerima Pengakuan Bersalah, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan acara singkat.
(10)
Dalam hal
Hakim menolak Pengakuan Bersalah, perkara dilanjutkan sesuai dengan prosedur pemeriksaan dengan acara biasa.
(11)
Setiap pelaksanaan Pengakuan Bersalah harus dicatat dalam berita acara dan menjadi bagian dari berkas perkara.
(12)
Dalam hal
Hakim memperoleh keyakinan bahwa Pengakuan Bersalah dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (11) dan didukung dengan 2 (dua) alat bukti yang sah,
Hakim memberikan putusan sesuai dengan kesepakatan dalam berita acara.
BAB IV - MEKANISME KEADILAN RESTORATIF
Bagian Kesatu - Umum
Pasal 79
(1)
Mekanisme
Keadilan Restoratif dilakukan untuk memulihkan keadaan semula yang berupa:
pemaafan dari Korban dan/atau Keluarganya;
pengembalian barang yang diperoleh dari tindak pidana kepada Korban ;
penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis;
ganti rugi atas kerugian lain yang diderita Korban sebagai akibat tindak pidana yang dialami Korban ;
memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dari akibat tindak pidana yang dialami Korban ; atau
membayar ganti rugi yang ditimbulkan dari akibat tindak pidana.
(2)
Pemulihan keadaan semula sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dituangkan dalam kesepakatan.
(3)
Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari .
(4)
Pencabutan
Laporan atau
Pengaduan hanya dapat dilakukan setelah pelaku memenuhi seluruh kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(5)
Setelah seluruh kesepakatan terlaksana, perkara wajib dihentikan dan dimintakan penetapan pengadilan.
(6)
Apabila kesepakatan tidak dilaksanakan oleh pelaku sampai dengan berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
Penyidik wajib membuat berita acara pelaksanaan mekanisme
Keadilan Restoratif yang memuat:
identitas para pihak;
isi kesepakatan;
bukti pelaksanaan sebagian atau seluruh kesepakatan; dan
alasan tidak dipenuhinya kesepakatan oleh Pelaku.
(7)
Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (6) menjadi bagian tidak terpisahkan dari berkas perkara sebagai dasar untuk melanjutkan proses peradilan.
Pasal 80
(1)
Mekanisme
Keadilan Restoratif dapat dikenakan terhadap tindak pidana yang memenuhi syarat sebagai berikut:
tindak pidana diancam hanya dengan pidana denda paling banyak kategori III atau diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun;
tindak pidana yang pertama kali dilakukan; dan/atau
bukan merupakan pengulangan tindak pidana, kecuali terhadap tindak pidana yang putusannya berupa pidana denda atau tindak pidana yang dilakukan karena kealpaan.
(2)
Dalam hal belum terdapat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berdasarkan laporan
Korban dilakukan mekanisme
Keadilan Restoratif pada tahap
Penyelidikan berupa kesepakatan damai antara pelaku dan
Korban .
Pasal 81
(1)
Mekanisme
Keadilan Restoratif dilakukan melalui:
permohonan yang diajukan oleh pelaku tindak pidana, Tersangka, Terdakwa, atau Keluarganya, dan/atau Korban tindak pidana atau Keluarganya; atau
penawaran dari Penyelidik, Penyidik, Penuntut Umum, atau Hakim kepada Korban, pelaku tindak pidana, Tersangka, atau Terdakwa .
(2)
Mekanisme
Keadilan Restoratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan tanpa tekanan, paksaan, intimidasi, tipu daya, ancaman kekerasan, kekerasan, penyiksaan, dan tindakan yang merendahkan kemanusian terhadap Tersangka, Terdakwa, Korban, dan/atau Keluarganya.
Pasal 82
Mekanisme
Keadilan Restoratif dikecualikan untuk:
tindak pidana terhadap keamanan negara, tindak pidana terhadap negara sahabat, kepala negara sahabat serta wakilnya, tindak pidana ketertiban umum, dan tindak pidana kesusilaan;
tindak pidana terorisme;
tindak pidana korupsi;
tindak pidana kekerasan seksual;
tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali karena kealpaannya;
tindak pidana terhadap nyawa orang;
tindak pidana yang diancam dengan pidana minimum khusus;
tindak pidana tertentu yang sangat membahayakan atau merugikan masyarakat; dan/atau
tindak pidana narkotika kecuali yang berstatus sebagai pengguna atau penyalahguna.
Bagian Kedua - Mekanisme Keadilan Restoratif pada Tahap Penyelidikan dan Penyidikan
Pasal 83
(2)
Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan surat kesepakatan penyelesaian perkara dan ditandatangani oleh pelaku, Korban, dan
Penyelidik atau
Penyidik .
(3)
Berdasarkan surat kesepakatan penyelesaian perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penyelidik menerbitkan surat penghentian
Penyelidikan .
(4)
Berdasarkan surat kesepakatan penyelesaian perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penyidik menerbitkan surat penghentian
Penyidikan .
Pasal 84
Bagian Ketiga - Mekanisme Keadilan Restoratif pada Tahap Penuntutan
Pasal 85
(2)
Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan surat kesepakatan penyelesaian perkara dan ditandatangani oleh Tersangka, Korban, dan
Penuntut Umum .
(3)
Berdasarkan surat kesepakatan penyelesaian perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penuntut Umum menerbitkan surat ketetapan penghentian
Penuntutan .
Pasal 86
(1)
Surat ketetapan penghentian
Penuntutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 85 ayat (3) dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari dimintakan penetapan kepada ketua pengadilan negeri.
(2)
Penetapan ketua pengadilan negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan oleh
Penuntut Umum kepada
Penyidik .
Bagian Keempat - Mekanisme Keadilan Restoratif pada Tahap Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
Pasal 87
Pasal 88
BAB V - UPAYA PAKSA
Bagian Kesatu - Umum
Pasal 89
Bagian Kedua - Penetapan Tersangka
Pasal 90
(5)
Dalam hal
Tersangka merupakan warga negara asing, surat
Penetapan Tersangka sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diberitahukan kepada perwakilan negaranya.
Pasal 91
Dalam melakukan Penetapan Tersangka,
Penyidik dilarang melakukan perbuatan yang menimbulkan praduga bersalah.
Pasal 92
Dalam melakukan pencarian Tersangka,
Penyidik dapat meminta bantuan media dan masyarakat untuk memberikan informasi mengenai keberadaan
Tersangka tersebut.
Bagian Ketiga - Penangkapan
Pasal 93
(4)
Penangkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan bagi
Penyidik di Kejaksaan Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Pasal 94
Penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana berdasarkan minimal 2 (dua) alat bukti.
Pasal 95
Pasal 96
Penangkapan dilakukan paling lama 1x24 (satu kali dua puluh empat) jam, kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang.
Pasal 97
(1)
Penangkapan tidak dapat dilakukan terhadap
Tersangka yang disangka melakukan tindak pidana yang ancaman pidananya hanya pidana denda paling banyak kategori II.
(2)
Dalam hal
Tersangka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memenuhi panggilan
Penyidik secara sah 2 (dua) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah,
Penangkapan dapat dilakukan.
Pasal 98
Dalam hal
Penangkapan dilakukan terhadap seorang Hakim,
Penangkapan harus berdasarkan izin Ketua Mahkamah Agung.
Bagian Keempat - Penahanan
Pasal 99
(4)
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan bagi
Penyidik di Kejaksaan Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
(6)
Untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan,
Hakim dengan penetapannya berwenang melakukan
Penahanan .
Pasal 100
(1)
Penahanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 99 hanya dapat dilakukan berdasarkan surat perintah
Penahanan atau penetapan
Hakim terhadap
Tersangka atau
Terdakwa yang melakukan tindak pidana atau melakukan percobaan atau pembantuan melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
(2)
Penahanan juga dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang diatur dalam
Pasal 213 ,
Pasal 240 ayat (2) ,
Pasal 241 ayat (2) ,
Pasal 242 ,
Pasal 243 ayat (1) ,
Pasal 244 ,
Pasal 247 ,
Pasal 250 ayat (1) ,
Pasal 252 ,
Pasal 263 ayat (2) ,
Pasal 264 ,
Pasal 300 ,
Pasal 302 ,
Pasal 303 ayat (2) ,
Pasal 304 ,
Pasal 305 ayat (1) ,
Pasal 347 ,
Pasal 420 ,
Pasal 421 ,
Pasal 425 ,
Pasal 448 ayat (1) dan
(2)
,
Pasal 462 ,
Pasal 466 ayat (1) ,
Pasal 467 ayat (1) ,
Pasal 472 ,
Pasal 483 ,
Pasal 486 ,
Pasal 492 ,
Pasal 496 ,
Pasal 527 ,
Pasal 553 ayat (1) huruf a dan huruf b,
Pasal 569 ayat (1) , dan
Pasal 591 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
(4)
Dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari terhitung sejak Penahanan, tembusan surat perintah
Penahanan atau penetapan
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus diberikan kepada:
Keluarga atau wali Tersangka atau Terdakwa ;
orang yang ditunjuk oleh Tersangka atau Terdakwa ; dan/atau
komandan kesatuan Tersangka atau Terdakwa, dalam hal Tersangka atau Terdakwa yang ditahan adalah anggota Tentara Nasional Indonesia karena melakukan tindak pidana umum.
(5)
Penahanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 99 , dilakukan terhadap
Tersangka atau
Terdakwa yang diduga melakukan tindak pidana berdasarkan minimal 2 (dua) alat bukti yang sah jika
Tersangka atau
Terdakwa :
mengabaikan panggilan Penyidik sebanyak 2 (dua) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah;
memberikan informasi tidak sesuai fakta pada saat pemeriksaan;
menghambat proses pemeriksaan;
berupaya melarikan diri;
berupaya merusak dan menghilangkan barang bukti;
melakukan ulang tindak pidana;
terancam keselamatannya atas persetujuan atau permintaan Tersangka atau Terdakwa ; dan/atau
mempengaruhi Saksi untuk tidak mengatakan kejadian sebenarnya.
Pasal 101
Dalam hal
Penahanan dilakukan terhadap seorang Hakim,
Penahanan harus berdasarkan izin Ketua Mahkamah Agung.
Pasal 102
(2)
Apabila jangka waktu
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui,
Penyidik dapat mengajukan permohonan perpanjangan
Penahanan kepada
Penuntut Umum untuk jangka waktu paling lama 40 (empat puluh)
Hari .
(3)
Apabila jangka waktu 40 (empat puluh)
Hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlampaui,
Penyidik wajib mengeluarkan
Tersangka dari tahanan.
Pasal 103
(2)
Apabila jangka waktu
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui,
Penuntut Umum dapat mengajukan permohonan perpanjangan
Penahanan kepada ketua pengadilan negeri untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari .
(3)
Apabila jangka waktu 30 (tiga puluh)
Hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlampaui,
Penuntut Umum wajib mengeluarkan
Tersangka dari tahanan.
Pasal 104
(1)
Hakim pengadilan negeri yang
Mengadili perkara dengan penetapannya dapat melakukan
Penahanan untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 99 ayat (6) untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari .
(2)
Apabila jangka waktu
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui,
Hakim pengadilan negeri mengajukan permohonan perpanjangan
Penahanan kepada ketua pengadilan negeri untuk jangka waktu paling lama 60 (enam puluh)
Hari .
(3)
Apabila jangka waktu 60 (enam puluh)
Hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlampaui,
Hakim pengadilan negeri wajib mengeluarkan
Tersangka dari tahanan.
Pasal 105
(1)
Hakim pengadilan tinggi yang
Mengadili perkara untuk kepentingan pemeriksaan perkara banding berwenang mengeluarkan penetapan
Penahanan untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari .
(2)
Apabila jangka waktu
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui,
Hakim pengadilan tinggi mengajukan permohonan perpanjangan
Penahanan kepada ketua pengadilan tinggi untuk jangka waktu paling lama 60 (enam puluh)
Hari .
(3)
Apabila jangka waktu 60 (enam puluh)
Hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlampaui,
Hakim pengadilan tinggi wajib mengeluarkan
Tersangka dari tahanan.
Pasal 106
(1)
Untuk kepentingan pemeriksaan kasasi,
Hakim agung berwenang mengeluarkan penetapan
Penahanan untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari .
(2)
Apabila jangka waktu
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui,
Penahanan dapat diperpanjang oleh Ketua Mahkamah Agung untuk jangka waktu paling lama 60 (enam puluh)
Hari .
(3)
Apabila jangka waktu 60 (enam puluh)
Hari sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terlampaui,
Hakim agung wajib mengeluarkan
Tersangka dari tahanan.
Pasal 107
(1)
Jangka waktu
Penahanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 102 sampai dengan
Pasal 106 dapat diperpanjang kembali berdasarkan alasan yang patut untuk kepentingan pemeriksaan
Tersangka atau
Terdakwa karena:
Tersangka atau Terdakwa menderita gangguan fisik atau mental yang berat, yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter; atau
perkara yang sedang diperiksa diancam dengan pidana penjara 9 (sembilan) tahun atau lebih.
(2)
Perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari dan dalam hal
Penahanan tersebut masih diperlukan, dapat diperpanjang kembali untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari .
(3)
Perpanjangan
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan permintaan dan laporan pemeriksaan pada tahap:
Penyidikan dan Penuntutan diberikan oleh ketua pengadilan negeri;
pemeriksaan di pengadilan negeri diberikan oleh ketua pengadilan tinggi;
pemeriksaan banding diberikan oleh Ketua Mahkamah Agung; atau
pemeriksaan kasasi diberikan oleh Ketua Mahkamah Agung.
(4)
Penggunaan kewenangan perpanjangan
Penahanan oleh pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan secara bertahap dan dengan penuh tanggungjawab.
(5)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menutup kemungkinan dikeluarkannya
Tersangka atau
Terdakwa dari tahanan sebelum berakhir waktu Penahanan, jika kepentingan pemeriksaan sudah dipenuhi.
(6)
Setelah jangka waktu 60 (enam puluh) Hari, walaupun perkara tersebut belum selesai diperiksa atau belum diputus,
Tersangka atau
Terdakwa harus sudah dikeluarkan dari tahanan demi hukum.
(7)
Terhadap perpanjangan
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Tersangka atau
Terdakwa dapat mengajukan keberatan pada tahap:
Penyidikan dan Penuntutan kepada ketua pengadilan tinggi; atau
pemeriksaan pengadilan negeri dan pemeriksaan banding kepada Ketua Mahkamah Agung.
(8)
Terhadap perpanjangan
Penahanan pada tingkat pemeriksaan kasasi sebagaimana dimaksud ayat (3) huruf d,
Terdakwa tidak dapat mengajukan keberatan karena Mahkamah Agung merupakan peradilan tingkat terakhir dan yang melakukan pengawasan tertinggi terhadap perbuatan pengadilan lain.
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "gangguan fisik atau mental yang berat" adalah keadaan Tersangka atau Terdakwa yang tidak memungkinkan untuk diperiksa karena alasan fisik atau mental.
Pasal 108
(1)
Jenis
Penahanan terdiri atas:
penahanan rumah tahanan negara;
penahanan rumah; dan
penahanan kota.
(2)
Penahanan rumah tahanan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan di rumah tahanan negara.
(3)
Rumah tahanan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemasyarakatan yang ada di kabupaten/kota di wilayah hukum pengadilan negeri yang menetapkan
Penahanan atau pengadilan negeri yang
Mengadili perkara.
(4)
Dalam hal tidak terdapat rumah tahanan negara pada kabupaten/kota sebagaimana dimaksud ayat (1),
Penahanan dilaksanakan di rumah tahanan lain yang dikelola oleh:
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemasyarakatan; atau
institusi penegak hukum yang memiliki kewenangan melakukan Penahanan berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemasyarakatan, yang ada pada kabupaten/kota terdekat.
(5)
Penahanan rumah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilaksanakan di rumah tempat tinggal atau rumah kediaman
Tersangka atau
Terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam Penyidikan, Penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
(6)
Penahanan kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman
Tersangka atau Terdakwa, dengan kewajiban bagi
Tersangka atau
Terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan.
(8)
Pengurangan pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disepadankan dengan penghitungan pidana penjara pengganti denda.
(9)
Untuk penahanan rumah, pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) sebanyak 1/3 (satu per tiga) dari jumlah waktu
Penahanan .
(10)
Untuk penahanan kota, pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) sebanyak 1/5 (satu per lima) dari jumlah waktu
Penahanan .
(11)
Jenis
Penahanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dialihkan berdasarkan surat perintah Penyidikan,
Penuntut Umum atau penetapan
Hakim yang tembusannya diberikan kepada
Tersangka atau Terdakwa,
Keluarga Tersangka atau Terdakwa, dan instansi yang berkepentingan.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan "rumah tahanan lain", antara lain, cabang rumah tahanan di Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, cabang rumah tahanan di kepolisian, dan cabang rumah tahanan di kejaksaan.
Pasal 109
(2)
Lamanya
Tersangka atau
Terdakwa dalam tahanan tidak boleh melebihi ancaman pidana maksimum.
Pasal 110
(1)
Atas permintaan
Tersangka atau Terdakwa, penangguhan
Penahanan dapat diberikan oleh Penyidik, Penuntut Umum, atau
Hakim sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(2)
Penangguhan
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan atau tanpa jaminan uang atau jaminan orang berdasarkan syarat yang ditentukan.
(3)
Jaminan orang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan oleh
Keluarga Tersangka atau Terdakwa, Advokat, atau orang lain yang tidak mempunyai hubungan apapun dengan
Tersangka atau
Terdakwa sepanjang bersedia dan bertanggung jawab memikul segala risiko dan akibat yang timbul jika tahanan melarikan diri.
(4)
Penyidik, Penuntut Umum, atau
Hakim karena jabatannya sewaktu-waktu dapat mencabut penangguhan
Penahanan dalam hal
Tersangka atau
Terdakwa melanggar syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(5)
Dalam hal
Penuntut Umum mengajukan perlawanan terhadap penangguhan penahanan,
Terdakwa tetap dalam tahanan sampai dengan diterimanya penetapan ketua pengadilan negeri.
(6)
Dalam hal ketua pengadilan negeri menerima perlawanan Penuntut Umum,
Hakim pengadilan negeri wajib mengeluarkan surat perintah
Penahanan kembali dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari terhitung sejak penetapan ketua pengadilan negeri.
(8)
Ketentuan mengenai persyaratan penangguhan
Penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "syarat yang ditentukan", antara lain, wajib lapor atau tidak keluar rumah atau kota. Masa penangguhan Penahanan dari seorang Tersangka atau Terdakwa tidak termasuk masa status tahanan.
Pasal 111
(1)
Apabila pada masa
Penahanan Tersangka atau
Terdakwa di tahap Penyidikan, Penuntutan, dan/atau pemeriksaan di sidang pengadilan menderita sakit dan dirawat di rumah sakit,
Tersangka atau
Terdakwa dilakukan pembantaran.
(2)
Masa pembantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dihitung sebagai masa
Penahanan .
(3)
Selama pembantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Tersangka atau
Terdakwa berada dalam pengawasan Penyidik, Penuntut Umum, atau
Hakim sesuai dengan tahap pemeriksaan.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat, tata cara, dan pengawasan pembantaran
Tersangka atau
Terdakwa diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Kelima - Penggeledahan
Pasal 112
Pasal 113
(2)
Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai uraian mengenai:
lokasi yang akan digeledah; dan
dasar atau fakta yang dipercaya bahwa dalam lokasi tersebut terdapat barang bukti yang terkait dengan tindak pidana.
(3)
Dalam melakukan Penggeledahan,
Penyidik hanya dapat melakukan pemeriksaan dan/atau
Penyitaan barang bukti yang terkait dengan tindak pidana.
(5)
Keadaan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi:
letak geografis yang susah dijangkau;
Tertangkap Tangan ;
berpotensi berupaya merusak dan menghilangkan barang bukti; dan/atau
situasi berdasarkan penilaian Penyidik .
(6)
Dalam keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
Penyidik paling lama 2x24 (dua kali dua puluh empat) jam meminta persetujuan kepada ketua pengadilan negeri setelah dilakukan
Penggeledahan .
(7)
Ketua pengadilan negeri dalam waktu paling lama 2x24 (dua kali dua puluh empat) jam setelah
Penyidik meminta persetujuan
Penggeledahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) mengeluarkan penetapan.
(8)
Dalam hal ketua pengadilan negeri menolak untuk memberikan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), penolakan harus disertai dengan alasan.
(9)
Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) mengakibatkan hasil
Penggeledahan tidak dapat dijadikan alat bukti.
Ayat (1)
Keharusan untuk mengajukan izin terlebih dahulu kepada ketua pengadilan negeri dimaksudkan untuk menjamin hak pribadi seseorang atas rumah kediamannya.
Ayat (3)
Jika yang melakukan Penggeledahan rumah itu bukan Penyidik sendiri, maka petugas kepolisian lainnya harus dapat menunjukkan selain surat izin ketua pengadilan negeri, juga surat perintah tertulis dari Penyidik .
Pasal 114
(1)
Penyidik wajib menunjukkan surat tugas dan surat izin
Penggeledahan dari ketua pengadilan negeri kepada
Tersangka atau pemilik/penghuni rumah atau bangunan.
(3)
Dalam hal
Tersangka atau pemilik/penghuni menolak untuk dilakukan
Penggeledahan atau tidak berada di tempat,
Penggeledahan harus disaksikan oleh kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun warga/ rukun tetangga dan 2 (dua) orang saksi.
(4)
Setelah melakukan
Penggeledahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penyidik membuat berita acara
Penggeledahan rumah atau bangunan yang ditandatangani oleh Penyidik,
Tersangka atau pemilik/penghuni rumah atau bangunan, dan saksi.
(5)
Setelah melakukan
Penggeledahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
Penyidik membuat berita acara
Penggeledahan rumah atau bangunan yang ditandatangani oleh Penyidik, kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun warga/ rukun tetangga, dan saksi.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "2 (dua) orang saksi" adalah warga dari lingkungan yang bersangkutan.
Pasal 115
Penyidik dilarang melakukan
Penggeledahan pada:
ruang yang di dalamnya sedang berlangsung sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
ruang yang di dalamnya sedang berlangsung ibadah dan/ atau upacara keagamaan; atau
ruang yang di dalamnya sedang berlangsung sidang pengadilan.
Pasal 116
Pasal 117
(1)
Pada waktu menangkap Tersangka,
Penyelidik hanya berwenang menggeledah pakaian termasuk benda yang dibawanya serta apabila terdapat dugaan dengan alasan yang cukup bahwa pada
Tersangka terdapat benda yang dapat disita.
(2)
Pada waktu menangkap
Tersangka atau dalam hal
Tersangka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibawa kepada Penyidik,
Penyidik berwenang menggeledah pakaian dan/atau menggeledah badan
Tersangka .
Ayat (2)
Penggeledahan badan dalam ketentuan ini meliputi pemeriksaan rongga badan. Penggeledahan yang dilakukan terhadap wanita, dilaksanakan oleh pejabat wanita. Dalam hal Penyidik berpendapat perlu dilakukan pemeriksaan rongga badan, Penyidik dapat meminta bantuan kepada pejabat kesehatan.
Bagian Keenam - Penyitaan
Pasal 118
Pasal 119
(1)
Sebelum melakukan Penyitaan,
Penyidik mengajukan permohonan izin kepada ketua pengadilan negeri tempat keberadaan benda tersebut.
(2)
Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memuat informasi lengkap mengenai benda yang akan disita minimal meliputi:
jenis;
jumlah dan nilai barang;
lokasi; dan
alasan Penyitaan .
(3)
Ketua pengadilan negeri wajib meneliti secara cermat permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari terhitung sejak permohonan izin diajukan.
(4)
Ketua pengadilan negeri dapat meminta informasi tambahan dari
Penyidik mengenai benda yang akan disita sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(5)
Ketua pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari terhitung sejak penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib mengeluarkan penetapan persetujuan atau penolakan.
Pasal 120
(1)
Dalam keadaan mendesak,
Penyidik dapat melakukan
Penyitaan tanpa izin ketua pengadilan negeri hanya atas benda bergerak dan untuk itu dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja wajib meminta persetujuan kepada ketua pengadilan negeri.
(2)
Keadaan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
letak geografis yang susah dijangkau;
Tertangkap Tangan ;
Tersangka berpotensi berupaya merusak dan menghilangkan barang bukti secara nyata;
benda atau aset tersebut mudah dipindahkan;
adanya ancaman serius terhadap keamanan nasional atau nyawa seseorang yang memerlukan tindakan segera; dan/ atau
situasi berdasarkan penilaian Penyidik .
(3)
Ketua pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak
Penyidik meminta persetujuan
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengeluarkan penetapan persetujuan atau penolakan.
Pasal 121
(1)
Dalam hal ketua pengadilan negeri menolak untuk memberikan izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 119 ayat (5) atau persetujuan
Penyitaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 120 ayat (3) , penetapan penolakan harus disertai dengan alasan.
(2)
Terhadap penetapan penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Penyidik dapat mengajukan kembali permohonan
Penyitaan terhadap benda yang sama kepada ketua pengadilan negeri hanya 1 (satu) kali.
(3)
Penetapan penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan hasil
Penyitaan tidak dapat dijadikan alat bukti.
(4)
Setelah memperoleh penetapan penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Penyidik wajib segera mengembalikan benda yang disita kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda pada saat dilakukan
Penyitaan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari terhitung sejak penetapan penolakan diterima.
Pasal 122
(1)
Penyidik wajib menunjukkan surat perintah
Penyitaan dan surat izin
Penyitaan dari ketua pengadilan negeri kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda tersebut ketika melakukan
Penyitaan .
(2)
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dihadiri oleh 2 (dua) orang saksi.
(3)
Setelah
Penyidik melakukan
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Penyidik wajib membuat berita acara
Penyitaan yang ditandatangani oleh Penyidik, pemilik atau pihak yang menguasai benda yang disita, dan saksi.
(4)
Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari terhitung sejak
Penyitaan selesai dilakukan,
Penyidik memberikan salinan surat perintah
Penyitaan atau surat izin
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda dan kepada ketua pengadilan negeri.
(5)
Dalam hal pemilik atau pihak yang menguasai benda yang disita tidak berada di tempat,
Penyitaan wajib disaksikan oleh kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun warga/rukun tetangga dengan 2 (dua) orang saksi.
(6)
Setelah
Penyidik melakukan
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
Penyidik wajib membuat berita acara
Penyitaan yang ditandatangani oleh Penyidik, kepala desa/lurah atau nama lainnya atau ketua rukun warga/ rukun tetangga, dan saksi.
(7)
Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari terhitung sejak
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) selesai dilakukan,
Penyidik memberikan salinan surat perintah
Penyitaan atau surat izin
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada pemilik atau pihak yang menguasai benda dan kepada ketua pengadilan negeri.
Pasal 123
(1)
Benda yang dapat disita adalah:
benda atau tagihan Tersangka atau Terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana;
benda yang telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya;
benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi Penyidikan tindak pidana;
benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
benda yang tercipta dari suatu tindak pidana; dan/ atau
benda yang diduga merupakan hasil tindak pidana namun pemiliknya tidak diketahui.
(2)
Benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit dapat juga disita untuk kepentingan Penyidikan, Penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)
Nilai keseluruhan dari benda yang disita tidak melebihi nilai kerugian akibat tindak pidana.
(4)
Dalam hal benda sitaan tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ketua pengadilan negeri memerintahkan
Penyidik untuk mengembalikan benda yang disita kepada pemilik dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
Hari .
(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai nilai benda yang dapat disita sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "tagihan", antara lain, rekening koran di bank, giro, bilyet, dan surat berharga.
Pasal 124
(1)
Penyidik dapat melakukan
Penyitaan terhadap benda sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 123 dengan mengajukan izin kepada ketua pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat keberadaan benda tersebut.
(2)
Dalam hal benda yang dimohonkan untuk disita terdapat di beberapa daerah hukum pengadilan negeri,
Penyidik dapat memilih salah satu dari pengadilan negeri tersebut sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)
Dalam hal keadaan daerah tidak memungkinkan suatu Pengadilan Negeri untuk memeriksa permohonan Penyitaan, Mahkamah Agung menetapkan atau menunjuk pengadilan negeri lain yang layak untuk memeriksa permohonan dimaksud.
(4)
Dalam hal benda yang dimohonkan untuk disita berada di luar negeri, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang memeriksa, Mengadili, dan memutus permohonan
Penyitaan tersebut.
Pasal 125
(2)
Ketua pengadilan negeri dalam waktu paling lama 3 (tiga)
Hari memerintahkan panitera untuk mengumumkan permohonan
Penyitaan pada papan pengumuman Pengadilan Negeri dan/atau media lain guna memberikan kesempatan kepada pihak yang merasa berhak atas benda untuk mengajukan keberatan.
(3)
Dalam hal tidak terdapat keberatan terhadap permohonan Penyitaan, ketua pengadilan negeri menunjuk
Hakim tunggal untuk memeriksa, Mengadili, dan memutus permohonan
Penyitaan .
(4)
Berdasarkan permohonan
Penyitaan yang diajukan oleh Penyidik,
Hakim memutus benda tersebut sebagai aset negara atau dikembalikan kepada yang berhak.
(5)
Hakim harus memutus permohonan
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak
Hari sidang pertama.
Pasal 126
Dalam hal Tertangkap Tangan,
Penyidik dapat menyita:
benda yang telah digunakan untuk melakukan tindak pidana;
benda yang patut diduga telah digunakan untuk melakukan tindak pidana; dan/ atau
benda lain yang dapat dipakai sebagai barang bukti.
Pasal 127
(1)
Dalam hal Tertangkap Tangan,
Penyidik berwenang menyita paket, surat, atau benda yang pengangkutannya atau pengirimannya dilakukan oleh kantor pos dan telekomunikasi, perusahaan komunikasi, atau perusahaan jasa pengangkutan sepanjang paket, surat, atau benda tersebut diperuntukkan bagi
Tersangka atau yang berasal dari
Tersangka .
(2)
Setelah melakukan
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Penyidik memberikan surat tanda penerimaan kepada
Tersangka dan pejabat kantor pos dan telekomunikasi, perusahaan komunikasi, atau perusahaan jasa pengangkutan.
Pasal 128
(1)
Penyidik berwenang memerintahkan orang yang memiliki atau menguasai benda yang dapat disita untuk menyerahkan benda tersebut kepadanya untuk kepentingan pemeriksaan.
(2)
Penyidik harus memberikan tanda terima kepada orang yang menyerahkan benda tersebut.
Pasal 129
(1)
Surat atau tulisan lain hanya dapat diperintahkan untuk diserahkan kepada Penyidik, jika surat atau tulisan tersebut berkaitan dengan tindak pidana.
(2)
Penyitaan surat atau tulisan lain dari pejabat atau seseorang yang mempunyai kewajiban menurut Undang-Undang untuk merahasiakannya, sepanjang tidak menyangkut rahasia negara, hanya dapat dilakukan atas persetujuan pejabat atau seseorang tersebut atau atas izin khusus ketua pengadilan negeri setempat, kecuali Undang-Undang menentukan lain.
Pasal 130
(1)
Pejabat yang berwenang melakukan
Penyitaan wajib bertanggung jawab atas benda sitaan.
(2)
Benda sitaan dapat disimpan pada:
rumah penyimpanan benda sitaan negara;
tempat yang disediakan oleh Penyidik untuk kepentingan Penyidikan ; atau
tempat yang disediakan oleh Jaksa untuk kepentingan Penuntutan .
(3)
Pengelolaan benda sitaan dilakukan dengan sebaik-baiknya dan sedapat mungkin menjaga nilai ekonomis dari benda sitaan.
(4)
Benda sitaan dilarang untuk dipergunakan oleh siapa pun dan untuk tujuan apapun, kecuali untuk kepentingan pemeriksaan perkara.
(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan dan penyimpanan benda sitaan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 131
(1)
Dalam hal benda sitaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 123 terdiri atas benda yang dapat lekas rusak atau membahayakan, sehingga tidak mungkin disimpan sampai
Putusan Pengadilan terhadap perkara yang bersangkutan memperoleh kekuatan hukum tetap, benda tersebut dapat diamankan, dimusnahkan, atau dilelang oleh
Penyidik atau
Penuntut Umum dengan persetujuan
Tersangka atau
Terdakwa dan/atau Advokatnya dan disaksikan oleh Penyidik, Penuntut Umum, Tersangka, atau
Terdakwa dan/atau Advokatnya.
(3)
Benda sitaan yang dilelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dibeli oleh
Tersangka atau
Terdakwa dan/atau pihak yang mempunyai hubungan keluarga sedarah sampai derajat kedua, hubungan semenda, dan hubungan kerja atau keuangan.
(4)
Dalam hal benda sitaaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah dilelang, namun berdasarkan putusan berkekuatan hukum tetap tidak dirampas untuk negara, maka uang hasil penjualan lelang barang sitaan tersebut harus dikembalikan kepada yang berhak paling lama 30 (tiga puluh)
Hari sejak putusan berkekuatan hukum tetap.
(5)
Dalam hal terdapat bunga keuntungan atau bentuk keuntungan lain dari hasil penyimpanan benda sitaan yang dilelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka perampasan dan pengembalian uang hasil lelang benda sitaan juga disertai dengan bunga keuntungan atau keuntungan lain tersebut.
Pasal 132
(1)
Dalam hal benda sitaan merupakan benda berbahaya, bersifat terlarang atau dilarang untuk diedarkan, benda tersebut dirampas untuk kepentingan negara atau dimusnahkan dengan izin ketua pengadilan negeri, dengan atau tanpa disaksikan oleh Tersangka, Terdakwa, atau Advokatnya dengan mengundang Tersangka, Terdakwa, atau Advokatnya.
(2)
Benda sitaan yang bersifat terlarang atau dilarang untuk diedarkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disisihkan sebagian untuk kepentingan pembuktian di pengadilan.
Pasal 133
Benda yang dikenakan
Penyitaan dikembalikan kepada orang yang memiliki atau menguasai benda yang disita, atau kepada orang yang paling berhak dalam hal:
tidak diperlukan lagi untuk kepentingan Penyidikan dan Penuntutan ;
perkara tersebut tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata bukan merupakan tindak pidana; atau
perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara tersebut ditutup demi hukum, kecuali apabila benda itu diperoleh dari suatu tindak pidana atau yang dipergunakan untuk melakukan suatu tindak pidana.
Pasal 134
Pengembalian benda sitaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 133 dilakukan paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak benda sitaan tidak lagi diperlukan untuk kepentingan Penyidikan, penghentian Penyidikan, Penuntutan, penghentian Penuntutan, perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum, atau perkara ditutup demi hukum.
Pasal 135
Apabila perkara sudah diputus maka benda yang disita sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 134 dikembalikan kepada orang yang berhak, kecuali jika menurut putusan
Hakim benda tersebut dirampas untuk negara atau dimusnahkan atau jika benda tersebut masih diperlukan sebagai bukti dalam perkara lain.
Bagian Ketujuh - Penyadapan
Pasal 136
(2)
Ketentuan mengenai
Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Undang-Undang mengenai penyadapan.
Bagian Kedelapan - Pemeriksaan Surat
Pasal 137
(1)
Penyidik berhak membuka, memeriksa, dan menyita surat yang dikirim melalui kantor pos, perusahaan telekomunikasi, atau perusahaan pengangkutan, jika surat tersebut dicurigai dengan alasan yang kuat mempunyai hubungan dengan perkara pidana yang sedang diperiksa.
(2)
Untuk kepentingan Penyidikan,
Penyidik dapat meminta kepada kepala kantor pos, kepala perusahaan telekomunikasi, atau kepala perusahaan pengangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk menyerahkan surat yang dimaksud dan harus memberikan tanda terima.
(3)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dapat dilakukan pada setiap tahap pemeriksaan dalam proses peradilan.
Pasal 138
(1)
Jika sesudah dibuka dan diperiksa, ternyata surat tersebut ada hubungannya dengan perkara yang sedang diperiksa, surat tersebut dilampirkan pada berkas perkara.
(2)
Apabila surat tersebut tidak ada hubungannya dengan perkara, surat tersebut ditutup kembali dan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari terhitung sejak pemeriksaan selesai, harus diserahkan kembali kepada kantor pos, perusahaan telekomunikasi, atau perusahaan pengangkutan, setelah dibubuhi cap yang berbunyi "telah dibuka oleh
Penyidik " dengan dibubuhi tanggal, tanda tangan, dan identitas
Penyidik .
(3)
Penyidik dan pejabat pada setiap tahap pemeriksaan dalam proses peradilan wajib merahasiakan isi surat yang dikembalikan.
Pasal 139
(2)
Penyidik harus memberikan tembusan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada kepala kantor pos, kepala perusahaan telekomunikasi, atau kepala perusahaan pengangkutan yang bersangkutan, dan kepada ketua pengadilan negeri.
Bagian Kesembilan - Pemblokiran
Pasal 140
(2)
Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat izin ketua pengadilan negeri.
(3)
Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memuat informasi lengkap mengenai alasan perlunya dilakukan
Pemblokiran minimal meliputi:
uraian tindak pidana yang sedang diproses;
dasar atau fakta yang menunjukkan objek yang akan diblokir memiliki relevansi dengan tindak pidana yang sedang diproses dan sumber perolehan dasar atau fakta tersebut; dan
bentuk dan tujuan Pemblokiran yang akan dilakukan terhadap masing-masing objek yang akan diblokir.
(4)
Ketua pengadilan negeri wajib meneliti secara cermat permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari terhitung sejak permohonan izin diajukan.
(5)
Ketua pengadilan negeri dapat meminta informasi tambahan dari
Penyidik mengenai hal sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(6)
Pemblokiran hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali untuk jangka waktu 6 (enam)
Bulan .
(7)
Dalam keadaan mendesak,
Pemblokiran dapat dilaksanakan tanpa izin ketua pengadilan negeri.
(8)
Keadaan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (7) meliputi:
potensi dialihkannya harta kekayaan;
adanya tindak pidana terkait informasi dan transaksi elektronik;
telah terjadi permufakatan dalam tindak pidana terorganisasi; dan/atau
situasi berdasarkan penilaian Penyidik .
(9)
Dalam keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (8),
Penyidik dalam jangka waktu paling lama 2x24 (dua kali dua puluh empat) jam meminta persetujuan kepada ketua pengadilan negeri setelah dilakukan
Pemblokiran .
(10)
Ketua pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama 2x24 (dua kali dua puluh empat) jam setelah
Penyidik meminta persetujuan
Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (9) mengeluarkan penetapan.
(11)
Dalam hal ketua pengadilan negeri menolak memberikan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (10), penolakan harus disertai dengan alasan.
(12)
Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) mengakibatkan
Pemblokiran wajib dibuka dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja oleh pejabat yang memerintahkan
Pemblokiran dengan mengeluarkan surat perintah pencabutan
Pemblokiran .
(13)
Dalam hal perkara dihentikan pada tahap Penyidikan, Penuntutan, atau berdasarkan putusan
Praperadilan mengenai tidak sahnya penetapan Tersangka,
Pemblokiran harus dibuka dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja oleh pejabat yang memerintahkan
Pemblokiran dengan mengeluarkan surat perintah pencabutan
Pemblokiran .
Bagian Kesepuluh - Larangan bagi Tersangka dan Terdakwa untuk Keluar Wilayah Indonesia
Pasal 141
(1)
Untuk kepentingan Penyidikan, Penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan, Penyidik, Penuntut Umum, atau
Hakim berwenang melakukan pencegahan yang dilaksanakan dalam bentuk pelarangan sementara terhadap
Tersangka atau
Terdakwa untuk keluar wilayah Indonesia berdasarkan alasan yang sesuai dengan hukum.
(2)
Dalam rangka pelarangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penyidik, Penuntut Umum, atau
Hakim berkoordinasi dan meminta kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keimigrasian untuk melakukan upaya pelarangan
Tersangka atau
Terdakwa keluar wilayah Indonesia.
(3)
Pencegahan keluar wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk jangka waktu paling lama 6 (enam)
Bulan dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 6 (enam)
Bulan .
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencegahan keluar wilayah Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB VI - HAK TERSANGKA DAN TERDAKWA
Pasal 142
Tersangka atau
Terdakwa berhak:
segera menjalankan pemeriksaan;
memilih, menghubungi, dan mendapat pendampingan Advokat dalam setiap pemeriksaan;
diberitahu dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya mengenai apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya;
diberitahu mengenai haknya;
memberikan atau menolak untuk memberikan keterangan berkaitan dengan sangkaan atau dakwaan yang dikenakan kepadanya;
setiap waktu mendapat bantuan Penerjemah atau juru bahasa;
mendapat Jasa Hukum dan/atau Bantuan Hukum ;
menghubungi, berkomunikasi, dan menerima kunjungan perwakilan negaranya bagi Tersangka atau Terdakwa yang berkewarganegaraan asing;
menunjuk perwakilan suatu negara untuk dihubungi;
menghubungi, berkomunikasi, dan menerima kunjungan dokter untuk kepentingan pemeriksaan kesehatan atas dirinya;
menghubungi, berkomunikasi, dan menerima kunjungan rohaniwan;
menghubungi, berkomunikasi, dan menerima kunjungan Keluarga, kerabat, atau hubungan lain secara langsung atau melalui perantaraan Advokat ;
mengirim dan menerima surat dari dan kepada Advokat dan Keluarga Tersangka atau Terdakwa ;
mengajukan permohonan mekanisme Keadilan Restoratif ;
mengusahakan dan mengajukan Saksi dan/atau orang yang memiliki keahlian khusus;
mengajukan tuntutan Ganti Rugi dan Rehabilitasi ; dan/atau
bebas dari penyiksaan, intimidasi, perbuatan tidak manusiawi atau merendahkan harkat dan martabat manusia selama proses hukum yang dijalankan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Huruf a
Yang dimaksud with "pemeriksaan" adalah untuk mendapatkan keterangan mengenai identitas Tersangka atau Terdakwa, antara lain, nama, jenis kelamin, usia, agama, pekerjaan, tempat tinggal, dan kewarganegaraan.
BAB VII - HAK SAKSI, KORBAN, PENYANDANG DISABILITAS, PEREMPUAN, DAN ORANG LANJUT USIA
Bagian Kesatu - Hak Saksi
Pasal 143
Saksi berhak:
tidak dapat dituntut secara hukum, baik pidana maupun perdata atas kesaksian dan/atau Laporan yang akan, sedang, atau telah diberikannya, kecuali kesaksian atau Laporan tersebut diberikan tidak dengan iktikad baik;
memilih, menghubungi, dan mendapat pendampingan Advokat dalam setiap pemeriksaan;
mendapat Bantuan Hukum ;
memberikan keterangan tanpa tekanan;
mendapat Penerjemah atau juru bahasa;
bebas dari pertanyaan yang menjerat;
menolak memberikan keterangan yang dapat memberatkan dirinya sendiri walaupun Saksi telah mengambil sumpah atau janji;
memperoleh pelindungan atas keamanan pribadi, Keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkaitan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
dirahasiakan identitasnya;
memperoleh penggantian biaya transportasi selama proses penanganan perkara;
ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk pelindungan dan dukungan keamanan;
memperoleh penggantian biaya transportasi selama proses pemenuhan layanan; dan/atau
bebas dari penyiksaan, intimidasi, perbuatan tidak manusiawi atau merendahkan harkat dan martabat manusia selama proses hukum yang dijalankan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Bagian Kedua - Hak Korban
Pasal 144
Korban berhak:
tidak dapat dituntut secara hukum, baik pidana maupun perdata atas kesaksian, Laporan, dan/atau Pengaduan yang akan, sedang, atau telah diberikannya, kecuali kesaksian, Laporan, dan/atau Pengaduan tersebut diberikan tidak dengan iktikad baik;
memilih, menghubungi, dan mendapat pendampingan Advokat dalam setiap pemeriksaan;
memberikan keterangan tanpa tekanan;
mendapat Penerjemah atau juru bahasa;
bebas dari pertanyaan yang menjerat;
mendapat informasi mengenai perkembangan perkara;
mendapat informasi mengenai Putusan Pengadilan ;
mendapat informasi dalam hal Terpidana dibebaskan;
memperoleh pelindungan atas keamanan pribadi, Keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkaitan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
dirahasiakan identitasnya;
memperoleh penggantian biaya transportasi selama proses penanganan perkara;
mengajukan Restitusi melalui tuntutan;
melakukan mekanisme Keadilan Restoratif ;
ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk pelindungan dan dukungan keamanan;
mendapat bantuan medis dan Rehabilitasi psikososial dan psikologis;
mendapat nasihat hukum;
mendapat pendampingan oleh Pendamping pada setiap pemeriksaan dalam proses peradilan;
mendapat tempat kediaman sementara;
memperoleh bantuan biaya sementara sampai batas pelindungan berakhir;
memperoleh penggantian biaya transportasi selama proses pemenuhan layanan;
mendapat identitas baru;
mendapatkan Restitusi melalui penetapan pengadilan yang diajukan setelah Putusan Pengadilan berkekuatan hukum tetap;
mendapat tempat kediaman baru;
menyampaikan pernyataan atas dampak tindak pidana yang dialaminya secara tertulis atau lisan; dan/atau
bebas dari penyiksaan, intimidasi, perbuatan tidak manusiawi atau merendahkan harkat dan martabat manusia selama proses hukum yang dijalankan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Huruf q
Yang dimaksud dengan "Pendamping " antara lain:
petugas lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan Saksi dan Korban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak;
tenaga kesehatan;
psikolog;
pekerja sosial;
tenaga kesejahteraan sosial;
psikiater;
petugas Lembaga Penyedia Layanan Berbasis Masyarakat; dan
Pendamping lain.
Huruf x
Yang dimaksud dengan "pernyataan atas dampak tindak pidana yang dialaminya" merupakan pernyataan yang disampaikan oleh Korban, kuasa hukumnya, atau Pendamping Korban dalam sidang pengadilan kepada Penuntut Umum mengenai, antara lain, kerugian fisik, psikis, dan ekonomi yang dialami, dampak sosial dan moral akibat tindak pidana, dan harapan Korban terhadap pemulihan atau bentuk keadilan yang diinginkan.
Bagian Ketiga - Hak Penyandang Disabilitas
Pasal 145
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan dan sarana prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 146
(1)
Terhadap pelaku tindak pidana yang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban karena
Penyandang Disabilitas mental dan/atau intelektual berat sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pengadilan dapat menetapkan tindakan berupa
Rehabilitasi atau perawatan.
(2)
Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan penetapan
Hakim dalam sidang terbuka untuk umum.
(3)
Penetapan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan putusan pemidanaan.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan, pemeriksaan, dan pelaksanaan tindakan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Keempat - Hak Perempuan
Pasal 147
(1)
Perempuan yang berhadapan dengan hukum dapat berstatus sebagai Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, atau
Korban .
(2)
Perempuan yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selain memiliki hak sebagai Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, Korban, atau
Penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 142 sampai dengan
Pasal 146 , juga memiliki hak:
mendapatkan perlakuan yang bebas dari sikap dan pernyataan yang merendahkan, menyalahkan, dan/atau mengintimidasi dalam setiap tahap pemeriksaan;
mendapatkan pertimbangan situasi dan kepentingan dari kerugian yang tidak proporsional akibat ketidaksetaraan gender;
mendapatkan Pendamping dalam setiap tahap pemeriksaan;
didengar keterangannya melalui komunikasi audio visual jarak jauh di pengadilan setempat atau di tempat lain, jika kondisi kejiwaannya tidak sehat diakibatkan oleh rasa takut/trauma psikis berdasarkan penilaian dokter atau psikolog; dan/atau
mendapatkan pertimbangan spesifik berbasis kerentanan dan kebutuhan gender dalam setiap keputusan Penyidik, Penuntut Umum, atau Hakim dalam melaksanakan seluruh kewenangan dalam Undang-Undang ini.
Ayat (2)
Huruf b
Yang dimaksud dengan "situasi dan kepentingan" adalah keadaan dimana perempuan yang berhadapan dengan hukum mengalami kondisi fisik dan psikis sesuai dengan kondisi genital seperti menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "pendamping" adalah seseorang atau kelompok atau organisasi yang dipercaya dan memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk mendampingi perempuan yang berhadapan dengan hukum dengan tujuan membuat perempuan merasa aman dan nyaman dalam memberikan keterangan selama proses peradilan berlangsung.
Huruf e
Contoh dalam penerapan ayat ini adalah hak perempuan berhadapan dengan hukum harus juga memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan berdasarkan fungsi reproduksinya, yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, dan memiliki beban pengasuhan. Pada setiap tingkatan pemeriksaan kebutuhan spesifik tersebut harus dipenuhi, misalnya perempuan hamil, menyusui, atau dengan beban pengasuhan terhadap anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun harus dihindarkan dari penahanan rumah tahanan dan pemenjaraan.
Bagian Kelima - Hak Orang Lanjut Usia
Pasal 148
(1)
Orang lanjut usia dapat berstatus sebagai Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, atau
Korban .
(2)
Orang lanjut usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selain memiliki hak sebagai Tersangka, Terdakwa, Terpidana, Saksi, Korban, atau
Penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 142 sampai dengan
Pasal 146 , juga memiliki hak:
pelayanan, sarana, dan prasarana khusus yang sesuai dengan kondisi fisik dan psikis pada setiap tahap pemeriksaan;
mendapatkan pelayanan kesehatan lanjut usia; dan/atau
sedapat mungkin tidak dijatuhkan pidana penjara bagi Terdakwa yang berusia di atas 75 (tujuh puluh lima) tahun berdasarkan pertimbangan Hakim sesuai dengan ketentuan Undang-Undang yang mengatur mengenai kitab undang-undang hukum pidana.
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "orang lanjut usia" adalah orang yang berusia 60 (enam puluh) tahun atau lebih.
Ayat (2)
Huruf a
Sarana dan prasarana khusus, misalnya, kursi roda, jalan rampa, pegangan tangan pada tangga, dinding, dan kamar mandi, akses khusus orang lanjut usia ke, dari, dan di dalam bangunan.
Huruf b
Pelayanan kesehatan lanjut usia, misalnya, perawatan geriatri, gerontologik, atau paliatif.
BAB VIII - ADVOKAT DAN BANTUAN HUKUM
Bagian Kesatu - Advokat
Pasal 149
(1)
Advokat berstatus sebagai penegak hukum menjalankan tugas dan fungsi
Jasa Hukum sesuai dengan etika profesi serta dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan.
(2)
Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien di dalam atau di luar pengadilan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "iktikad baik" adalah sikap dan perilaku Advokat dalam menjalankan tugas pembelaan dan pendampingan hukum berdasarkan kode etik profesi Advokat .
Pasal 150
Advokat berhak:
memberikan Jasa Hukum dan/atau Bantuan Hukum atas permintaan Tersangka, Terdakwa, Saksi, atau Korban ;
menghubungi, berkomunikasi, dan mengunjungi Tersangka, Terdakwa, Saksi, atau Korban sejak saat ditangkap atau ditahan pada semua tahap pemeriksaan dan setiap waktu untuk kepentingan pembelaan perkaranya;
memberikan nasihat hukum kepada Tersangka, Terdakwa, Saksi, atau Korban mengenai hak dan kewajibannya dalam proses peradilan pidana;
mendampingi Tersangka, Terdakwa, Saksi, dan Korban pada semua tahap pemeriksaan;
meminta pejabat yang bersangkutan memberikan salinan berita acara pemeriksaan Tersangka untuk kepentingan pembelaan Tersangka sesaat setelah selesainya pemeriksaan;
mengirim dan menerima surat dari Tersangka atau Terdakwa setiap kali dikehendaki olehnya;
menghadiri sidang pengadilan dan mengajukan pembelaan terhadap Terdakwa ;
bebas mengeluarkan pendapat atau pernyataan di setiap tahap pemeriksaan pengadilan untuk memberikan pembelaan kepada Terdakwa ;
meminta keterangan dari Saksi dan Ahli dalam sidang pengadilan;
meminta dokumen dan bukti yang relevan untuk membantu pembelaan; dan/atau
mengajukan bukti yang meringankan Terdakwa dalam proses pemeriksaan di sidang pengadilan.
Pasal 151
(1)
Advokat wajib:
memberikan Bantuan Hukum ;
mematuhi kode etik profesi; dan
mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam memberikan
Jasa Hukum dan/atau Bantuan Hukum, setiap
Advokat wajib menunjukkan kepada Penyidik, Penuntut Umum, dan/atau
Hakim di persidangan sesuai dengan tahap pemeriksaan:
surat kuasa yang menunjukkan secara jelas perihal tindakan hukum yang dikuasakan oleh pemberi kuasa; dan
berita acara sumpah pengangkatan sebagai Advokat dan/atau identitas keanggotaannya di dalam suatu lembaga Bantuan Hukum .
Pasal 152
(1)
Advokat dalam berhubungan dengan Tersangka, Terdakwa, atau
Terpidana diawasi oleh Penyidik, Penuntut Umum, atau petugas lembaga pemasyarakatan tanpa mendengar isi pembicaraan.
(2)
Dalam hal kejahatan terhadap keamanan negara, pejabat yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendengar isi pembicaraan.
Pasal 153
Penyidik, Penuntut Umum, atau petugas lembaga pemasyarakatan wajib memberikan salinan berita acara pemeriksaan kepada Tersangka, Terdakwa, atau Advokatnya untuk kepentingan pembelaannya dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari terhitung sejak penandatanganan berita acara pemeriksaan.
Bagian Kedua - Bantuan Hukum
Pasal 154
(2)
Pejabat yang bersangkutan pada setiap tahap pemeriksaan wajib memberitahukan hak mendapatkan
Bantuan Hukum dan menunjuk
Advokat atau
Pemberi Bantuan Hukum bagi Tersangka, Terdakwa, pelapor, pengadu, Saksi, atau
Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(5)
Berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibuat oleh:
Penyidik yang ditandatangani oleh Penyidik dan Tersangka, pelapor, pengadu, Saksi, atau Korban ;
Penuntut Umum yang ditandatangani oleh Penuntut Umum dan Tersangka, pelapor, pengadu, Saksi, atau Korban ; atau
Penuntut Umum yang ditandatangani oleh Penuntut Umum dan Terdakwa, pelapor, pengadu, Saksi, atau Korban .
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "tidak mampu" adalah orang yang tergolong kelompok orang miskin.
Pasal 155
(1)
Dalam hal
Tersangka atau
Terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, pidana penjara 15 (lima belas) tahun atau lebih, pejabat yang bersangkutan pada semua tahap pemeriksaan wajib menunjuk
Advokat bagi
Tersangka atau
Terdakwa .
(2)
Tersangka atau
Terdakwa yang disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana 5 (lima) tahun atau lebih, tetapi tidak mampu dan tidak mempunyai
Advokat sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tahap pemeriksaan wajib menunjuk
Advokat bagi
Tersangka atau
Terdakwa .
BAB IX - BERITA ACARA
Pasal 156
(2)
Berita acara dibuat oleh pejabat yang bersangkutan dalam melakukan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan dibuat atas kekuatan sumpah jabatan.
(3)
Selain ditandatangani oleh pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), berita acara ditandatangani oleh semua pihak yang terlibat dalam tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4)
Tersangka atau
Terdakwa berhak meminta konfirmasi kebenaran dari isi berita acara pemeriksaan.
(5)
Jika isi berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak sesuai,
Tersangka atau
Terdakwa berhak menolak menandatangani berita acara pemeriksaan.
(6)
Pejabat yang berwenang wajib memberikan turunan atau salinan berita acara pemeriksaan kepada
Tersangka atau
Terdakwa .
BAB X - SUMPAH ATAU JANJI
Pasal 157
(1)
Dalam hal diharuskan adanya pengambilan sumpah atau janji berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini, mekanisme pengambilan sumpah atau janji dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Jika ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dipenuhi, sumpah atau janji tersebut batal demi hukum.
BAB XI - WEWENANG PENGADILAN UNTUK MENGADILI
Bagian Kesatu - Praperadilan
Pasal 158
Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini mengenai:
sah atau tidaknya pelaksanaan Upaya Paksa ;
sah atau tidaknya penghentian Penyidikan atau penghentian Penuntutan ;
permintaan Ganti Rugi dan/atau Rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tahap Penyidikan atau Penuntutan ;
Penyitaan benda atau barang yang tidak ada kaitannya dengan tindak pidana;
penundaan terhadap penanganan perkara tanpa alasan yang sah; dan
penangguhan pembantaran Penahanan .
Huruf a
Kecuali terhadap pelaksanaan penyitaan benda atau barang yang disita tidak ada kaitannya dengan tindak pidana yang dilakukan, Upaya Paksa yang telah mendapatkan izin atau persetujuan ketua pengadilan negeri bukan merupakan objek Praperadilan . Upaya Paksa yang tidak mendapatkan izin atau persetujuan ketua pengadilan negeri merupakan objek Praperadilan .
Huruf b
Yang dimaksud dengan "penghentian penuntutan" tidak termasuk penyampingan perkara untuk kepentingan umum yang menjadi wewenang Jaksa Agung.
Pasal 159
(2)
Praperadilan dipimpin oleh
Hakim tunggal yang ditunjuk oleh ketua pengadilan negeri dan dibantu oleh seorang panitera.
Pasal 160
(1)
Permohonan pemeriksaan mengenai sah atau tidaknya pelaksanaan
Upaya Paksa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 158 huruf a diajukan oleh Tersangka,
Keluarga Tersangka, atau Advokatnya kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya.
(2)
Permohonan pemeriksaan mengenai
Penyitaan benda atau barang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 158 huruf d diajukan oleh pihak ketiga.
(3)
Permohonan pemeriksaan sah atau tidaknya pelaksanaan
Upaya Paksa yang diajukan oleh Tersangka,
Keluarga Tersangka, atau Advokatnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diajukan 1 (satu) kali untuk hal yang sama.
(4)
Permohonan
Praperadilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 158 huruf a dan huruf c tidak dapat diajukan jika
Tersangka melarikan diri atau dalam status daftar pencarian orang.
Pasal 161
Permohonan untuk memeriksa sah atau tidaknya penghentian
Penyidikan atau penghentian
Penuntutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 158 huruf b dapat diajukan oleh Korban, pelapor, atau kuasa hukumnya kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya.
Pasal 162
Pasal 163
(1)
Acara pemeriksaan
Praperadilan ditentukan sebagai berikut:
dalam jangka waktu 3 (tiga) Hari terhitung sejak permintaan diterima, Hakim yang ditunjuk menetapkan hari sidang;
dalam memeriksa dan memutus permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 160 sampai dengan Pasal 162 , Hakim mendengar keterangan baik dari Tersangka atau Advokatnya, Keluarga Tersangka, pihak yang berkepentingan, Penyidik, atau Penuntut Umum ;
pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dilakukan secara cepat dan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) Hari terhitung sejak permohonan dibacakan, Hakim harus sudah menjatuhkan putusannya;
dalam keadaan termohon tidak hadir sebanyak 2 (dua) kali persidangan, pemeriksaan Praperadilan tetap dilanjutkan dan termohon dianggap melepaskan haknya;
selama pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam huruf c belum selesai, pemeriksaan pokok perkara di pengadilan tidak dapat diselenggarakan;
dalam hal putusan Praperadilan menetapkan Upaya Paksa yang dilakukan oleh Penyidik dan/atau Penuntut Umum dinyatakan tidak sah, hal lain yang terkait dengan Upaya Paksa tersebut agar dilakukan pemulihan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) Hari setelah Putusan Pengadilan ; dan
putusan Praperadilan pada tahap Penyidikan tetap dapat dilakukan pemeriksaan Praperadilan kembali pada tahap pemeriksaan oleh Penuntut Umum dengan permintaan baru.
(2)
Putusan
Hakim dalam acara pemeriksaan
Praperadilan mengenai permohonan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 160 sampai dengan
Pasal 162 , harus memuat dengan jelas dasar dan alasannya.
(3)
Isi putusan selain memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga memuat hal sebagai berikut:
dalam hal putusan menetapkan bahwa Penetapan Tersangka tidak sah, Penyidik harus membebaskan Tersangka ;
dalam hal putusan menetapkan bahwa Penangkapan atau Penahanan tidak sah, Penyidik atau Penuntut Umum pada tahap pemeriksaan masing-masing harus segera membebaskan Tersangka ;
dalam hal putusan menetapkan bahwa penghentian Penyidikan atau penghentian Penuntutan tidak sah, Penyidikan atau Penuntutan terhadap Tersangka wajib dilanjutkan;
dalam hal putusan menetapkan bahwa Penggeledahan, Penyitaan, Penyadapan, dan pemeriksaan surat tidak sah, barang bukti yang diperoleh dari Penggeledahan, Penyitaan, Penyadapan, dan pemeriksaan surat tidak sah tidak dapat digunakan sebagai alat bukti;
dalam hal penghentian Penyidikan atau penghentian Penuntutan adalah sah dan Tersangka tidak ditahan, dalam putusan dicantumkan Rehabilitasinya; dan/atau
dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian, dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada Tersangka atau dari siapa benda itu disita.
Pasal 164
(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan terhadap putusan
Praperadilan yang menetapkan tidak sahnya penghentian
Penyidikan atau
Penuntutan sehingga dapat dimintakan putusan akhir ke pengadilan tinggi dalam daerah hukum yang bersangkutan.
(3)
Dalam hal seorang
Terdakwa melakukan beberapa tindak pidana dalam daerah hukum beberapa pengadilan negeri, tiap pengadilan negeri tersebut masing-masing berwenang
Mengadili perkara pidana itu.
(4)
Terhadap beberapa perkara pidana yang satu sama lain ada sangkut pautnya dan dilakukan oleh
Terdakwa dalam daerah hukum beberapa pengadilan negeri, diadili oleh salah satu pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal
Terdakwa dengan melakukan penggabungan perkara pidana tersebut.
(5)
Dalam hal seorang
Terdakwa melakukan satu tindak pidana dalam daerah hukum beberapa pengadilan negeri, yang berwenang memeriksa, Mengadili, dan memutus adalah:
pengadilan negeri yang lebih dekat dari tempat kediaman sebagian besar Saksi yang dipanggil; atau
pengadilan negeri di tempat Terdakwa ditemukan atau ditahan.
Pasal 166
Dalam hal keadaan daerah tidak memungkinkan suatu pengadilan negeri untuk
Mengadili suatu perkara, atas usul ketua pengadilan negeri atau kepala kejaksaan negeri yang bersangkutan, Mahkamah Agung menetapkan atau menunjuk pengadilan negeri lain untuk
Mengadili perkara yang dimaksud dalam
Pasal 165 ayat (2) untuk
Mengadili perkara yang dimaksud.
Pasal 167
(1)
Dalam hal seseorang melakukan tindak pidana di luar negeri yang dapat diadili menurut hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pengadilan Negeri di Ibu Kota Negara berwenang
Mengadili .
(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku jika perbuatan dilakukan di luar negeri bukan merupakan tindak pidana menurut hukum negara tempat perbuatan itu dilakukan, meskipun menurut hukum Indonesia perbuatan tersebut merupakan tindak pidana.
Bagian Ketiga - Pengadilan Tinggi
Pasal 168
Pengadilan tinggi berwenang
Mengadili perkara pidana yang diputus oleh pengadilan negeri dalam daerah hukumnya yang dimintakan banding.
Bagian Keempat - Mahkamah Agung
Pasal 169
Mahkamah Agung berwenang
Mengadili semua perkara pidana yang dimintakan kasasi dan peninjauan kembali.
BAB XII - KONEKSITAS
Pasal 170
(1)
Tindak pidana yang dilakukan bersama-sama oleh mereka yang termasuk lingkungan peradilan umum dan lingkungan peradilan militer, diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum.
(2)
Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat titik berat kerugian terletak pada kepentingan militer, perkara tersebut harus diperiksa dan diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.
(3)
Penyidikan perkara pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan bersama-sama
Penyidik dan polisi militer Tentara Nasional Indonesia di bawah koordinasi
Penuntut Umum dan oditur militer.
(4)
Penyidik dan polisi militer Tentara Nasional Indonesia dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak
Penyidikan selesai dilakukan harus melaporkan
Penyidikan perkara koneksitas kepada
Penuntut Umum dan oditur militer.
(5)
Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan menurut hukum yang berlaku untuk
Penyidikan perkara pidana.
Pasal 171
(2)
Penetapan pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh
Penuntut Umum dan oditur militer.
(3)
Salinan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada jaksa tinggi bidang pidana militer dan oditur militer tinggi.
Pasal 172
(1)
Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 170 ayat (2) diadili oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan militer, tindak pidana tersebut diadii oleh majelis hakim yang terdiri atas minimal 3 (tiga) orang
Hakim dengan komposisi 2 (dua)
Hakim peradilan militer yang salah satu diantaranya menjadi ketua majelis dan 1 (satu)
Hakim peradilan umum.
(2)
Dalam hal pengadilan dalam lingkungan peradilan umum yang
Mengadili tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 170 ayat (1) , majelis
Hakim terdiri atas
Hakim ketua dari lingkungan peradilan umum dan
Hakim anggota masing-masing ditetapkan dari peradilan umum dan peradilan militer secara berimbang.
(3)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga bagi pengadilan tingkat banding.
(4)
Mahkamah Agung dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan secara timbal balik mengusulkan pengangkatan
Hakim anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
BAB XIII - GANTI RUGI, REHABILITASI, RESTITUSI, DAN KOMPENSASI
Bagian Kesatu - Ganti Rugi
Pasal 173
(1)
Tersangka, Terdakwa, atau
Terpidana berhak menuntut
Ganti Rugi karena ditangkap, ditahan, dituntut, diadili, atau dikenakan tindakan lain tanpa alasan yang sah berdasarkan Undang-Undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan.
(2)
Tuntutan
Ganti Rugi oleh
Tersangka atau ahli warisnya atas
Penangkapan atau
Penahanan serta tindakan lain tanpa alasan yang sah berdasarkan Undang-Undang atau karena kekeliruan mengenai orang atau hukum yang diterapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diputus di sidang
Praperadilan .
(3)
Tuntutan
Ganti Rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh Tersangka, Terdakwa, Terpidana, atau ahli warisnya kepada pengadilan yang berwenang
Mengadili perkara yang bersangkutan.
(4)
Untuk memeriksa dan memutus perkara tuntutan
Ganti Rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ketua pengadilan negeri menunjuk
Hakim yang sama yang telah
Mengadili perkara pidana yang bersangkutan.
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "Ganti Rugi karena ditangkap, ditahan, dituntut, diadili, atau dikenakan tindakan lain" merupakan kerugian yang ditimbulkan oleh penegak hukum yang melakukan Upaya Paksa yang dilakukan secara tidak sah menurut hukum.
Ayat (2)
Penahanan tanpa alasan adalah Penahanan yang lebih lama daripada yang dijatuhkan atau tidak sesuai prosedur dan mekanisme yang berlaku.
Pasal 174
(2)
Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat dengan lengkap semua hal yang dipertimbangkan sebagai alasan bagi putusan tersebut.
Pasal 175
(1)
Pembayaran
Ganti Rugi yang telah ditetapkan pengadilan bersumber dari dana abadi untuk pembayaran Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi .
(2)
Pembayaran
Ganti Rugi diberikan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal permohonan
Ganti Rugi diterima oleh lembaga yang mengelola dana abadi untuk pembayaran Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4)
Penuntut Umum menyampaikan salinan penetapan
Ganti Rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari terhitung sejak penetapan ditetapkan.
(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembayaran
Ganti Rugi diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Kedua - Rehabilitasi
Pasal 176
(1)
Seorang berhak memperoleh
Rehabilitasi apabila oleh pengadilan diputus bebas atau diputus lepas dari segala tuntutan hukum yang putusannya telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Pasal 177
(1)
Pendanaan
Rehabilitasi bersumber dari dana abadi untuk pembayaran Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 176 .
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai
Rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 176 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Ketiga - Restitusi
Pasal 178
(2)
Restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
ganti rugi atas kehilangan kekayaan atau penghasilan;
ganti rugi yang ditimbulkan akibat penderitaan yang berkaitan langsung sebagai akibat tindak pidana; dan/atau
penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis.
Pasal 179
(1)
Penyidik, Penuntut Umum, dan
Hakim wajib memberitahukan hak atas
Restitusi kepada
Korban dan lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan saksi dan korban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)
Restitusi dapat dititipkan terlebih dahulu di kepaniteraan pengadilan negeri tempat perkara diperiksa.
(4)
Penyidik dapat melakukan
Penyitaan terhadap harta kekayaan pelaku tindak pidana sebagai jaminan
Restitusi dengan izin ketua pengadilan negeri.
(5)
Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan memperhatikan hak pihak ketiga yang beriktikad baik.
Pasal 180
Restitusi dikembalikan kepada pelaku dalam hal
Terdakwa diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum.
Pasal 181
(2)
Jaksa menyampaikan salinan
Putusan Pengadilan yang memuat pemberian
Restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Terpidana, Korban, dan lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan saksi dan korban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak salinan
Putusan Pengadilan diterima.
(3)
Dalam hal pelaksanaan pemberian
Restitusi kepada pihak
Korban tidak dipenuhi sampai jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Korban atau ahli warisnya memberitahukan hal tersebut kepada pengadilan.
(4)
Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memberikan surat peringatan secara tertulis kepada pemberi
Restitusi untuk segera memenuhi kewajiban memberikan
Restitusi kepada
Korban atau ahli warisnya.
(6)
Dalam hal
Restitusi yang dititipkan dan harta kekayaan
Terpidana yang dilelang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) melebihi jumlah
Restitusi yang diputuskan atau ditetapkan pengadilan,
Jaksa mengembalikan kelebihannya kepada
Terpidana .
(7)
Dalam hal harta kekayaan
Terpidana yang disita sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak mencukupi biaya Restitusi,
Terpidana dikenai pidana penjara pengganti tidak melebihi pidana pokoknya.
(8)
Dalam hal
Terpidana sebagaimana dimaksud pada ayat (7) merupakan Korporasi, dilakukan penutupan sebagian tempat usaha dan/atau pencabutan izin usaha
Korporasi .
(9)
Pelaksanaan pidana pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dan ayat (8) dilakukan dengan memperhitungkan
Restitusi yang telah dibayar secara proporsional.
Pasal 182
(2)
Salinan berita acara sebagaimana dimaksud ayat (1) disampaikan kepada:
Keluarga Korban ;
Penyidik ; dan
pengadilan.
Bagian Keempat - Kompensasi
Pasal 183
(2)
Kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
ganti rugi atas kehilangan kekayaan atau penghasilan;
ganti rugi yang ditimbulkan akibat penderitaan yang berkaitan langsung sebagai akibat tindak pidana; dan/atau
penggantian biaya perawatan medis dan/atau psikologis.
(3)
Kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh negara dalam hal pelaku tindak pidana tidak dapat membayar
Restitusi .
Pasal 184
(1)
Penyidik, Penuntut Umum, dan
Hakim wajib memberitahukan hak atas
Kompensasi kepada
Korban dan lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan saksi dan korban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Kompensasi dapat dititipkan terlebih dahulu di kepaniteraan pengadilan negeri tempat perkara diperiksa.
Pasal 185
(2)
Jaksa menyampaikan salinan
Putusan Pengadilan yang memuat pemberian
Kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Terpidana, Korban, dan lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang pelindungan saksi dan korban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak salinan
Putusan Pengadilan diterima.
(3)
Apabila pelaksanaan pemberian
Kompensasi kepada pihak
Korban tidak dipenuhi sampai jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Korban atau ahli warisnya memberitahukan hal tersebut kepada pengadilan.
Pasal 186
(2)
Salinan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada:
Keluarga Korban ;
Penyidik ; dan
pengadilan.
Bagian Kelima - Dana Abadi
Pasal 187
(1)
Dana abadi untuk pembayaran Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi bersumber dari:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
pendapatan investasi;
bagi hasil dari Pendapatan Negara Bukan Pajak penegakan hukum;
hasil pengelolaan barang rampasan; dan/atau
sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Pendapatan investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan hasil pengelolaan dana abadi untuk pembayaran Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi .
(3)
Dana abadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan oleh lembaga yang mengelola dana abadi untuk pembayaran Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi .
Pasal 188
Ketentuan lebih lanjut mengenai dana abadi untuk Ganti Rugi, Rehabilitasi, Restitusi, dan
Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 187 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB XIV - PENGGABUNGAN PERKARA GANTI RUGI
Pasal 189
(1)
Jika suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatu pemeriksaan perkara pidana oleh pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain,
Hakim ketua sidang atas permintaan orang itu dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti rugi kepada perkara pidana itu.
(2)
Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diajukan dalam waktu paling lambat sebelum
Penuntut Umum mengajukan tuntutan pidana.
(3)
Dalam hal
Penuntut Umum tidak hadir, permintaan diajukan dalam waktu paling lambat sebelum
Hakim menjatuhkan putusan.
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "penggabungan perkara gugatan pada perkara pidana" adalah supaya perkara gugatan tersebut pada saat yang sama diperiksa serta diputus sekaligus dengan perkara pidana yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan "kerugian bagi orang lain" termasuk kerugian pihak Korban .
Ayat (3)
Tidak hadirnya Penuntut Umum adalah dalam hal acara pemeriksaan cepat.
Pasal 190
(1)
Jika pihak yang dirugikan minta penggabungan perkara gugatannya pada perkara pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 189 ayat (1) , pengadilan negeri menimbang mengenai kewenangannya untuk
Mengadili gugatan tersebut, kebenaran dasar gugatan, dan hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan.
(2)
Dalam hal pengadilan negeri menyatakan tidak berwenang
Mengadili gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, putusan
Hakim hanya memuat mengenai penetapan hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan.
(3)
Putusan mengenai ganti rugi dengan sendirinya mendapat kekuatan tetap, jika putusan pidananya juga mendapat kekuatan hukum tetap.
Pasal 191
(1)
Dalam hal terjadi penggabungan antara perkara perdata dan perkara pidana, penggabungan itu dengan sendirinya berlangsung dalam pemeriksaan tingkat banding.
(2)
Permohonan banding terhadap putusan ganti rugi tidak dapat diajukan dalam hal terhadap perkara pidana tidak diajukan permohonan banding.
Pasal 192
Ketentuan mengenai hukum acara perdata berlaku bagi gugatan ganti rugi sepanjang tidak diatur lain dalam Undang-Undang ini.
BAB XV - PEMERIKSAAN DI SIDANG PENGADILAN
Bagian Kesatu - Panggilan dan Dakwaan
Pasal 193
(1)
Penuntut Umum memanggil secara sah kepada
Terdakwa untuk datang ke sidang pengadilan melalui alamat tempat tinggalnya.
(2)
Dalam hal alamat atau tempat tinggal
Terdakwa tidak diketahui, panggilan disampaikan di tempat kediaman terakhir
Terdakwa .
(3)
Apabila
Terdakwa tidak ada di tempat tinggalnya atau di tempat kediaman terakhir, surat panggilan disampaikan melalui kepala desa/lurah atau nama lainnya dalam daerah hukum tempat tinggal
Terdakwa atau tempat kediaman terakhir.
(4)
Dalam hal
Terdakwa ditahan dalam rumah tahanan negara, surat panggilan disampaikan kepada
Terdakwa melalui pejabat rumah tahanan negara.
(5)
Surat panggilan yang diterima oleh
Terdakwa sendiri atau oleh orang lain dilakukan dengan tanda penerimaan.
(6)
Dalam hal tempat tinggal atau tempat kediaman terakhir tidak diketahui, surat panggilan ditempelkan pada papan pengumuman di gedung pengadilan tempat
Terdakwa diadili atau diperiksa.
(7)
Dalam hal
Terdakwa merupakan Korporasi, panggilan disampaikan kepada pengurus di tempat kedudukan
Korporasi sebagaimana tercantum dalam anggaran dasar
Korporasi tersebut.
Pasal 194
(1)
Penuntut Umum menyampaikan surat panggilan kepada
Terdakwa yang memuat tanggal, hari, dan jam sidang, serta jenis perkara.
(2)
Panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus sudah diterima oleh yang bersangkutan dalam waktu paling lambat 7 (tujuh)
Hari sebelum sidang dimulai.
(3)
Dalam hal
Penuntut Umum memanggil Saksi, surat panggilan memuat hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang harus diterima oleh yang bersangkutan dalam waktu paling lambat 7 (tujuh)
Hari sebelum sidang dimulai.
Bagian Kedua - Memutus Sengketa mengenai Wewenang Mengadili
Pasal 195
Setelah pengadilan negeri menerima surat pelimpahan perkara dari Penuntut Umum, ketua pengadilan negeri mempelajari apakah perkara yang disampaikan tersebut termasuk wewenang pengadilan yang dipimpinnya.
Pasal 196
(1)
Dalam hal ketua pengadilan negeri berpendapat bahwa perkara pidana tersebut tidak termasuk wewenang pengadilan yang dipimpinnya, tetapi termasuk wewenang pengadilan negeri lain, ketua pengadilan negeri menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada pengadilan negeri lain yang dianggap berwenang Mengadilinya dengan surat penetapan yang memuat alasan pelimpahan perkara.
(2)
Surat pelimpahan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diserahkan kembali kepada Penuntut Umum, selanjutnya kejaksaan negeri yang bersangkutan menyampaikan kepada kejaksaan negeri di tempat pengadilan negeri yang tercantum dalam surat penetapan.
(3)
Turunan surat penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Terdakwa, Advokat, dan
Penyidik .
Ayat (2)
Dalam hal kejaksaan negeri yang menerima surat pelimpahan perkara dari kejaksaan negeri semula, kejaksaan negeri tersebut membuat surat pelimpahan baru untuk disampaikan ke pengadilan negeri yang tercantum dalam surat ketetapan.
Pasal 197
(1)
Dalam hal
Penuntut Umum melakukan perlawanan terhadap surat penetapan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 196 ayat (1) ,
Penuntut Umum mengajukan perlawanan kepada pengadilan tinggi yang wilayah hukumnya meliputi tempat pengadilan negeri yang bersangkutan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak surat penetapan tersebut diterima.
(2)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlampaui, perlawanan yang diajukan
Penuntut Umum menjadi batal.
(3)
Perlawanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada ketua pengadilan negeri dan dicatat dalam buku daftar panitera.
(4)
Dalam jangka waktu 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak menerima perlawanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pengadilan negeri wajib meneruskan perlawanan tersebut kepada pengadilan tinggi yang wilayah hukumnya meliputi tempat pengadilan negeri yang bersangkutan.
(5)
Pengadilan tinggi dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari terhitung sejak menerima perlawanan, dapat menguatkan atau menolak perlawanan tersebut dengan surat penetapan.
(6)
Dalam hal pengadilan tinggi menguatkan perlawanan Penuntut Umum, dengan surat penetapan pengadilan tinggi memerintahkan pengadilan negeri yang bersangkutan untuk menyidangkan perkara tersebut.
(7)
Dalam hal pengadilan tinggi menguatkan pendapat pengadilan negeri, pengadilan tinggi mengirimkan berkas perkara pidana tersebut kepada pengadilan negeri yang bersangkutan.
(8)
Tembusan surat penetapan pengadilan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) disampaikan kepada
Penuntut Umum .
Pasal 198
Sengketa mengenai wewenang
Mengadili terjadi jika:
2 (dua) pengadilan atau lebih menyatakan dirinya berwenang Mengadili atas perkara yang sama; atau
2 (dua) pengadilan atau lebih menyatakan dirinya tidak berwenang Mengadili perkara yang sama.
Pasal 199
(1)
Pengadilan tinggi memutus sengketa wewenang
Mengadili antara 2 (dua) pengadilan negeri atau lebih yang berkedudukan dalam daerah hukumnya.
(2)
Mahkamah Agung memutus pada tingkat pertama dan terakhir semua sengketa mengenai wewenang
Mengadili antara:
pengadilan dari satu lingkungan peradilan dengan pengadilan dari lingkungan peradilan yang lain;
2 (dua) pengadilan negeri atau lebih yang berkedudukan dalam daerah hukum pengadilan tinggi yang berlainan; atau
2 (dua) pengadilan tinggi atau lebih.
Bagian Ketiga - Acara Pemeriksaan Biasa
Pasal 200
(1)
Jika pengadilan negeri menerima surat pelimpahan perkara dan berpendapat bahwa perkara itu termasuk wewenang pengadilannya, ketua pengadilan menunjuk
Hakim yang akan menyidangkan perkara tersebut.
(2)
Hakim yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menetapkan hari sidang.
(3)
Hakim dalam menetapkan hari sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memerintahkan kepada
Penuntut Umum untuk memanggil
Terdakwa dan
Saksi untuk datang di sidang pengadilan.
Ayat (3)
Pemanggilan terdakwa dan saksi dilakukan dengan surat panggilan oleh Penuntut Umum secara sah dan telah diterima oleh Terdakwa dan Saksi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) Hari sebelum sidang dimulai.
Pasal 201
(1)
Pada hari dan tanggal sidang pemeriksaan:
Penuntut Umum, Terdakwa dan/atau Advokat Terdakwa menghadirkan Saksi dan/atau Ahli untuk didengar keterangannya; dan/atau
Penuntut Umum dan/atau Terdakwa hadir sendiri untuk didengar keterangannya, kecuali jika terdapat alasan yang kuat untuk tidak menghadirkan Terdakwa .
(3)
Dalam hal
Saksi dan/atau
Ahli tidak dapat hadir dengan alasan yang sah, pemeriksaan terhadap
Saksi dan/atau
Ahli dimaksud dapat ditunda untuk 1 (satu) kali.
(4)
Jika dalam sidang berikutnya
Saksi dan/atau
Ahli tersebut tetap tidak hadir, pemeriksaan perkara dilanjutkan tanpa mendengar
Keterangan Saksi dan/atau
Ahli tersebut.
(5)
Jika pihak yang memohon untuk mendengar
Keterangan Saksi dan/atau
Ahli tidak hadir pada tanggal yang telah ditentukan, permohonan menjadi batal.
(6)
Sidang pemeriksaan
Saksi dan/atau
Ahli dilakukan secara terbuka, kecuali untuk perkara tempat persidangan dilakukan secara tertutup sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.
Pasal 202
(1)
Pada hari sidang yang telah ditetapkan, pengadilan wajib membuka persidangan.
(2)
Untuk keperluan pemeriksaan,
Hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum, kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak.
(3)
Dalam hal tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), putusan batal demi hukum.
(4)
Hakim ketua sidang memimpin pemeriksaan di sidang pengadilan yang dilakukan secara lisan dalam bahasa Indonesia yang dimengerti oleh
Terdakwa dan
Saksi .
(5)
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menjaga agar tidak dilakukan hal atau diajukan pertanyaan yang mengakibatkan
Terdakwa atau
Saksi memberikan jawaban secara tidak bebas.
(6)
Hakim ketua sidang dapat menentukan bahwa anak yang belum mencapai umur 17 (tujuh belas) tahun tidak dibolehkan menghadiri sidang.
Pasal 203
(1)
Jika
Terdakwa ternyata telah dipanggil secara sah tetapi tidak datang di sidang tanpa alasan yang sah, pemeriksaan perkara tersebut tidak dapat dilangsungkan dan
Hakim ketua sidang memerintahkan agar
Terdakwa dipanggil sekali lagi.
(2)
Dalam hal pemeriksaan perkara
Terdakwa yang tidak ditahan tidak hadir pada hari sidang yang telah ditetapkan,
Hakim ketua sidang meneliti apakah
Terdakwa sudah dipanggil secara sah.
(3)
Hakim ketua sidang memerintahkan agar
Terdakwa yang tidak hadir tanpa alasan yang sah setelah dipanggil secara sah untuk kedua kalinya dihadirkan dengan paksa pada sidang berikutnya.
(4)
Dalam hal suatu perkara terdapat lebih dari seorang
Terdakwa dan tidak semua
Terdakwa hadir pada hari sidang, pemeriksaan terhadap
Terdakwa yang hadir tetap dapat dilaksanakan.
Pasal 204
(1)
Pada permulaan sidang,
Hakim ketua sidang menanyakan kepada
Terdakwa mengenai nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaannya serta mengingatkan
Terdakwa supaya memperhatikan segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya di sidang.
(2)
Dalam keadaan tertentu, baik sejak awal persidangan perkara maupun pada saat persidangan perkara sedang berlangsung,
Hakim /majelis hakim karena jabatannya atau atas permintaan dari
Penuntut Umum dan/atau
Terdakwa atau
Advokat dapat menetapkan persidangan yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara elektronik.
(4)
Jika
Terdakwa tidak mengerti isi surat dakwaan,
Penuntut Umum atas permintaan
Hakim ketua sidang wajib memberi penjelasan yang diperlukan.
(5)
Dalam hal tindak pidana yang didakwakan bukan merupakan:
tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
tindak pidana terhadap keamanan negara, negara sahabat, kepala negara sahabat serta wakilnya, dan kesusilaan;
tindak pidana terorisme;
tindak pidana kekerasan seksual;
tindak pidana korupsi;
tindak pidana terhadap nyawa orang;
tindak pidana yang diancam dengan pidana minimum khusus;
tindak pidana tertentu yang sangat membahayakan atau merugikan masyarakat; dan/atau
tindak pidana narkotika kecuali yang berstatus sebagai pengguna atau penyalahguna, Hakim menanyakan kepada Terdakwa apakah akan mengupayakan kesepakatan perdamaian dengan Korban .
(6)
Dalam hal
Terdakwa dan
Korban bersepakat untuk melakukan perdamaian, perdamaian tersebut dibuktikan dengan surat kesepakatan perdamaian dan ditandatangani oleh Terdakwa, Korban, dan
Hakim .
(7)
Perdamaian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat dilakukan dengan persyaratan:
Terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana;
telah terjadi pemulihan keadaan semula oleh Terdakwa ; dan
tidak adanya hubungan ketimpangan relasi kuasa antara Korban dengan Terdakwa .
(8)
Kesepakatan perdamaian dan/atau kesediaan
Terdakwa untuk bertanggung jawab atas kerugian dan/atau kebutuhan
Korban sebagai akibat tindak pidana menjadi alasan yang meringankan hukuman dan/atau menjadi pertimbangan untuk menjatuhkan pidana pengawasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(9)
Ketentuan lebih lanjut mengenai perdamaian antara
Terdakwa dengan
Korban diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 205
(3)
Dalam hal
Hakim memperoleh keyakinan bahwa seluruh hal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah terpenuhi,
Hakim menentukan perkara akan diperiksa dengan acara pemeriksaan singkat.
(4)
Dalam hal
Terdakwa tidak mengakui perbuatan yang didakwakan kepadanya atau
Hakim tidak memperoleh keyakinan bahwa hal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah terpenuhi,
Hakim melanjutkan pemeriksaan perkara dengan acara pemeriksaan biasa.
(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengakuan
Terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 206
(1)
Dalam hal
Terdakwa atau
Advokat mengajukan perlawanan bahwa pengadilan tidak berwenang
Mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan, setelah diberi kesempatan kepada
Penuntut Umum untuk menyatakan pendapatnya,
Hakim mempertimbangkan perlawanan tersebut untuk selanjutnya mengambil keputusan.
(2)
Dalam hal
Hakim menyatakan perlawanan tersebut diterima, perkara tersebut tidak diperiksa lebih lanjut.
(3)
Dalam hal
Hakim menyatakan perlawanan tidak diterima atau
Hakim berpendapat hal tersebut baru dapat diputus setelah selesai pemeriksaan, sidang dilanjutkan.
(4)
Penuntut Umum dapat mengajukan perlawanan terhadap putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pengadilan tinggi melalui pengadilan negeri yang bersangkutan.
(5)
Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan perlawanan yang diajukan oleh
Terdakwa atau Advokatnya diterima oleh pengadilan tinggi, dalam jangka waktu 14 (empat belas) Hari, pengadilan tinggi dengan surat penetapannya membatalkan putusan pengadilan negeri dan memerintahkan pengadilan negeri yang berwenang untuk memeriksa perkara tersebut.
(6)
Dalam hal perlawanan diajukan bersama dengan permohonan banding oleh
Terdakwa atau Advokatnya kepada pengadilan tinggi, pengadilan tinggi dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari terhitung sejak menerima perkara membenarkan perlawanan
Terdakwa melalui keputusan membatalkan putusan pengadilan negeri yang bersangkutan dan menunjuk pengadilan negeri yang berwenang.
(7)
Pengadilan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) menyampaikan salinan keputusan kepada pengadilan negeri yang berwenang dan kepada pengadilan negeri yang semula
Mengadili perkara untuk diteruskan kepada kejaksaan negeri yang telah melimpahkan perkara tersebut.
(8)
Dalam hal pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) berkedudukan di daerah hukum pengadilan tinggi lain, kejaksaan negeri mengirimkan perkara tersebut kepada kejaksaan negeri dalam daerah hukum pengadilan negeri yang berwenang di tempat itu.
(9)
Hakim ketua sidang karena jabatannya walaupun tidak ada perlawanan, setelah mendengar pendapat
Penuntut Umum dan
Terdakwa dengan surat penetapan yang memuat alasannya dapat menyatakan pengadilan tidak berwenang.
Pasal 207
(1)
Hakim wajib mengundurkan diri untuk
Mengadili perkara apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga, hubungan suami atau istri meskipun sudah bercerai dengan
Hakim ketua sidang, salah seorang
Hakim anggota, Penuntut Umum, atau panitera.
(2)
Hakim ketua sidang,
Hakim anggota, Penuntut Umum, atau panitera wajib mengundurkan diri dari menangani perkara apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga atau hubungan suami atau istri meskipun sudah bercerai dengan
Terdakwa atau dengan
Advokat .
(3)
Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dipenuhi,
Hakim ketua sidang,
Hakim anggota, Penuntut Umum, dan panitera yang mengundurkan diri harus diganti.
(4)
Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi atau tidak diganti sedangkan perkara telah diputus, perkara dalam waktu paling lama 2 (dua)
Hari sejak tanggal putusan wajib diadili ulang dengan susunan yang lain.
Pasal 208
Sebelum majelis MEMUTUSKAN,
Hakim dilarang menunjukkan sikap atau mengeluarkan pernyataan di sidang mengenai keyakinan mengenai salah atau tidaknya
Terdakwa .
Pasal 209
(1)
Hakim ketua sidang meneliti apakah semua
Saksi atau
Ahli yang dipanggil telah hadir dan memberi perintah untuk mencegah jangan sampai
Saksi atau
Ahli berhubungan satu dengan yang lain sebelum memberi keterangan di sidang.
(2)
Dalam hal
Saksi atau
Ahli tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan sah dan
Hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk menyangka bahwa
Saksi itu tidak akan hadir,
Hakim ketua sidang dapat memerintahkan agar
Saksi tersebut dihadapkan ke persidangan.
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai terjadi saling mempengaruhi di antara para Saksi sehingga keterangan Saksi tidak dapat diberikan secara bebas.
Ayat (2)
Menjadi Saksi adalah salah satu kewajiban setiap orang. Orang yang menjadi Saksi setelah dipanggil ke suatu sidang pengadilan untuk memberikan keterangan, tetapi dengan menolak kewajiban itu, orang yang menjadi Saksi dapat dikenakan pidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang. Demikian pula halnya dengan Ahli .
Pasal 210
(2)
Sesudah pernyataan pembuka,
Saksi dan
Ahli memberikan keterangan.
(3)
Urutan
Saksi dan
Ahli ditentukan oleh pihak yang memanggil.
(4)
Penuntut Umum mengajukan Saksi, Ahli, dan buktinya terlebih dahulu.
(6)
Hakim ketua sidang menanyakan kepada
Saksi dan/atau
Ahli mengenai nama lengkap, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan
Saksi dan/atau
Ahli .
(7)
Selain menanyakan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (6),
Hakim juga menanyakan apakah
Saksi mengenal
Terdakwa sebelum
Terdakwa melakukan perbuatan yang menjadi dasar dakwaan atau apakah
Saksi mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat ketiga dengan Terdakwa, atau suami atau istri dari Terdakwa, atau pernah menjadi suami atau istri dari Terdakwa, atau terikat hubungan kerja dengannya.
(8)
Setelah pengajuan
Saksi dan bukti oleh Penuntut Umum,
Advokat dapat menghadirkan bukti, Ahli, dan
Saksi .
(9)
Terdakwa memberikan keterangan pada akhir pemeriksaan.
(10)
Setelah pemeriksaan Terdakwa,
Penuntut Umum dapat memanggil
Saksi atau
Ahli tambahan untuk menyanggah pembuktian dari
Advokat selama persidangan.
(11)
Dalam hal terdapat
Saksi atau Ahli, baik yang menguntungkan maupun yang memberatkan Terdakwa, yang tidak tercantum dalam berkas perkara dan/atau yang diminta oleh Terdakwa, Advokat, atau
Penuntut Umum selama sidang berlangsung atau sebelum dijatuhkan putusan,
Hakim ketua sidang dapat mengabulkan atau menolak untuk mendengar
Keterangan Saksi atau
Ahli tersebut.
(12)
Sebelum
Saksi atau
Ahli memberikan keterangan,
Hakim mengambil sumpah atau janji terhadap
Saksi atau
Ahli berdasarkan agama atau kepercayaannya bahwa akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan sejujurnya.
Pasal 211
Keterangan Saksi atau Ahli yang tidak mau disumpah atau mengucapkan janji, tidak dapat dianggap sebagai alat bukti yang sah, tetapi hanyalah merupakan keterangan yang dapat menguatkan keyakinan Hakim .
Pasal 212
(1)
Jika
Saksi setelah memberi keterangan dalam
Penyidikan tidak hadir di sidang karena:
meninggal dunia atau karena halangan yang sah;
jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya; atau
karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, keterangan yang telah diberikan tersebut dibacakan.
(2)
Jika keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan di bawah sumpah atau janji, keterangan tersebut oleh
Hakim dapat dipertimbangkan sebagai
Keterangan Saksi di bawah sumpah atau janji yang diucapkan di sidang.
Pasal 213
Jika
Keterangan Saksi di sidang berbeda dengan keterangan yang terdapat dalam berita acara,
Hakim ketua sidang mengingatkan
Saksi mengenai hal tersebut dan meminta keterangan mengenai perbedaan yang ada dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan sidang.
Pasal 214
(7)
Hakim ketua sidang dapat menolak pertanyaan yang diajukan oleh
Penuntut Umum atau
Advokat kepada Saksi, Ahli, dan
Terdakwa dalam hal
Hakim ketua sidang menilai bahwa pertanyaan tersebut tidak relevan dengan perkara yang disidangkan dan menyebutkan alasannya mengapa pertanyaan tertentu tidak diperbolehkan.
(8)
Dalam hal diperlukan,
Hakim berwenang mengajukan pertanyaan untuk mengklarifikasi pertanyaan yang diajukan oleh
Penuntut Umum atau
Advokat kepada Saksi, Ahli, atau
Terdakwa .
(9)
Hakim ketua sidang dan
Hakim anggota dapat meminta kepada
Saksi segala keterangan yang dipandang perlu untuk mendapatkan kebenaran.
Ayat (7)
Yang dimaksud dengan "tidak relevan" misalnya pertanyaan yang diajukan membuat rancu, menyesatkan, melecehkan, tidak benar, hanya mengulang-ulang, mengulur waktu, atau diajukan dengan cara yang tidak tepat.
Pasal 215
Pertanyaan yang bersifat menjerat dilarang diajukan kepada
Saksi Ahli, atau
Terdakwa .
Yang dimaksud dengan "pertanyaan yang bersifat menjerat" misalnya Hakim dalam salah satu pertanyaan menyebutkan suatu tindak pidana yang tidak diakui telah dilakukan oleh Terdakwa atau tidak dinyatakan oleh Saksi, tetapi dianggap seolah-olah diakui atau dinyatakan. Pertanyaan yang bersifat menjerat tidak boleh diajukan kepada Terdakwa ataupun kepada Saksi . Ketentuan ini sesuai dengan prinsip bahwa keterangan Terdakwa atau Saksi harus diberikan secara bebas di semua tingkat pemeriksaan. Dalam pemeriksaan di sidang pengadilan, Hakim, Penuntut Umum, atau Advokat tidak boleh melakukan tekanan dengan cara apapun, misalnya dengan intimidasi, mengancam yang mengakibatkan Terdakwa atau Saksi memberikan keterangan hal yang berbeda dari hal yang dapat dianggap sebagai pernyataan pikirannya yang bebas.
Pasal 216
(1)
Penuntut Umum dengan izin
Hakim ketua sidang memperlihatkan kepada
Terdakwa semua alat bukti dan menanyakan kepada
Terdakwa apakah mengenal alat bukti tersebut dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 214 .
(3)
Untuk kepentingan pembuktian,
Hakim ketua sidang dapat membacakan atau memperlihatkan surat atau berita acara kepada
Terdakwa atau
Saksi dan selanjutnya meminta keterangan yang diperlukan mengenai hal tersebut kepada
Terdakwa atau
Saksi .
Pasal 217
(1)
Setelah
Saksi memberi keterangan,
Saksi diharuskan tetap hadir di sidang, kecuali
Hakim ketua sidang memberi izin untuk meninggalkannya.
(2)
Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan, jika Penuntut Umum, Terdakwa, atau
Advokat mengajukan permintaan agar
Saksi tersebut tetap menghadiri sidang.
(3)
Para
Saksi selama sidang berlangsung dilarang saling bercakap-cakap.
Pasal 218
Saksi tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai Saksi, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini, dalam hal:
mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari Terdakwa ;
bersama-sama sebagai Tersangka atau Terdakwa walaupun perkaranya dipisah;
mempunyai hubungan saudara dari Terdakwa atau saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara Terdakwa sampai derajat ketiga; dan/atau
berstatus sebagai suami atau istri Terdakwa atau pernah sebagai suami atau istri Terdakwa .
Huruf b
Bersama-sama menjadi Tersangka atau Terdakwa, termasuk jika suatu tindak pidana dilakukan bersama-sama oleh para Tersangka atau Terdakwa, tetapi berkas perkara dipisahkan. Ketentuan ini untuk menghindari pemberian keterangan yang dapat memberatkan diri Tersangka atau Terdakwa sendiri, jika Tersangka atau Terdakwa bergantian menjadi Saksi dalam perkara yang dipisah.
Pasal 219
(2)
Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dikehendaki,
Saksi dapat memberikan keterangan tanpa sumpah atau janji.
Pasal 220
(1)
Orang yang karena harkat martabat, pekerjaan, atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia dapat meminta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai
Saksi mengenai hal yang dipercayakan kepada mereka.
(2)
Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Ayat (1)
Pekerjaan atau jabatan yang menentukan adanya kewajiban untuk menyimpan rahasia ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.
Pasal 221
Seseorang yang dapat diminta memberikan keterangan tanpa sumpah atau janji adalah:
anak yang belum berumur 14 (empat belas) tahun; atau
Penyandang Disabilitas mental dan/atau disabilitas intelektual.
Anak yang belum berumur 14 (empat belas) tahun atau penyandang disabilitas mental dan/atau disabilitas intelektual tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara sempurna dalam hukum pidana. Untuk itu, yang bersangkutan tidak dapat diambil sumpah atau janji dalam memberikan keterangan dan keterangannya hanya dipakai sebagai petunjuk saja.
Pasal 222
(1)
Setelah
Saksi memberi keterangan,
Terdakwa atau Advokatnya dapat mengajukan permintaan kepada
Hakim ketua sidang agar di antara
Saksi tersebut yang tidak dikehendaki kehadirannya dikeluarkan dari ruang sidang, dan
Saksi yang lain dipanggil masuk oleh
Hakim ketua sidang untuk didengar keterangannya, baik seorang demi seorang maupun bersama-sama tanpa hadirnya
Saksi yang dikeluarkan tersebut.
(2)
Dalam hal dipandang perlu,
Hakim karena jabatannya dapat meminta agar
Saksi yang telah didengar keterangannya keluar dari ruang sidang untuk selanjutnya mendengar
Keterangan Saksi yang lain.
Pasal 223
Ayat (1)
Jika menurut pendapat Hakim seorang Saksi akan merasa tertekan atau tidak bebas dalam memberikan keterangan apabila Terdakwa hadir, untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, Hakim dapat menyuruh Terdakwa ke luar untuk sementara dari persidangan selama Hakim mengajukan pertanyaan kepada Saksi .
Pasal 224
(1)
Dalam hal
Keterangan Saksi di sidang diduga palsu,
Hakim ketua sidang memperingatkan dengan sungguh-sungguh kepada
Saksi agar memberikan keterangan yang sebenar-benarnya dan mengemukakan ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada
Saksi apabila tetap memberikan keterangan palsu.
(2)
Dalam hal
Saksi tetap memberikan keterangan yang diduga palsu,
Hakim ketua sidang karena jabatannya atau atas permintaan
Penuntut Umum atau
Terdakwa dapat memberi perintah agar
Saksi ditahan dan dituntut dengan dakwaan sumpah palsu.
(3)
Panitera dalam waktu paling lama 2 (dua)
Hari membuat berita acara pemeriksaan sidang yang memuat
Keterangan Saksi dengan menyebutkan alasan persangkaan bahwa
Keterangan Saksi tersebut palsu dan berita acara tersebut ditandatangani oleh
Hakim ketua sidang serta panitera dan segera diserahkan kepada
Penuntut Umum untuk diselesaikan sesuai ketentuan dalam Undang-Undang ini.
(4)
Dalam hal diperlukan,
Hakim ketua sidang menangguhkan sidang dalam perkara semula sampai pemeriksaan perkara pidana terhadap dugaan keterangan palsu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selesai.
Pasal 225
Dalam hal
Terdakwa tidak menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya,
Hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan.
Pasal 226
(1)
Dalam hal
Terdakwa bertingkah laku yang tidak patut sehingga mengganggu ketertiban sidang,
Hakim ketua sidang berwenang menegur
Terdakwa dan meminta untuk bertingkah laku tertib dan patut.
(2)
Dalam hal teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditaati atau
Terdakwa secara terus menerus bertingkah laku tidak patut,
Hakim memerintahkan agar
Terdakwa dikeluarkan dari ruang sidang dan pemeriksaan perkara tersebut dilanjutkan tanpa hadirnya
Terdakwa .
(3)
Dalam hal tindakan
Terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap dilakukan,
Hakim ketua sidang mengusahakan upaya sedemikian rupa sehingga putusan tetap dapat dijatuhkan dengan tanpa hadirnya
Terdakwa .
Pasal 227
(1)
Dalam hal
Terdakwa atau
Saksi tidak memahami atau tidak bisa berbahasa Indonesia,
Hakim ketua sidang menunjuk seorang Penerjemah yang bersumpah atau berjanji akan menerjemahkan dengan benar semua yang harus diterjemahkan.
(2)
Dalam hal seseorang tidak diperbolehkan menjadi
Saksi dalam suatu perkara, yang bersangkutan dilarang menjadi Penerjemah dalam perkara itu.
Pasal 228
(1)
Dalam hal
Terdakwa atau
Saksi disabilitas dan/atau tidak dapat menulis,
Hakim ketua sidang mengangkat pendamping disabilitas atau petugas lain yang terkait dengan ragam disabilitas
Terdakwa atau
Saksi tersebut sebagai juru bahasa.
(2)
Dalam hal
Terdakwa atau
Saksi bisu atau tuli tetapi dapat menulis,
Hakim ketua sidang menyampaikan semua pertanyaan atau teguran secara tertulis kepada
Terdakwa atau
Saksi tersebut untuk diperintahkan menulis jawabannya dan selanjutnya semua pertanyaan serta jawaban harus dibacakan.
Pasal 229
(1)
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai
Ahli kedokteran kehakiman, dokter, atau
Ahli lainnya wajib memberikan
Keterangan Ahli demi keadilan.
(2)
Semua ketentuan mengenai
Saksi berlaku juga bagi
Ahli yang memberikan keterangan, dengan ketentuan bahwa
Ahli yang mengucapkan sumpah atau janji tersebut akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.
Pasal 230
(1)
Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduk persoalan yang timbul di sidang pengadilan,
Hakim ketua sidang dapat meminta
Keterangan Ahli dan dapat pula meminta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2)
Dalam hal timbul perlawanan yang beralasan dari
Terdakwa atau Advokatnya terhadap hasil
Keterangan Ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Hakim memerintahkan agar hal tersebut dilakukan penelitian ulang, termasuk penelitian ulang atas
Keterangan Ahli tersebut.
(3)
Penelitian ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh instansi semula dengan komposisi personal yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai wewenang untuk itu.
Pasal 231
(1)
Setelah kesaksian dan bukti disampaikan oleh kedua belah pihak,
Penuntut Umum dan
Advokat diberi kesempatan untuk menyampaikan keterangan lisan yang menjelaskan mengenai bukti yang diajukan di persidangan mendukung pendapat mereka mengenai perkara tersebut.
(2)
Dalam hal pemeriksaan dinyatakan selesai,
Penuntut Umum mengajukan tuntutan pidana kepada
Terdakwa setelah menguraikan hal yang memberatkan dan meringankan
Terdakwa .
(4)
Tuntutan atau jawaban atas pembelaan dilakukan secara tertulis dan setelah dibacakan dalam waktu paling lambat 1 (satu)
Hari diserahkan kepada
Hakim ketua sidang dan salinannya kepada pihak yang berkepentingan.
(5)
Jika ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) selesai dilaksanakan,
Hakim ketua sidang menyatakan bahwa pemeriksaan dinyatakan ditutup.
Pasal 232
(1)
Dalam hal tertentu, baik atas kewenangan
Hakim ketua sidang karena jabatannya maupun atas permintaan
Penuntut Umum atau
Terdakwa atau Advokatnya dengan memberikan alasan yang dapat diterima, sidang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 231 ayat (5) dapat dibuka kembali.
(2)
Setelah ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan,
Hakim mengadakan musyawarah terakhir untuk mengambil keputusan dan apabila perlu musyawarah tersebut diadakan setelah Terdakwa, Saksi, Advokat, Penuntut Umum, dan hadirin meninggalkan ruang sidang.
(4)
Dalam musyawarah tersebut
Hakim ketua sidang mengajukan pertanyaan dimulai dari
Hakim yang termuda sampai pada
Hakim yang tertua, sedangkan
Hakim ketua sidang mengemukakan pendapatnya yang terakhir dan semua pendapat tersebut dicatat.
(5)
Pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus disertai dengan pertimbangan beserta alasannya.
Pasal 233
(1)
Putusan dalam musyawarah majelis merupakan hasil permufakatan bulat.
(2)
Dalam hal permufakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dicapai setelah diusahakan dengan sungguh-sungguh, putusan diambil dengan suara terbanyak.
(3)
Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak juga dapat dipenuhi, putusan diambil berdasarkan pendapat
Hakim yang paling menguntungkan bagi
Terdakwa .
(4)
Pelaksanaan pengambilan putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dicatat dalam buku himpunan putusan yang sifatnya rahasia yang disediakan khusus untuk keperluan tersebut.
(6)
Dalam hal putusan dijatuhkan dan diumumkan pada hari lain, putusan tersebut sebelumnya harus diberitahukan kepada Penuntut Umum, Terdakwa, atau
Advokat .
Pasal 234
(1)
Pada saat
Penuntut Umum membacakan surat dakwaan,
Terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidana yang didakwakan tidak lebih dari 7 (tujuh) tahun,
Penuntut Umum dapat melimpahkan perkara ke sidang acara pemeriksaan singkat.
(3)
Hakim wajib:
memberitahukan kepada Terdakwa mengenai hak yang dilepaskannya dengan memberikan pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
memberitahukan kepada Terdakwa mengenai lamanya pidana yang kemungkinan dikenakan; dan
menanyakan apakah pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan secara sukarela.
(4)
Hakim dapat menolak pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) jika
Hakim ragu terhadap kebenaran pengakuan
Terdakwa .
(5)
Penjatuhan pidana terhadap
Terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh melebihi 2/3 (dua per tiga) dari maksimum pidana tindak pidana yang didakwakan.
(6)
Hakim atas kehendaknya sendiri atau atas permintaan
Terdakwa atau Advokatnya dapat memberi penjelasan mengenai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Keempat - Pembuktian
Pasal 235
(1)
Alat bukti terdiri atas:
Keterangan Saksi ;
Keterangan Ahli ;
surat;
keterangan Terdakwa ;
barang bukti;
bukti elektronik;
pengamatan Hakim ; dan
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum.
(2)
Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
(3)
Alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat dibuktikan autentikasinya dan diperoleh secara tidak melawan hukum.
(4)
Hakim berwenang menilai autentikasi dan sah atau tidaknya perolehan alat bukti yang diajukan.
(5)
Alat bukti yang oleh
Hakim dinyatakan tidak autentik dan/atau diperoleh secara melawan hukum tidak dapat digunakan sebagai alat bukti pada pemeriksaan di sidang pengadilan dan tidak memiliki kekuatan pembuktian.
Ayat (1)
Huruf c
Yang dimaksud dengan "surat" adalah dokumen yang ditulis di atas kertas, termasuk juga dokumen atau data yang tertulis atau tersimpan dalam disket, pita magnetik, atau media penyimpan komputer atau media penyimpan data elektronik lain.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "barang bukti" adalah barang atau alat yang secara langsung atau tidak langsung untuk melakukan tindak pidana (real evidence atau physical evidence) atau hasil tindak pidana.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "bukti elektronik" adalah informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu, termasuk setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik yang berupa tulisan, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.
Pasal 236
(2)
Dalam hal
Keterangan Saksi tidak dapat disampaikan secara langsung di sidang pengadilan,
Keterangan Saksi dapat disampaikan melalui alat komunikasi audio visual.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara penyampaian
Keterangan Saksi melalui alat komunikasi audiovisual sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Ayat (3)
Penyandang Disabilitas memiliki kekhususan pengaturan, yaitu setiap orang yang dapat memberikan keterangan mengenai suatu peristiwa pidana meskipun tidak ia dengar sendiri, tidak ia lihat sendiri, atau tidak ia alami sendiri sepanjang keterangannya relevan dengan kepentingan Penyidikan, Penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, atau orang yang memiliki dan/atau menguasai data dan/atau informasi yang berkaitan dengan perkara pidana yang sedang diperiksa. Setiap Saksi, termasuk Penyandang Disabilitas, berhak memperoleh dukungan untuk memberikan keterangannya secara bebas dan tanpa hambatan, sehingga memiliki kekuatan pembuktian yang sama dengan Keterangan Saksi pada umumnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 237
(1)
Keterangan 1 (satu) orang
Saksi tidak cukup untuk membuktikan bahwa
Terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku jika keterangan seorang
Saksi diperkuat dengan alat bukti lain.
(3)
Keterangan beberapa
Saksi mengenai suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai alat bukti dalam hal keterangan beberapa
Saksi tersebut saling berhubungan satu sama lain sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
(4)
Pendapat atau rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran belaka bukan merupakan
Keterangan Saksi .
(5)
Dalam menilai kebenaran Keterangan Saksi,
Hakim wajib memperhatikan:
kesesuaian antara Keterangan Saksi satu dengan yang lain;
kesesuaian antara Keterangan Saksi dengan alat bukti yang lain;
alasan yang mungkin dipergunakan oleh Saksi untuk memberi keterangan tertentu;
cara hidup dan kesusilaan Saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dipercayanya keterangan tersebut; dan/atau
konsistensi keterangan dari Saksi sebelum dan Keterangan Saksi pada waktu sidang.
(6)
Keterangan Saksi yang tidak disumpah yang sesuai satu dengan yang lain, walaupun tidak merupakan alat bukti, dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti jika keterangan tersebut sesuai dengan keterangan dari
Saksi yang disumpah.
Pasal 238
(1)
Keterangan Ahli sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 235 ayat (1) huruf b disampaikan secara langsung di sidang pengadilan di bawah sumpah atau janji mengenai apa yang diketahui sesuai dengan keahliannya.
(2)
Dalam memberikan keterangan di depan sidang pengadilan
Ahli tidak wajib menyampaikan surat tugas atau izin dari institusi atau lembaga dimana
Ahli bekerja.
(3)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikecualikan terhadap
Ahli yang sebelum memberikan keterangan di depan sidang pengadilan perlu melakukan pemeriksaan, penelitian, atau pengamatan terlebih dahulu terkait perkara tersebut.
Ayat (2)
Ahli yang membutuhkan surat izin atau surat tugas dari institusi atau lembaga, antara lain, seorang dokter yang melakukan bedah mayat atau seorang auditor yang harus melakukan audit keuangan.
Pasal 239
Surat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 235 ayat (1) huruf c, dibuat berdasarkan sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, yakni:
berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan mengenai kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat, atau dialami sendiri disertai dengan alasan yang tegas dan jelas mengenai keterangannya;
surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam ketatalaksanaan yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian suatu hal atau suatu keadaan;
surat Keterangan Ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal atau suatu keadaan yang diminta secara resmi darinya; dan
surat lain yang hanya dapat berlaku, jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
Huruf a
Yang dimaksud dengan "surat lain" misalnya, akta di bawah tangan.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "surat yang dibuat oleh pejabat" adalah surat yang dikeluarkan berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 240
(1)
Keterangan
Terdakwa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 235 ayat (1) huruf d merupakan segala hal yang dinyatakan oleh
Terdakwa dalam pemeriksaan di sidang pengadilan mengenai perbuatan yang dilakukan atau diketahui sendiri atau dialami sendiri.
(2)
Keterangan
Terdakwa yang diberikan di luar pemeriksaan di sidang pengadilan dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti dalam pemeriksaan di sidang pengadilan, dengan ketentuan bahwa keterangan tersebut didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
(3)
Keterangan
Terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
(4)
Keterangan
Terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa
Terdakwa bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang sah lainnya.
Pasal 241
Barang bukti sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 235 ayat (1) huruf e mencakup:
alat atau sarana untuk melakukan tindak pidana;
alat atau sarana yang menjadi objek tindak pidana; dan/atau
aset yang merupakan hasil tindak pidana.
Pasal 242
Bukti elektronik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 235 ayat (1) huruf f mencakup segala bentuk Informasi Elektronik, Dokumen Elektronik, dan/atau sistem elektronik yang berkaitan dengan tindak pidana.
Bagian Kelima - Putusan
Pasal 243
(1)
Selama pemeriksaan di sidang pengadilan, jika
Terdakwa tidak ditahan, pengadilan dapat memerintahkan dengan surat penetapan untuk menahan
Terdakwa jika dipenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 100 dan terdapat alasan yang cukup untuk itu.
(2)
Dalam hal
Terdakwa ditahan, pengadilan dapat memerintahkan dengan surat penetapan untuk menangguhkan
Penahanan Terdakwa, jika terdapat alasan yang cukup untuk itu sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 110 ayat (1) .
Pasal 244
(1)
Dalam hal
Hakim berpendapat bahwa hasil pemeriksaan di sidang pengadilan, tindak pidana yang didakwakan terbukti secara sah dan meyakinkan,
Terdakwa dikenai sanksi berupa pidana atau tindakan.
(2)
Dalam hal
Hakim berpendapat bahwa hasil pemeriksaan di sidang pengadilan, tindak pidana yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan,
Terdakwa diputus bebas.
(3)
Dalam hal
Hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada
Terdakwa terbukti, tetapi ada dasar peniadaan pidana,
Terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum.
(4)
Dalam hal
Terdakwa diputus bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Terdakwa yang ada dalam tahanan dilepaskan dari tahanan sejak putusan diucapkan.
(5)
Dalam hal
Terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan
Penuntut Umum tidak melakukan upaya banding,
Terdakwa yang ada dalam tahanan dilepaskan dari tahanan sejak putusan diucapkan.
Pasal 245
(2)
Dalam waktu paling lama 3 (tiga)
Hari setelah putusan diucapkan,
Penuntut Umum harus membuat dan menyampaikan laporan tertulis kepada ketua pengadilan yang bersangkutan mengenai pelaksanaan perintah tersebut dengan melampirkan surat pelepasan.
Pasal 246
(1)
Hakim dapat menjatuhkan putusan yang menyatakan
Terdakwa terbukti bersalah, namun tidak menjatuhkan pidana atau tindakan, dengan mempertimbangkan:
ringannya perbuatan;
keadaan pribadi pelaku; dan/atau
keadaan pada saat dan setelah terjadinya tindak pidana.
(2)
Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikategorikan sebagai jenis putusan tersendiri, yaitu
Putusan Pemaafan Hakim .
(3)
Terhadap putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), para pihak dapat mengajukan
Upaya Hukum sesuai ketentuan dalam Undang-Undang ini.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, format, dan syarat
Putusan Pemaafan Hakim diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung.
Pasal 247
(1)
Dalam hal putusan berupa Putusan Pemaafan Hakim, pemidanaan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, pengadilan menetapkan supaya barang bukti yang disita diserahkan kepada pihak yang paling berhak menerima kembali yang namanya tercantum dalam putusan tersebut, kecuali jika menurut ketentuan peraturan perundang-undangan barang bukti tersebut harus dirampas untuk kepentingan negara atau dimusnahkan atau dirusak sehingga tidak dapat dipergunakan lagi.
(2)
Dalam hal barang bukti yang disita diserahkan kepada pihak yang paling berhak, pengadilan menetapkan supaya barang bukti diserahkan segera sesudah sidang selesai.
(3)
Perintah penyerahan barang bukti dilakukan tanpa disertai suatu syarat apapun, kecuali dalam hal
Putusan Pengadilan belum mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pasal 248
Semua
Putusan Pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum jika diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
Pasal 249
(1)
Pengadilan memutus perkara dengan hadirnya Terdakwa, kecuali Undang-Undang menentukan lain.
(2)
Dalam hal terdapat lebih dari seorang
Terdakwa dalam satu perkara, putusan dapat diucapkan dengan hadirnya
Terdakwa yang ada.
(3)
Segera sesudah putusan pemidanaan diucapkan,
Hakim ketua sidang wajib memberitahukan kepada
Terdakwa yang menjadi haknya, yaitu:
hak segera menerima atau segera menolak putusan;
hak mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak putusan dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini;
hak untuk dapat mengajukan grasi, dalam hal Terdakwa menerima putusan;
hak meminta diperiksa perkaranya di tingkat banding dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini, dalam hal Terdakwa menolak putusan; dan
hak untuk mencabut pernyataan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini.
Pasal 250
(1)
Putusan pemidanaan di pengadilan tingkat pertama memuat:
kepala putusan yang dituliskan berbunyi: "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA";
nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan Terdakwa ;
dakwaan sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan;
pertimbangan yang disusun secara jelas dan lengkap mengenai fakta dan keadaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang pengadilan yang menjadi dasar penentuan kesalahan Terdakwa ;
tuntutan pidana sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan;
pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa ;
hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis Hakim, kecuali perkara diperiksa oleh Hakim tunggal;
pernyataan kesalahan Terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pidana dan/atau tindakan yang dijatuhkan;
ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti;
keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan di mana letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat autentik dianggap palsu;
perintah supaya Terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan; dan
hari dan tanggal putusan, nama Penuntut Umum, nama Hakim yang memutus, dan nama panitera.
(2)
Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf h, huruf j, dan huruf l mengakibatkan putusan batal demi hukum.
(3)
Putusan dilaksanakan dengan segera menurut ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 251
(1)
Hakim wajib mempertimbangkan pedoman pemidanaan sebagaimana tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang lain dalam setiap putusan pemidanaan.
(2)
Format
Putusan Pengadilan harus mencantumkan bagian khusus yang menjelaskan pertimbangan
Hakim terhadap pedoman pemidanaan.
(3)
Mahkamah Agung menyusun dan memutakhirkan format baku putusan yang memuat bagian sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal 252
(1)
Apabila
Hakim atau
Penuntut Umum berhalangan, ketua pengadilan atau pejabat kejaksaan yang berwenang wajib menunjuk pengganti pejabat yang berhalangan tersebut dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari .
(3)
Dalam hal pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ternyata tidak ada atau juga berhalangan maka sidang dapat dilanjutkan.
Pasal 253
(1)
Putusan yang bukan merupakan pemidanaan memuat:
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 250 ayat (1) kecuali huruf e, huruf f, dan huruf h;
pernyataan bahwa Terdakwa diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, dengan menyebutkan alasan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar putusan; dan
perintah supaya Terdakwa yang ditahan dibebaskan sejak putusan diucapkan.
(2)
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 250 ayat (2) dan ayat (3) berlaku juga terhadap pasal ini.
Pasal 254
Petikan putusan ditandatangan oleh
Hakim dan panitera segera setelah putusan diucapkan.
Pasal 255
(1)
Dalam hal terdapat surat palsu atau dipalsukan, panitera melekatkan petikan putusan yang ditandatanganinya pada surat tersebut yang memuat keterangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 250 ayat (1) huruf j dan surat palsu atau yang dipalsukan tersebut diberi catatan dengan menunjuk pada petikan putusan tersebut.
(2)
Salinan pertama dari surat palsu atau yang dipalsukan tidak diberikan, kecuali panitera sudah membubuhi catatan pada catatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan salinan petikan putusan.
Pasal 256
(1)
Panitera membuat berita acara sidang dengan memperhatikan persyaratan yang diperlukan dan memuat segala kejadian di sidang yang berhubungan dengan pemeriksaan.
(2)
Berita acara sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat juga hal yang penting dari Keterangan Saksi, Terdakwa, dan Ahli, kecuali jika
Hakim ketua sidang menyatakan cukup menunjuk keterangan dalam berita acara pemeriksaan dengan menyebut perbedaan yang terdapat antara yang satu dengan yang lain.
(3)
Atas permintaan Penuntut Umum, Terdakwa, atau Advokat,
Hakim ketua sidang wajib memerintahkan kepada panitera supaya dibuat catatan secara khusus mengenai suatu keadaan atau keterangan.
(4)
Berita acara sidang ditandatangani oleh
Hakim ketua sidang dan panitera, kecuali jika salah satu dari
Hakim ketua sidang dan panitera berhalangan, hal tersebut dinyatakan dalam berita acara.
Bagian Keenam - Acara Pemeriksaan Singkat
Pasal 257
(1)
Perkara yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat merupakan perkara yang menurut
Penuntut Umum pembuktian serta penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana.
(2)
Dalam pemeriksaan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Penuntut Umum menghadapkan
Terdakwa beserta Saksi, barang bukti, Ahli, dan juru bahasa jika diperlukan.
(3)
Dalam acara pemeriksaan singkat berlaku ketentuan:
Penuntut Umum dengan segera setelah Terdakwa di sidang menjawab segala pertanyaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 204 ayat (1) memberitahukan dengan lisan dari catatannya kepada Terdakwa mengenai tindak pidana yang didakwakan kepadanya dengan menerangkan waktu, tempat, dan keadaan pada waktu tindak pidana dilakukan, yang dicatat dalam berita acara sidang dan merupakan pengganti surat dakwaan;
dalam hal Hakim memandang perlu pemeriksaan tambahan maka diadakan pemeriksaan tambahan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) Hari dan apabila dalam jangka waktu tersebut Penuntut Umum belum juga dapat menyelesaikan pemeriksaan tambahan, Hakim memerintahkan perkara tersebut diajukan ke sidang pengadilan dengan acara pemeriksaan biasa;
guna kepentingan pembelaan, atas permintaan Terdakwa dan/atau Advokat, Hakim dapat menunda pemeriksaan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) Hari ;
putusan tidak dibuat secara khusus, tetapi dicatat dalam berita acara sidang; dan
Hakim memberikan surat yang memuat amar putusan dan surat tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama seperti Putusan Pengadilan dalam acara pemeriksaan biasa.
(4)
Perkara yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat tidak menggunakan surat dakwaan, hanya mencantumkan pasal yang dilanggar.
(5)
Pidana penjara yang dapat dijatuhkan terhadap
Terdakwa paling lama 3 (tiga) tahun.
(6)
Sidang perkara singkat dilakukan dengan
Hakim tunggal.
Bagian Ketujuh - Acara Pemeriksaan Cepat
Pasal 258
(1)
Pemeriksaan terhadap tindak pidana ringan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dilakukan melalui acara pemeriksaan cepat.
(2)
Perkara yang diperiksa menurut acara pemeriksaan cepat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perkara yang diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau pidana denda paling banyak kategori II.
(3)
Dalam perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penyidik atas kuasa
Penuntut Umum dalam jangka waktu 3 (tiga)
Hari sejak berita acara pemeriksaan cepat selesai dibuat, menghadapkan
Terdakwa beserta barang bukti, Saksi, Ahli, Penerjemah, atau juru bahasa ke sidang pengadilan.
(4)
Dalam acara pemeriksaan cepat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengadilan
Mengadili dengan
Hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir.
(5)
Dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan,
Terdakwa dapat meminta banding.
Pasal 259
Pengadilan menetapkan hari tertentu dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari untuk
Mengadili perkara dengan acara pemeriksaan cepat.
Pasal 260
(1)
Penyidik memberitahukan secara tertulis kepada
Terdakwa mengenai hari, tanggal, jam, dan tempat
Terdakwa harus menghadapkan sidang pengadilan dan hal tersebut dicatat dengan baik oleh
Penyidik yang selanjutnya catatan dan bersama berkas dikirim ke pengadilan.
(2)
Perkara dengan acara pemeriksaan cepat yang diterima oleh pengadilan harus segera disidangkan pada hari sidang itu juga.
(3)
Hakim yang bersangkutan memerintahkan panitera mencatat dalam buku register semua perkara yang diterimanya.
(4)
Dalam buku register dimuat nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan
Terdakwa serta apa yang didakwakan kepadanya.
Ayat (1)
Pemberitahuan tersebut dimaksudkan agar Terdakwa dapat memenuhi kewajibannya untuk datang ke sidang pengadilan pada hari, tanggal, jam dan tempat yang ditentukan.
Ayat (2)
Sesuai dengan acara pemeriksaan cepat, pemeriksaan dilakukan hari itu juga.
Ayat (3)
Oleh karena penyelesaiannya yang cepat, perkara yang diadili menurut cara pemeriksaan cepat sekaligus dimuat dalam buku register dengan masing-masing diberi nomor untuk dapat diselesaikan secara berurutan.
Ayat (4)
Ketentuan ini memberikan kepastian di dalam mengadili menurut acara pemeriksaan cepat sehingga tidak diperlukan surat dakwaan yang dibuat oleh Penuntut Umum seperti untuk pemeriksaan dengan acara biasa, melainkan dalam buku register.
Pasal 261
Untuk perkara lalu lintas jalan, tidak diperlukan berita acara pemeriksaan, namun catatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 260 ayat (1) segera diserahkan kepada pengadilan paling lambat pada kesempatan hari sidang pertama berikutnya.
Pasal 262
Dalam acara pemeriksaan cepat
Saksi tidak wajib mengucapkan sumpah atau janji, kecuali
Hakim menganggap perlu.
Pasal 263
(1)
Putusan dicatat oleh
Hakim dalam daftar catatan perkara dan selanjutnya oleh panitera dicatat dalam register serta ditandatangani oleh
Hakim yang bersangkutan dan panitera.
(2)
Berita acara pemeriksaan sidang tidak dibuat, kecuali jika dalam pemeriksaan tersebut ternyata terdapat hal yang tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh
Penyidik .
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mempercepat penyelesaian perkara, dengan tetap dilakukan secara teliti dan hati-hati.
Pasal 264
Ketentuan dalam Bagian Kesatu, Bagian Kedua, dan Bagian Ketiga Bab XV tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Bagian Ketujuh Bab XV.
Pasal 265
Terdakwa dapat menunjuk seseorang dengan surat untuk mewakilinya dalam pemeriksaan di sidang pengadilan.
Pasal 266
(1)
Jika
Terdakwa atau wakilnya tidak hadir di sidang, pemeriksaan perkara tetap dilanjutkan.
(2)
Dalam hal putusan diucapkan di luar hadirnya Terdakwa, surat amar putusan paling lama 1 (satu)
Hari terhitung sejak tanggal diputuskan disampaikan kepada
Terpidana .
(3)
Bukti bahwa surat amar putusan telah disampaikan oleh penyidik kepada Terpidana, diserahkan kepada panitera untuk dicatat dalam buku register.
(4)
Dalam hal putusan dijatuhkan di luar hadirnya
Terdakwa dan putusan itu berupa pidana perampasan kemerdekaan,
Terdakwa dapat mengajukan perlawanan.
(5)
Dalam waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak tanggal putusan diberitahukan secara sah kepada Terdakwa,
Terdakwa dapat mengajukan perlawanan kepada pengadilan yang menjatuhkan putusan itu.
(6)
Dengan perlawanan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), putusan di luar hadirnya
Terdakwa menjadi gugur.
(7)
Setelah panitera memberitahukan kepada
Penyidik mengenai perlawanan sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
Hakim menetapkan hari sidang untuk memeriksa kembali perkara tersebut.
(8)
Jika putusan setelah diajukannya perlawanan tetap berupa pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (4), terhadap putusan tersebut
Terdakwa tidak dapat mengajukan banding.
Pasal 267
Pengembalian benda sitaan dilakukan tanpa syarat kepada yang paling berhak dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari terhitung sejak tanggal putusan dijatuhkan, jika
Terpidana telah memenuhi isi amar putusan.
Sesuai dengan makna yang terkandung dalam acara pemeriksaan cepat, segala sesuatu berjalan dengan cepat dan tuntas, benda sitaan dikembalikan kepada yang paling berhak pada saat amar putusan telah dipenuhi.
Bagian Kedelapan - Tata Tertib Persidangan
Pasal 268
(1)
Hakim ketua sidang memimpin dan memelihara tata tertib persidangan.
(2)
Segala sesuatu yang diperintahkan oleh
Hakim ketua sidang untuk memelihara tata tertib di persidangan wajib dilaksanakan dengan segera dan cermat.
Pasal 269
(1)
Dalam ruang sidang, setiap orang wajib menunjukkan sikap hormat kepada pengadilan dan mematuhi perintah pengadilan yang dikeluarkan untuk kepentingan proses peradilan.
(2)
Setiap orang yang berada di sidang pengadilan bersikap tidak sesuai dengan martabat pengadilan, menyerang integritas aparat penegak hukum, petugas pengadilan, atau persidangan dalam sidang pengadilan dan tidak menaati tata tertib setelah mendapat peringatan dari
Hakim ketua sidang, atas perintah
Hakim ketua sidang, yang bersangkutan dikeluarkan dari ruang sidang.
Ayat (1)
Ketentuan ini berlaku bagi setiap orang untuk menghormati martabat lembaga ini, khususnya bagi mereka yang berada di ruang sidang sewaktu persidangan sedang berlangsung, bersikap hormat dan sopan serta tingkah laku yang tidak menyebabkan timbulnya kegaduhan sehingga persidangan terhalang karenanya. Tugas pengadilan bersifat luhur, oleh karena itu tidak hanya bertanggung jawab kepada hukum, sesama manusia, dan dirinya, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pasal 270
(1)
Setiap orang dilarang membawa senjata api, senjata tajam, bahan peledak, alat atau benda yang dapat membahayakan keamanan sidang.
(2)
Tanpa surat perintah, petugas keamanan pengadilan karena tugas jabatannya dapat mengadakan
Penggeledahan badan untuk menjamin bahwa kehadiran seseorang di ruang sidang tidak membawa senjata, bahan, alat, atau benda yang dapat membahayakan keamanan sidang.
(3)
Dalam hal pada seseorang yang digeledah ditemukan membawa senjata api, senjata tajam, bahan peledak, alat, atau benda yang dapat membahayakan keamanan sidang, petugas meminta yang bersangkutan untuk menitipkannya.
(4)
Jika yang bersangkutan bermaksud meninggalkan ruang sidang untuk seterusnya, petugas wajib menyerahkan kembali senjata api, senjata tajam, bahan peledak, alat, atau benda yang dapat membahayakan keamanan sidang yang dititipkan.
(5)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak mengurangi kemungkinan untuk dilakukan
Penuntutan terhadap seseorang yang membawa senjata, bahan, alat, atau benda tersebut jika ternyata bahwa penguasaan atas senjata, bahan, alat, atau benda tersebut merupakan tindak pidana.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "petugas keamanan" adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dan tanpa mengurangi wewenangnya dalam melakukan tugasnya wajib melaksanakan petunjuk ketua pengadilan negeri yang bersangkutan.
Ayat (3)
Seseorang yang membawa senjata api, senjata tajam, bahan peledak, alat ataupun benda yang dapat membahayakan keamanan sidang tersebut wajib menitipkan di tempat khusus yang disediakan untuk itu.
Pasal 271
(1)
Hakim dilarang
Mengadili suatu perkara yang berkaitan dengan kepentingannya, baik langsung maupun tidak langsung.
(2)
Dalam hal
Hakim mempunyai kepentingan dengan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Hakim yang bersangkutan wajib mengundurkan diri baik atas kehendak sendiri maupun atas permintaan:
Penuntut Umum ; atau
Terdakwa atau Advokatnya.
(3)
Dalam hal terdapat keraguan atau perbedaan pendapat mengenai kepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ketua pengadilan tinggi yang menetapkan
Hakim yang akan
Mengadili .
(4)
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku secara mutatis mutandis bagi
Penuntut Umum .
Pasal 272
(1)
Dalam hal terdapat alasan yang kuat mengenai objektivitas, kebebasan, dan keberpihakan
Hakim atau majelis
Hakim yang menyidangkan perkara, Penuntut Umum, Terdakwa, atau
Advokat dapat mengajukan permohonan pergantian
Hakim atau majelis
Hakim yang menyidangkan perkara tersebut.
(2)
Permohonan pergantian
Hakim atau majelis
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan sebelum pemeriksaan perkara pokok kepada ketua pengadilan negeri.
(3)
Dalam hal ketua pengadilan negeri tidak mengabulkan permohonan pergantian
Hakim atau majelis
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (2), permohonan diajukan kepada ketua pengadilan tinggi.
(4)
Apabila permohonan pergantian
Hakim atau majelis
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikabulkan, dalam waktu paling lama 3 (tiga)
Hari ketua pengadilan negeri membuat penetapan mengenai penggantian
Hakim atau majelis
Hakim .
Pasal 273
(1)
Setiap
Terdakwa yang diputus pidana wajib membayar biaya perkara.
(2)
Dalam hal
Terdakwa diputus bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, biaya perkara dibebankan kepada negara.
(3)
Dalam hal
Terdakwa sebelumnya telah mengajukan permohonan pembebasan dari pembayaran biaya perkara berdasarkan syarat tertentu dengan persetujuan pengadilan, biaya perkara dibebankan kepada negara.
Pasal 274
(1)
Jika
Hakim memberi perintah kepada seseorang untuk mengucapkan sumpah atau janji di luar sidang,
Hakim dapat menunda pemeriksaan perkara sampai pada hari sidang yang lain.
(2)
Dalam hal sumpah atau janji dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Hakim menunjuk panitera untuk menghadiri pengucapan sumpah atau janji dan membuat berita acaranya.
Pasal 275
Semua
Putusan Pengadilan disimpan dalam arsip oleh pengadilan yang
Mengadili perkara pada tingkat pertama dan dilarang dipindahkan, kecuali Undang-Undang menentukan lain.
Pasal 276
(1)
Panitera membuat dan menyediakan buku daftar untuk semua perkara.
(2)
Buku daftar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat:
nama dan identitas Terdakwa ;
tindak pidana yang didakwakan;
tanggal penerimaan perkara;
tanggal Terdakwa mulai ditahan jika Terdakwa berada dalam tahanan;
tanggal dan isi putusan secara singkat;
tanggal penerimaan permintaan dan putusan banding atau kasasi;
tanggal permohonan serta pemberian grasi, amnesti, abolisi, atau Rehabilitasi ; dan
hal lain yang berkaitan dengan proses perkara.
Pasal 277
(1)
Petikan
Putusan Pengadilan diberikan kepada Terdakwa, Advokat, Penyidik, dan Penuntut Umum, sesaat setelah putusan diucapkan.
(3)
Salinan
Putusan Pengadilan hanya dapat diberikan kepada orang lain dengan seizin ketua pengadilan setelah mempertimbangkan kepentingan dari permintaan tersebut.
Ayat (1)
Petikan putusan diberikan dengan cuma-cuma.
Pasal 278
(1)
Semua jenis pemberitahuan atau panggilan oleh pihak yang berwenang pada semua tahap pemeriksaan kepada Terdakwa, Saksi, atau
Ahli disampaikan paling lambat 3 (tiga)
Hari sebelum tanggal kehadiran yang ditentukan, di tempat tinggal atau di tempat kediaman Terdakwa, Saksi, atau
Ahli terakhir.
(2)
Petugas yang melaksanakan panggilan tersebut harus bertemu sendiri dan berbicara langsung dengan orang yang dipanggil dan membuat catatan bahwa panggilan telah diterima oleh yang bersangkutan dengan membubuhkan tanggal dan tanda tangan, baik oleh petugas maupun orang yang dipanggil dan jika yang dipanggil tidak menandatangani maka petugas harus mencatat alasannya.
(3)
Dalam hal orang yang dipanggil tidak terdapat di salah satu tempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), surat panggilan disampaikan melalui kepala desa/lurah atau nama lainnya dan jika di luar negeri melalui Perwakilan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tempat orang yang dipanggil berdiam.
(4)
Dalam hal tidak diketahui tempat tinggal atau kediamannya dan surat belum berhasil disampaikan, surat panggilan ditempelkan di tempat pengumuman kantor pejabat yang mengeluarkan panggilan tersebut.
Pasal 279
Jangka waktu menurut Undang-Undang ini mulai diperhitungkan pada hari berikutnya.
Pasal 280
(1)
Saksi atau Ahli, yang telah hadir memenuhi panggilan untuk memberikan keterangan di semua tahap pemeriksaan, berhak mendapat penggantian biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Pejabat yang melakukan pemanggilan wajib memberitahukan kepada
Saksi atau
Ahli mengenai haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 281
(1)
Sidang pengadilan dilaksanakan dalam ruang sidang di gedung pengadilan.
(2)
Dalam ruang sidang, Hakim, Penuntut Umum, Advokat, dan panitera mengenakan pakaian sidang dan atribut masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)
Ruang sidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditata menurut ketentuan sebagai berikut:
tempat meja dan kursi Hakim terletak lebih tinggi dari tempat Penuntut Umum, Terdakwa, Advokat, dan pengunjung;
tempat panitera terletak di sisi kanan belakang tempat Hakim ketua sidang;
tempat Penuntut Umum terletak di sisi kanan depan tempat Hakim ;
tempat Terdakwa dan Advokat terletak di sisi kiri depan dari tempat Hakim dan tempat Terdakwa di sebelah kanan tempat Advokat ;
tempat kursi pemeriksaan Terdakwa dan Saksi terletak di depan tempat Hakim ;
tempat Saksi atau Ahli yang telah didengar terletak di belakang kursi pemeriksaan;
tempat pengunjung terletak di belakang tempat Saksi yang telah didengar;
bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia ditempatkan di sebelah kanan meja Hakim dan bendera pengadilan ditempatkan di sebelah kiri meja Hakim sedangkan lambang negara ditempatkan pada dinding bagian atas di belakang meja Hakim ;
tempat rohaniwan terletak di sebelah kiri tempat panitera;
tempat sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf i diberi tanda pengenal atau jabatan; dan
tempat petugas keamanan di bagian dalam pintu masuk utama ruang sidang dan di tempat lain yang dianggap perlu.
(4)
Dalam hal sidang pengadilan dilangsungkan di luar gedung pengadilan, tata tempat sedapat mungkin disesuaikan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5)
Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dapat dipenuhi, minimal bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia harus ada dan ditempatkan.
Pasal 282
(1)
Sebelum sidang dimulai, panitera, Penuntut Umum, Advokat, dan pengunjung menduduki tempatnya masing-masing dalam ruang sidang.
(2)
Pada saat
Hakim memasuki dan meninggalkan ruang sidang, semua yang hadir wajib berdiri untuk memberi penghormatan.
(3)
Selama sidang berlangsung, setiap orang yang keluar masuk ruang sidang wajib memberi hormat.
Pasal 283
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, bentuk, dan warna pakaian sidang serta atribut dan hal yang berhubungan dengan perangkat kelengkapan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 281 ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 284
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan dibebankan kepada negara.
BAB XVI - UPAYA HUKUM BIASA
Bagian Kesatu - Pemeriksaan Tingkat Banding
Pasal 285
(2)
Permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima oleh panitera pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari setelah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada
Terdakwa yang tidak hadir dalam sidang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 266 ayat (2) .
(3)
Terhadap permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (2), panitera membuat surat keterangan yang ditandatangani oleh panitera dan pemohon, serta tembusannya diberikan kepada pemohon yang bersangkutan.
(4)
Dalam hal pemohon tidak dapat menghadap, panitera harus mencatatnya disertai dengan alasan dan catatan harus dilampirkan dalam berkas perkara dan ditulis dalam daftar perkara pidana.
(5)
Dalam hal pengadilan negeri menerima permohonan banding yang diajukan oleh:
Penuntut Umum atau Terdakwa atau Advokatnya; atau
Penuntut Umum dan Terdakwa atau Advokatnya sekaligus, panitera wajib memberitahukan permohonan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.
Pasal 286
(2)
Dalam hal telah lewat waktu dan
Terdakwa atau Advokatnya, atau
Penuntut Umum dianggap menerima putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), panitera mencatat dan membuat akta mengenai hal tersebut serta dilekatkan pada berkas perkara.
Pasal 287
(1)
Dalam hal perkara banding belum diputus oleh pengadilan tinggi, permohonan banding dapat dicabut sewaktu-waktu.
(2)
Dalam hal perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah dicabut, permohonan banding untuk perkara tersebut tidak dapat diajukan lagi.
(3)
Dalam hal perkara telah mulai diperiksa, namun belum diputus sedangkan pemohon mencabut permohonan bandingnya, pemohon dibebani kewajiban membayar biaya perkara yang telah dikeluarkan oleh pengadilan tinggi hingga saat pencabutannya.
Pasal 288
(1)
Dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari terhitung sejak permohonan banding diajukan, panitera mengirimkan salinan putusan pengadilan negeri, berkas perkara, dan surat bukti kepada pengadilan tinggi.
(2)
Pemohon banding wajib diberi kesempatan untuk mempelajari berkas perkara tersebut di pengadilan negeri dalam waktu paling lambat 7 (tujuh)
Hari sebelum pengiriman berkas perkara kepada pengadilan tinggi.
(3)
Dalam hal pemohon banding menyatakan secara tertulis akan mempelajari berkas perkara tersebut di pengadilan tinggi, pemohon wajib diberi kesempatan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari terhitung sejak tanggal berkas perkara diterima oleh pengadilan tinggi.
(4)
Pemohon banding wajib diberi kesempatan untuk sewaktu-waktu meneliti keaslian berkas perkaranya.
Ayat (1)
Ketentuan pemberian batas waktu 14 (empat belas) Hari adalah agar perkara banding tersebut tidak tertumpuk di pengadilan negeri dan segera diteruskan ke pengadilan tinggi.
Pasal 289
(2)
Dalam hal
Terdakwa mengajukan permohonan banding,
Terdakwa dapat menyertakan memori banding.
(3)
Memori banding diajukan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari setelah permohonan diajukan.
(4)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terlampaui dan
Penuntut Umum sebagai pemohon banding tidak mengajukan memori banding, permohonan banding gugur.
Pasal 290
(1)
Penuntut Umum dan/atau
Terdakwa dalam memori bandingnya dapat meminta agar
Saksi dan/atau
Ahli yang telah didengar keterangannya pada tingkat pertama untuk diperiksa kembali oleh pengadilan tinggi.
(2)
Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disertai alasan mengapa
Saksi dan/atau
Ahli tersebut perlu didengar kembali oleh pengadilan tinggi.
(3)
Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga dapat diajukan terhadap
Saksi dan/atau
Ahli yang pada tingkat pertama tidak hadir.
Pasal 291
(1)
Pemeriksaan dalam tingkat banding dilakukan oleh pengadilan tinggi dengan minimal 3 (tiga) orang
Hakim atas dasar berkas perkara yang diterima dari pengadilan negeri yang terdiri dari berita acara pemeriksaan dari Penyidik, berita acara pemeriksaan di sidang pengadilan negeri, beserta semua surat yang timbul di sidang yang berhubungan dengan perkara itu, dan putusan pengadilan negeri.
(2)
Wewenang untuk menentukan
Penahanan beralih ke pengadilan tinggi sejak saat diajukannya permohonan banding.
(3)
Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari terhitung sejak tanggal menerima berkas perkara banding dari pengadilan negeri, ketua pengadilan tinggi menunjuk
Hakim /majelis
Hakim yang akan memeriksa permohonan banding.
(4)
Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari terhitung sejak ditunjuknya
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
Hakim /majelis
Hakim pengadilan tinggi wajib mempelajari berkas perkara untuk menetapkan:
perlu atau tidaknya Terdakwa tetap ditahan atau tidak, baik karena jabatannya maupun atas permintaan Terdakwa ; dan/atau
perlu atau tidaknya Saksi dan/atau Ahli untuk dipanggil dan diperiksa untuk mendengar sendiri keterangannya dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 290 .
(5)
Hakim /majelis
Hakim pengadilan tinggi dapat memanggil dan memeriksa untuk mendengar sendiri keterangan Terdakwa, Penuntut Umum, Saksi, dan/atau
Ahli yang tidak dimintakan untuk didengar kembali sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 290 ayat (2) jika dipandang perlu.
(6)
Dalam hal
Penahanan yang dikenakan kepada
Terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a telah mencapai jangka waktu yang sama dengan pidana yang dijatuhkan oleh pengadilan negeri kepadanya,
Terdakwa dibebaskan seketika itu.
Ayat (2)
Pengadilan tinggi menentukan Terdakwa ditahan atau tidak berdasarkan Undang-Undang sejak permohonan banding diajukan. Jika Penahanan yang dikenakan kepada pemohon banding telah mencapai jangka waktu yang sama dengan pidana yang dijatuhkan oleh pengadilan negeri kepadanya, pemohon banding dibebaskan seketika itu.
Pasal 292
(1)
Ketua majelis
Hakim pengadilan tinggi menetapkan tanggal sidang pemeriksaan dalam hal:
memandang perlu untuk mendengar kembali Keterangan Saksi dan/atau Ahli berdasarkan permintaan Penuntut Umum dan/atau Terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 290 ayat (1) ; dan/atau
memandang perlu untuk mendengar kembali keterangan Terdakwa, Penuntut Umum, Saksi dan/atau Ahli yang tidak dimintakan untuk didengar kembali.
(2)
Panitera pengadilan tinggi mengirimkan penetapan tanggal sidang pemeriksaan beserta nama Terdakwa, Penuntut Umum, Saksi, dan/atau
Ahli kepada
Terdakwa dan
Penuntut Umum melalui pengadilan negeri.
Pasal 293
Tata cara pemeriksaan
Saksi dan/atau
Ahli pada tingkat pertama sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 214 berlaku secara mutatis mutandis terhadap sidang pemeriksaan
Saksi dan/atau
Ahli di tingkat banding.
Pasal 294
(1)
Ketentuan mengenai larangan bagi
Hakim menunjukkan sikap atau pernyataan mengenai salah atau tidaknya
Terdakwa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 208 dan ketentuan mengenai larangan
Mengadili suatu perkara yang berkaitan dengan kepentingannya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 271 berlaku secara mutatis mutandis bagi pemeriksaan perkara dalam tingkat banding.
(2)
Ketentuan mengenai
Hakim wajib mengundurkan diri untuk
Mengadili perkara yang terikat hubungan keluarga sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 207 berlaku secara mutatis mutandis bagi
Hakim dan/atau panitera tingkat banding dan
Hakim dan/atau panitera tingkat pertama yang telah
Mengadili perkara yang sama.
(3)
Dalam hal
Hakim yang memutus perkara dalam tingkat pertama diangkat menjadi
Hakim pada pengadilan tinggi,
Hakim tersebut dilarang memeriksa perkara yang sama dalam tingkat banding.
Pasal 295
(1)
Jika pengadilan tinggi berpendapat bahwa dalam pemeriksaan tingkat pertama ternyata terdapat kelalaian dalam penerapan hukum acara, kekeliruan, atau kurang lengkap, pengadilan tinggi dapat memerintahkan pengadilan negeri untuk memperbaiki hal tersebut atau pengadilan tinggi melakukannya sendiri melalui putusan.
(2)
Dalam hal diperlukan, pengadilan tinggi dapat membatalkan penetapan dari pengadilan negeri sebelum putusan pengadilan tinggi dijatuhkan.
Pasal 296
(1)
Setelah semua hal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 295 dipertimbangkan dan dilaksanakan, pengadilan tinggi MEMUTUSKAN, menguatkan, mengubah, atau dalam hal membatalkan putusan pengadilan negeri, pengadilan tinggi
Mengadili sendiri atas perkara tersebut.
(2)
Dalam hal pembatalan tersebut terjadi atas putusan pengadilan negeri karena pengadilan tidak berwenang memeriksa perkara tersebut maka berlaku ketentuan mengenai surat pelimpahan perkara kepada pengadilan negeri lain yang dianggap berwenang
Mengadili sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 295 ayat (2) .
Pasal 297
Jika dalam pemeriksaan tingkat banding,
Terdakwa yang dipidana ditahan dalam tahanan, pengadilan tinggi dalam putusannya memerintahkan agar
Terdakwa tetap ditahan atau dibebaskan.
Pasal 298
(2)
Putusan pengadilan tinggi wajib dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum.
(3)
Dalam hal terdapat perubahan tanggal pembacaan putusan, pengadilan tinggi memberitahukan hal tersebut kepada
Terdakwa dan
Penuntut Umum .
(4)
Pemberitahuan kepada
Terdakwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dilakukan oleh
Penuntut Umum yang untuk itu
Penuntut Umum membuatkan tanda terima pemberitahuan.
(5)
Sidang pembacaan putusan dapat dihadiri oleh
Terdakwa dan/atau Penuntut Umum, baik secara langsung maupun secara elektronik.
(6)
Isi petikan putusan diumumkan melalui laman sistem informasi pengadilan pada hari putusan diumumkan.
(7)
Salinan putusan pengadilan tinggi beserta berkas perkara dalam waktu 7 (tujuh)
Hari setelah putusan tersebut dijatuhkan, disampaikan kepada pengadilan negeri yang memutus pada tingkat pertama.
(8)
Isi putusan setelah dicatat dalam buku register segera diberitahukan kepada
Terdakwa dan
Penuntut Umum oleh panitera pengadilan negeri dan selanjutnya pemberitahuan tersebut dicatat dalam salinan putusan pengadilan tinggi.
(9)
Ketentuan mengenai putusan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 250 berlaku juga bagi putusan pengadilan tinggi.
(10)
Dalam hal
Terdakwa bertempat tinggal di luar daerah hukum pengadilan negeri, panitera meminta bantuan kepada panitera pengadilan negeri yang dalam daerah hukumnya
Terdakwa bertempat tinggal untuk memberitahukan isi surat putusan itu kepadanya.
(11)
Dalam hal
Terdakwa tidak diketahui tempat tinggalnya atau bertempat tinggal di luar negeri, isi surat putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan melalui kepala desa/lurah atau nama lainnya atau melalui Perwakilan Negara Kesatuan Republik Indonesia, di tempat
Terdakwa biasa berdiam.
(12)
Dalam hal penyampaian isi surat putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum berhasil disampaikan,
Terdakwa dipanggil 2 (dua) kali berturut-turut melalui 2 (dua) surat kabar yang terbit dalam daerah hukum pengadilan negeri itu sendiri atau daerah yang berdekatan dengan daerah itu.
Bagian Kedua - Pemeriksaan Tingkat Kasasi
Pasal 299
(1)
Terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain Mahkamah Agung, Terdakwa, atau
Penuntut Umum dapat mengajukan permohonan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung.
(2)
Pengajuan pemeriksaan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diajukan terhadap:
putusan bebas;
putusan berupa pemaafan Hakim ;
putusan berupa tindakan;
putusan terhadap tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun atau pidana denda kategori V; dan
putusan yang telah diperiksa dengan acara pemeriksaan singkat.
Pasal 300
(1)
Permohonan kasasi disampaikan oleh pemohon dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari terhitung sejak
Putusan Pengadilan yang dimintakan kasasi itu dibacakan dalam sidang yang terbuka untuk umum.
(2)
Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh panitera ditulis dalam sebuah surat keterangan yang ditandatangani oleh panitera serta pemohon, dan dicatat dalam daftar yang dilampirkan pada berkas perkara.
(3)
Dalam hal pengadilan negeri menerima permohonan kasasi yang diajukan oleh:
Penuntut Umum atau Terdakwa ; atau
Penuntut Umum dan Terdakwa sekaligus, panitera wajib memberitahukan permintaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.
Pasal 301
(1)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 300 ayat (1) telah lewat tanpa diajukan permohonan kasasi oleh yang bersangkutan maka
Terdakwa atau Advokatnya, atau
Penuntut Umum dianggap menerima putusan.
(2)
Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon terlambat mengajukan permohonan kasasi maka hak untuk mengajukan permohonan kasasi gugur.
(3)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan keterlambatan waktu mengajukan permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), panitera mencatat dan membuat akta mengenai hal tersebut serta melekatkannya pada berkas perkara.
Pasal 302
(1)
Selama perkara permohonan kasasi belum diputus oleh Mahkamah Agung, permohonan kasasi dapat dicabut sewaktu-waktu.
(2)
Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah dicabut, permohonan kasasi tidak dapat diajukan lagi.
(3)
Dalam hal pencabutan dilakukan sebelum berkas perkara dikirim ke Mahkamah Agung, berkas tersebut tidak perlu dikirimkan.
(4)
Dalam hal perkara telah mulai diperiksa dan belum diputus, namun pemohon mencabut permohonan kasasinya, pemohon dibebani membayar biaya perkara hingga saat pencabutannya.
(5)
Permohonan kasasi hanya dapat diajukan 1 (satu) kali.
Pasal 303
(1)
Pemohon kasasi wajib mengajukan memori kasasi yang memuat alasan permohonan kasasinya dan dalam jangka waktu 14 (empat belas)
Hari setelah mengajukan permohonan tersebut, harus sudah menyerahkannya kepada panitera yang untuk itu ia memberikan surat tanda terima.
(2)
Dalam hal pemohon kasasi merupakan
Terdakwa yang kurang memahami hukum, panitera pada waktu menerima permohonan kasasi wajib menanyakan alasan mengajukan permohonan tersebut dan untuk itu panitera membuatkan memori kasasinya.
(3)
Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon terlambat menyerahkan memori kasasi maka hak untuk mengajukan permohonan kasasi gugur.
(4)
Ketentuan sebagaimana diatur dalam
Pasal 302 ayat (3) berlaku juga untuk ayat (3) pasal ini.
(5)
Tembusan memori kasasi yang diajukan oleh salah satu pihak, oleh panitera disampaikan kepada pihak lainnya dan pihak lain itu berhak mengajukan kontra memori kasasi.
(6)
Dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), panitera menyampaikan tembusan kontra memori kasasi kepada pihak yang semula mengajukan memori kasasi.
Pasal 304
(1)
Dalam hal salah satu pihak berpendapat masih ada sesuatu yang perlu ditambahkan dalam memori kasasi atau kontra memori kasasi, pihak yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk mengajukan tambahan tersebut dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 303 ayat (1) .
(2)
Tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diserahkan kepada panitera pengadilan.
(3)
Dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), panitera pengadilan segera permohonan kasasi secara lengkap kepada Mahkamah Agung.
Pasal 305
(1)
Setelah panitera pengadilan negeri menerima memori kasasi dan/atau kontra memori kasasi, panitera dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari wajib mengirim berkas perkara kepada Mahkamah Agung.
(2)
Pada saat panitera Mahkamah Agung menerima berkas perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), panitera langsung mencatat dalam buku agenda surat, buku register perkara, dan pada kartu petunjuk.
(3)
Buku register perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dikerjakan secara tertutup dan ditandatangani oleh panitera pada setiap hari kerja yang harus diketahui dan ditandatangani oleh Ketua Mahkamah Agung.
(4)
Dalam hal Ketua Mahkamah Agung berhalangan, penandatanganan dilakukan oleh wakil Ketua Mahkamah Agung.
(5)
Dalam hal wakil Ketua Mahkamah Agung berhalangan, Ketua Mahkamah Agung menunjuk salah satu
Hakim anggotanya dengan keputusan Ketua Mahkamah Agung.
(6)
Panitera Mahkamah Agung mengeluarkan bukti penerimaan yang aslinya dikirimkan kepada panitera pengadilan negeri yang bersangkutan, sedangkan kepada para pihak dikirimkan tembusannya.
Pasal 306
(1)
Ketentuan mengenai larangan bagi
Hakim yang menunjukkan sikap atau pernyataan mengenai salah atau tidaknya
Terdakwa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 208 dan ketentuan mengenai larangan
Mengadili suatu perkara yang berkaitan dengan kepentingannya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 207 berlaku secara mutatis mutandis bagi pemeriksaan perkara dalam tingkat kasasi.
(2)
Ketentuan mengenai
Hakim wajib mengundurkan diri untuk
Mengadili perkara yang terikat hubungan keluarga sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 207 ayat (1) berlaku secara mutatis mutandis bagi
Hakim dan/atau panitera tingkat kasasi dan
Hakim dan/atau panitera tingkat banding yang telah
Mengadili perkara yang sama.
(3)
Dalam hal seorang
Hakim yang
Mengadili perkara dalam tingkat pertama atau tingkat banding, kemudian telah menjadi
Hakim atau panitera pada Mahkamah Agung,
Hakim tersebut dilarang bertindak sebagai
Hakim atau panitera untuk perkara yang sama dalam tingkat kasasi.
Pasal 307
(1)
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 271 ayat (1) berlaku juga bagi pemeriksaan perkara dalam tingkat kasasi.
(2)
Dalam hal terdapat keraguan atau perbedaan pendapat mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam tingkat kasasi:
Ketua Mahkamah Agung karena jabatannya bertindak sebagai pejabat yang berwenang menetapkan Hakim yang akan Mengadili ; atau
dalam hal menyangkut Ketua Mahkamah Agung sendiri, pihak yang berwenang menetapkan Hakim yang akan Mengadili merupakan majelis yang terdiri atas 3 (tiga) orang Hakim yang dipilih oleh dan antar Hakim anggota.
Pasal 308
(1)
Pemeriksaan dalam tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung atas permintaan para pihak guna menentukan apakah benar:
suatu ketentuan peraturan perundang-undangan tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya;
cara Mengadili tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/atau
pengadilan telah melampaui batas wewenangnya.
(2)
Dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Agung tidak lagi melakukan penilaian atas terbukti atau tidaknya perbuatan yang didakwakan.
(3)
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan paling sedikit 3 (tiga) orang
Hakim atas dasar berkas perkara yang diterima dari pengadilan lain oleh Mahkamah Agung.
(4)
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas:
berita acara pemeriksaan dari Penyidik ;
berita acara pemeriksaan di sidang pengadilan;
semua surat yang timbul dalam pemeriksaan di sidang pengadilan yang berhubungan dengan perkara itu; dan
Putusan Pengadilan tingkat pertama dan/atau tingkat terakhir.
(5)
Jika dipandang perlu untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Mahkamah Agung dapat memanggil dan mendengar sendiri keterangan Terdakwa, Saksi, Ahli, dan/atau
Penuntut Umum .
(6)
Pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), disertai dengan penjelasan singkat dalam surat pemanggilan mengenai keterangan yang ingin didengar langsung oleh Mahkamah Agung.
(7)
Selain pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Mahkamah Agung dapat pula memerintahkan pengadilan di bawahnya untuk mendengar keterangan dengan cara pemanggilan yang sama.
(8)
Wewenang untuk menentukan
Penahanan beralih ke Mahkamah Agung sejak permohonan kasasi diterima Mahkamah Agung.
(9)
Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
Hari terhitung sejak menerima berkas perkara kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Mahkamah Agung wajib mempelajari berkas perkara kasasi untuk menetapkan apakah
Terdakwa perlu tetap ditahan atau tidak, baik karena wewenang jabatannya maupun atas permintaan
Terdakwa .
(10)
Dalam hal
Terdakwa tetap ditahan, dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari sejak penetapan Penahanan, Mahkamah Agung wajib memeriksa perkara tersebut.
Pasal 309
(1)
Dalam hal Mahkamah Agung memeriksa permohonan kasasi karena telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 308 ayat (1) dan ayat (4) mengenai hukumnya, Mahkamah Agung dapat memutus untuk menolak atau mengabulkan permohonan kasasi.
(2)
Dalam hal Mahkamah Agung menerima permohonan kasasi, Mahkamah Agung memutus mengenai penerapan hukum dan tidak mengenai fakta atau pembuktian.
Pasal 310
(1)
Dalam hal suatu putusan dibatalkan karena ketentuan peraturan perundang-undangan tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya, Mahkamah Agung
Mengadili perkara.
(2)
Dalam hal suatu putusan dibatalkan karena cara
Mengadili tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, Mahkamah Agung menetapkan disertai petunjuk agar pengadilan yang memutus perkara memeriksanya kembali mengenai bagian yang dibatalkan atau berdasarkan alasan tertentu Mahkamah Agung dapat menetapkan perkara tersebut diperiksa oleh pengadilan setingkat yang lain.
(3)
Dalam hal suatu putusan dibatalkan karena pengadilan atau
Hakim yang bersangkutan tidak berwenang
Mengadili perkara, Mahkamah Agung menetapkan pengadilan atau
Hakim lain
Mengadili perkara tersebut.
Pasal 311
(1)
Dalam hal Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi, Mahkamah Agung membatalkan
Putusan Pengadilan yang dimintakan kasasi.
Pasal 312
Ketentuan mengenai pemberian petikan atau salinan surat putusan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 254 dan
Pasal 277 ayat (1) berlaku juga bagi putusan kasasi Mahkamah Agung, kecuali mengenai pengiriman salinan putusan beserta berkas perkaranya kepada pengadilan yang memutus pada tingkat pertama yaitu dalam waktu paling lama 14 (empat belas)
Hari .
Pasal 313
Ketentuan mengenai pemeriksaan tingkat kasasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 299 sampai dengan
Pasal 312 berlaku secara mutatis mutandis terhadap pemeriksaan tingkat kasasi terhadap
Putusan Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.
BAB XVII - UPAYA HUKUM LUAR BIASA
Bagian Kesatu - Pemeriksaan Tingkat Kasasi Demi Kepentingan Hukum
Pasal 314
(1)
Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dari pengadilan lain selain Mahkamah Agung dapat diajukan 1 (satu) kali permohonan kasasi demi kepentingan hukum oleh
Jaksa Agung.
(2)
Putusan kasasi demi kepentingan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh merugikan pihak yang berkepentingan.
Pasal 315
(1)
Permohonan kasasi demi kepentingan hukum sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 314 ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh
Jaksa Agung kepada Mahkamah Agung melalui panitera pengadilan yang telah memutus perkara pada tingkat pertama, disertai risalah yang memuat alasan permintaan tersebut.
(2)
Salinan risalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari oleh panitera disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
(3)
Ketua pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 2 (dua)
Hari meneruskan permintaan tersebut kepada Mahkamah Agung.
Pasal 316
(1)
Salinan putusan kasasi demi kepentingan hukum oleh Mahkamah Agung disampaikan kepada
Jaksa Agung dan kepada pengadilan yang bersangkutan dengan disertai berkas perkara.
(2)
Ketentuan mengenai penyampaian salinan putusan pengadilan tinggi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 298 ayat (7) berlaku secara mutatis mutandis terhadap penyampaian salinan putusan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 317
Ketentuan mengenai pemeriksaan tingkat kasasi demi kepentingan hukum sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 314 sampai dengan
Pasal 316 berlaku bagi pemeriksaan tingkat kasasi demi kepentingan hukum terhadap
Putusan Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.
Bagian Kedua - Peninjauan Kembali Putusan Pengadilan Yang Telah Memperoleh Kekuatan Hukum Tetap
Pasal 318
(1)
Terhadap
Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap,
Terpidana dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung.
(2)
Permintaan peninjauan kembali oleh
Terpidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas dasar:
adanya bukti baru yang belum pernah diajukan dan diperiksa pada tingkat pemeriksaan sebelumnya;
adanya pertentangan antara putusan yang satu dengan putusan yang lain terhadap perkara yang sama; atau
adanya kekhilafan Hakim atau kekeliruan yang nyata dalam Putusan Pengadilan .
(3)
Permintaan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh
Terpidana atau ahli warisnya.
(4)
Dalam hal
Terpidana merupakan Korporasi, permintaan peninjauan kembali diajukan oleh pengurus
Korporasi .
(5)
Permohonan peninjauan kembali tidak dapat diajukan terhadap:
putusan bebas; atau
putusan lepas dari segala tuntutan hukum.
(6)
Permohonan peninjauan kembali hanya dapat diajukan 1 (satu) kali, kecuali terdapat bukti baru sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a atau terdapat pertentangan antara 2 (dua) putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Pasal 319
(1)
Permintaan peninjauan kembali oleh pemohon sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 318 ayat (1) diajukan kepada panitera pengadilan yang telah memutus perkaranya dalam tingkat pertama dengan menyebutkan alasannya.
(2)
Permintaan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 318 ayat (5) huruf a dan huruf c tidak dibatasi dengan suatu jangka waktu pengajuannya.
(3)
Permintaan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 318 ayat (5) huruf b diajukan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak putusan berkekuatan hukum tetap.
(4)
Ketua pengadilan segera mengirimkan surat permintaan peninjauan kembali beserta berkas perkaranya kepada Mahkamah Agung, disertai dengan berita acara hasil pemeriksaan alasan peninjauan kembali.
Pasal 320
(1)
Ketua pengadilan negeri setelah menerima permohonan peninjauan kembali menunjuk
Hakim yang tidak memeriksa perkara semula yang dimohonkan peninjauan kembali untuk memeriksa permohonan peninjauan kembali tersebut memenuhi alasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 318 ayat (5) .
(2)
Dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon dan perwakilan dari
Jaksa Agung hadir dan dapat menyampaikan pendapatnya.
(3)
Terhadap pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh Hakim, Jaksa, pemohon, dan panitera dan berdasarkan berita acara itu dibuat berita acara pendapat yang ditandatangani oleh
Hakim dan panitera.
(4)
Ketua pengadilan negeri dalam waktu paling lama 1 (satu)
Hari setelah permohonan peninjauan kembali diterima melanjutkan permohonan peninjauan kembali yang dilampiri berkas perkara semula, berita acara pemeriksaan, dan berita acara pendapat kepada Mahkamah Agung yang tembusan surat pengantarnya disampaikan kepada pemohon dan
Jaksa .
(5)
Dalam hal suatu perkara yang dimohonkan peninjauan kembali merupakan putusan pengadilan banding, tembusan surat pengantar tersebut harus dilampiri tembusan berita acara pemeriksaan dan berita acara pendapat, serta disampaikan kepada pengadilan banding yang bersangkutan.
Pasal 321
Dalam hal peninjauan kembali diajukan terhadap putusan berkekuatan hukum tetap yang berasal dari tingkat kasasi, pemeriksaan terhadap perkara peninjauan kembali tersebut harus dilaksanakan oleh
Hakim yang tidak
Mengadili perkara tersebut di tingkat kasasi.
Pasal 322
(1)
Setelah berkas permohonan peninjauan kembali diterima, Ketua Mahkamah Agung atau
Hakim agung yang ditunjuk memeriksa permohonan tersebut dan menetapkan bahwa permohonan peninjauan kembali telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 320 ayat (3) .
(2)
Dalam hal Mahkamah Agung berpendapat bahwa permohonan peninjauan kembali dapat diterima untuk diperiksa, berlaku ketentuan sebagai berikut:
jika Mahkamah Agung tidak membenarkan alasan pemohon, Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali dengan menetapkan bahwa putusan yang dimohonkan peninjauan kembali tersebut tetap berlaku disertai dasar pertimbangannya; dan
dalam hal Mahkamah Agung membenarkan alasan pemohon, Mahkamah Agung membatalkan putusan yang dimohonkan peninjauan kembali dan menjatuhkan putusan yang dapat berupa: 1. putusan bebas; 2. putusan lepas dari segala tuntutan hukum; 3. putusan yang menyatakan tuntutan Penuntut Umum tidak dapat diterima; atau 4. putusan dengan menerapkan ketentuan pidana yang lebih ringan.
(3)
Dalam hal
Terpidana telah menjalani putusan yang diajukan peninjauan kembali dan ternyata putusan peninjauan kembali membebaskan, melepaskan dari segala tuntutan hukum, putusan tidak dapat menerima tuntutan Penuntut Umum, atau putusan dengan menerapkan ketentuan pidana yang lebih ringan, pemohon peninjauan kembali atau ahli warisnya wajib diberikan
Ganti Rugi dan
Rehabilitasi .
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian
Ganti Rugi dan
Rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 323
(1)
Kecuali untuk pelaksanaan pidana mati, pemusnahan, perusakan barang bukti, permohonan peninjauan kembali atas suatu putusan tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan dari putusan tersebut.
(2)
Dalam hal permohonan peninjauan kembali sudah diterima oleh Mahkamah Agung dan pemohon meninggal dunia, mengenai diteruskan atau tidaknya peninjauan kembali tersebut diserahkan kepada ahli warisnya.
Pasal 324
(1)
Permintaan peninjauan kembali atas suatu putusan tidak menangguhkan dan menghentikan pelaksanaan dari putusan tersebut.
(2)
Dalam hal suatu permintaan peninjauan kembali sudah diterima oleh Mahkamah Agung dan sementara itu pemohon meninggal dunia, mengenai diteruskan atau tidaknya peninjauan kembali tersebut diserahkan kepada ahli warisnya.
Pasal 325
Ketentuan mengenai peninjauan kembali
Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 318 sampai dengan
Pasal 324 berlaku secara mutatis mutandis terhadap peninjauan kembali
Putusan Pengadilan dalam lingkungan peradilan militer.
BAB XVIII - KORPORASI
Bagian Kesatu - Umum
Pasal 326
(2)
Penanggung jawab
Korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
pengurus yang memiliki jabatan fungsional dalam struktur organisasi Korporasi ;
pemberi perintah;
pemegang kendali; atau
pemilik manfaat.
Bagian Kedua - Penyelidikan dan Penyidikan
Pasal 327
(3)
Penanggung jawab
Korporasi dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib hadir dalam pemeriksaan
Korporasi .
(4)
Dalam hal
Korporasi telah dipanggil secara sah namun tidak hadir, menolak hadir, atau tidak menunjuk penanggung jawab
Korporasi yang diwakili oleh penanggung jawab
Korporasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 326 ayat (2) untuk mewakili
Korporasi dalam pemeriksaan,
Penyidik menentukan salah seorang penanggung jawab
Korporasi untuk mewakili
Korporasi dan memanggil sekali lagi dengan perintah kepada petugas untuk membawa penanggung jawab
Korporasi secara paksa.
Bagian Ketiga - Perjanjian Penundaan Penuntutan
Pasal 328
(1)
Perjanjian Penundaan
Penuntutan bertujuan untuk kepatuhan hukum, pemulihan kerugian akibat tindak pidana, serta efisiensi dalam peradilan pidana.
(3)
Permohonan Perjanjian Penundaan
Penuntutan dapat diajukan oleh Tersangka, Terdakwa, atau
Advokat kepada
Penuntut Umum sebelum perkara dilimpahkan ke pengadilan.
(4)
Penuntut Umum dapat menerima atau menolak permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berdasarkan pertimbangan keadilan, Korban, dan kepatuhan
Terdakwa terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5)
Dalam hal
Penuntut Umum menerima permohonan,
Penuntut Umum wajib memberitahukan kepada pengadilan terkait akan dilaksanakan proses Perjanjian Penundaan
Penuntutan dan dicatat dalam berita acara.
(6)
Hasil kesepakatan Perjanjian Penundaan
Penuntutan wajib disampaikan oleh
Penuntut Umum kepada pengadilan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh)
Hari setelah kesepakatan ditandatangani oleh para pihak.
(7)
Pengadilan wajib mengadakan sidang pemeriksaan untuk menilai kelayakan dan keabsahan Perjanjian Penundaan
Penuntutan sebelum disahkan.
(8)
Dalam sidang pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (7),
Hakim wajib mempertimbangkan:
kesesuaian syarat dalam Perjanjian Penundaan Penuntutan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
proporsionalitas sanksi administratif atau kewajiban lain yang diberikan kepada Tersangka atau Terdakwa ;
dampak terhadap Korban, masyarakat, lingkungan hidup, perekonomian negara, dan sistem peradilan pidana; dan
kemampuan Tersangka atau Terdakwa dalam memenuhi syarat yang ditetapkan.
(9)
Dalam memeriksa Perjanjian Penundaan Penuntutan,
Hakim dapat meminta tambahan informasi atau klarifikasi dari Penuntut Umum, Tersangka, Terdakwa, atau pihak lain yang berkepentingan.
(10)
Dalam hal
Hakim menyetujui Perjanjian Penundaan Penuntutan, pengesahan dituangkan dalam penetapan pengadilan dan perkara ditangguhkan sesuai dengan kesepakatan.
(11)
Dalam hal
Hakim menolak Perjanjian Penundaan Penuntutan, perkara dilanjutkan ke persidangan dengan acara pemeriksaan biasa.
(12)
Syarat dalam Perjanjian Penundaan
Penuntutan dapat berupa:
pembayaran ganti rugi atau Restitusi kepada Korban ;
pelaksanaan program kepatuhan hukum atau perbaikan tata kelola Korporasi yang anti-korupsi;
kewajiban pelaporan dan kerja sama dengan penegak hukum selama proses penundaan Penuntutan ; atau
tindakan korektif lainnya yang dianggap perlu oleh Penuntut Umum .
(13)
Dalam hal
Tersangka atau
Terdakwa memenuhi semua kewajiban dalam Perjanjian Penundaan
Penuntutan selama jangka waktu yang ditentukan, perkara dapat dihentikan tanpa
Penuntutan lebih lanjut dengan penetapan pengadilan.
(14)
Pengadilan berwenang untuk memantau pelaksanaan Perjanjian Penundaan
Penuntutan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian.
(15)
Dalam hal
Tersangka atau
Terdakwa gagal memenuhi kewajiban dalam kesepakatan Perjanjian Penundaan Penuntutan,
Penuntut Umum berwenang melanjutkan proses
Penuntutan tanpa memerlukan persetujuan tambahan.
(16)
Setiap Perjanjian Penundaan
Penuntutan dicatat secara resmi dan disampaikan kepada
Hakim untuk dicatat dalam berita acara di pengadilan.
(17)
Pelanggaran terhadap prosedur Perjanjian penundaan
Penuntutan dapat berakibat batal demi hukum dan menjadi dasar bagi
Tersangka atau
Terdakwa untuk mengajukan keberatan atau perlawanan.
Bagian Keempat - Dakwaan
Pasal 329
(1)
Surat dakwaan terhadap
Korporasi dibuat sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
(2)
Surat dakwaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat sebagai berikut:
identitas Korporasi terdiri atas: 1. nama Korporasi ; 2. tempat dan tanggal pendirian dan/atau nomor anggaran dasar/akta pendirian/peraturan/ dokumen/perjanjian serta perubahan terakhir; 3. tempat kedudukan; 4. kebangsaan Korporasi ; 5. jenis Korporasi ; 6. bentuk kegiatan/ usaha; dan 7. identitas penanggung jawab Korporasi yang mewakili; dan
uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.
Bagian Kelima - Pertanggungjawaban Korporasi
Pasal 330
(1)
Korporasi dapat dikenai pertanggungjawaban dalam hal terjadi penggabungan, peleburan, pemisahan atau pembubaran
Korporasi .
(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pertanggungjawaban
Korporasi dalam penggabungan, peleburan, pemisahan, atau pembubaran
Korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Keenam - Pengenaan Pidana dan Tindakan
Pasal 331
(2)
Hakim menjatuhkan pidana dan/atau tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada setiap Undang-Undang yang mengatur ancaman pidana terhadap
Korporasi .
(3)
Penjatuhan pidana dan/atau tindakan terhadap
Korporasi sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak menutup penjatuhan pidana terhadap pelaku lain yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terbukti terlibat dalam tindak pidana tersebut.
Pasal 332
Bagian Ketujuh - Putusan
Pasal 333
(1)
Hakim menjatuhkan pidana terhadap
Korporasi berupa pidana pokok dan/atau pidana tambahan.
(2)
Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap
Korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pidana denda.
(3)
Pidana tambahan dijatuhkan terhadap
Korporasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedelapan - Pelaksanaan Putusan
Pasal 334
(1)
Pelaksanaan putusan dilakukan berdasarkan
Putusan Pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap.
(2)
Petikan putusan dapat digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 335
(1)
Dalam hal
Korporasi dikenai pidana denda, pembayaran denda dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak putusan berkekuatan hukum tetap.
(2)
Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) bulan.
(3)
Dalam hal
Terpidana Korporasi tidak membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), harta benda
Korporasi disita oleh
Jaksa atas izin ketua pengadilan negeri dan dilelang dengan bantuan kantor lelang negara untuk membayar denda.
Pasal 336
Pelaksanaan putusan harus dihadiri oleh hakim pengawas dan jaksa yang menangani perkara.
Pasal 337
(1)
Dalam hal penanggungjawab
Korporasi dikenai pidana denda, pembayaran denda dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak putusan berkekuatan hukum tetap.
(2)
Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) bulan.
(3)
Dalam hal penanggung jawab
Korporasi tidak membayar denda sebagian atau seluruhnya, harta benda
Korporasi disita oleh
Jaksa atas izin ketua pengadilan negeri dan dilelang dengan bantuan kantor lelang negara untuk melunasi pidana denda yang tidak dibayar.
Bagian Kesembilan - Pelaksanaan Pidana Tambahan terhadap Korporasi
Pasal 338
Pasal 339
(1)
Dalam hal
Korporasi dikenai pidana tambahan berupa perampasan barang yang diperoleh dari tindak pidana, perampasan barang dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sejak putusan berkekuatan hukum tetap.
(2)
Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) bulan.
(3)
Dalam hal terdapat keuntungan berupa harta benda
Korporasi yang timbul dari hasil tindak pidana maka seluruh keuntungan tersebut disita untuk negara.
Pasal 340
(1)
Korporasi yang dikenai pidana tambahan berupa ganti rugi atau Restitusi, tata cara pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam hal
Korporasi dikenai pidana tambahan berupa ganti rugi atau Restitusi, pembayaran ganti rugi atau
Restitusi dibayarkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak putusan berkekuatan hukum tetap
(3)
Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (2) dapat diperpanjang untuk paling lama 1 (satu) bulan.
(4)
Dalam hal
Korporasi tidak membayar ganti rugi atau
Restitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), harta benda
Korporasi disita oleh
Jaksa atas izin ketua pengadilan negeri dan dilelang dengan bantuan kantor lelang negara untuk membayar ganti rugi atau
Restitusi .
Pasal 341
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan pidana tambahan terhadap
Korporasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 338 sampai dengan
Pasal 340 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB XIX - PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN
Pasal 342
(2)
Salinan putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirim panitera kepada Penuntut Umum, Penyidik, pelapor/
Korban /
Keluarga Korban /
Advokat Korban, secara elektronik dan/atau secara langsung.
Pasal 343
Penjatuhan pidana pokok, pidana tambahan, dan pidana yang bersifat khusus terhadap
Terpidana orang-perseorangan dan Korporasi, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 344
(1)
Jika
Terpidana dipidana penjara dan kemudian dijatuhi pidana yang sejenis sebelum
Terpidana menjalani pidana yang dijatuhkan terdahulu, pidana tersebut dijalankan berturut-turut dimulai dengan pidana yang dijatuhkan lebih dahulu.
(2)
Pelaksanaan Pidana Penjara dilakukan di lembaga pemasyarakatan yang menyelenggarakan sistem dan fungsi pemasyarakatan.
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan bahwa pidana yang dijatuhkan berturut-turut tersebut ditetapkan untuk dijalani oleh Terpidana secara berkesinambungan antara menjalani pidana yang satu dengan yang lain.
Pasal 345
(1)
Jika
Putusan Pengadilan menjatuhkan putusan pidana denda,
Terpidana diberikan jangka waktu 1 (satu) bulan untuk membayar denda tersebut, kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus seketika dilunasi.
(2)
Dalam hal terdapat alasan yang kuat, jangka waktu sebagaimana dimakud pada ayat (1) dapat diperpanjang untuk paling lama 1 (satu) bulan.
(3)
Jika
Putusan Pengadilan menetapkan barang bukti dirampas untuk negara, selain pengecualian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 130 ,
Penuntut Umum menguasakan benda tersebut kepada kantor lelang negara dan dalam waktu 3 (tiga) bulan dilelang yang hasilnya dimasukkan ke kas negara sebagai hasil penegakan hukum.
(4)
Dalam hal pengadilan menetapkan putusan mengenai pemulihan aset kepada
Korban atau yang berhak,
Penuntut Umum harus segera melakukan pengembalian aset yang telah dirampas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan.
(5)
Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dapat diperpanjang untuk paling lama 1 (satu) bulan.
Pasal 346
(1)
Terpidana dapat mengajukan permohonan angsuran pidana denda paling lama 6 (enam) bulan sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap.
(2)
Dalam hal denda tidak dibayar dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), jaksa melakukan:
Penyitaan harta benda atau pendapatan Terpidana atas izin ketua pengadilan negeri;
pelelangan barang sitaan dengan bantuan kantor lelang negara; dan/atau
pengajuan pidana pengganti sesuai ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
(3)
Harta benda milik
Terpidana yang tidak dapat disita meliputi barang yang diperlukan untuk hidup layak dan bekerja, sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara eksekusi pidana denda diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 347
(1)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan juga putusan ganti rugi, pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai pelaksanaan pidana denda secara mutatis mutandis.
(2)
Penuntut Umum wajib menyerahkan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
Korban paling lama 1 (satu)
Hari setelah ganti rugi diterima.
Pasal 348
Jika dalam satu perkara
Terpidana lebih dari 1 (satu) orang, biaya perkara dan/atau
Ganti Rugi dibebankan kepada
Terpidana bersama-sama secara berimbang.
Pasal 349
(1)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan putusan pidana pengawasan, pelaksanaan putusan pidana pengawasan dilakukan oleh
Jaksa dan pembimbingan terhadap
Terpidana dilakukan oleh
Pembimbing Kemasyarakatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan putusan pidana kerja sosial, pelaksanaan putusan pidana kerja sosial dilakukan oleh
Jaksa dan pembimbingan terhadap
Terpidana dilakukan oleh
Pembimbing Kemasyarakatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan putusan tindakan, pelaksanaan putusan tindakan dilakukan oleh
Jaksa dan pembimbingan terhadap
Terpidana dilakukan oleh
Pembimbing Kemasyarakatan atau lembaga lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "Terpidana " adalah klien pemasyarakatan sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 350
(1)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan putusan pencabutan hak tertentu terhadap Terpidana, lembaga terkait wajib melaksanakan putusan tersebut tanpa terkecuali sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Salinan putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirim panitera kepada lembaga terkait secara elektronik dan/atau secara langsung.
Pasal 351
(1)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan putusan pidana tambahan berupa pemenuhan kewajiban adat, pelaksanaan pemenuhan kewajiban adat dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam hal pemenuhan kewajiban adat tidak terpenuhi,
Terpidana wajib membayar ganti rugi.
(3)
Ganti rugi dalam rangka tidak terpenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dibayarkan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan.
(4)
Pembayaran ganti rugi tersebut harus dibuat secara tertulis dalam bentuk berita acara serah terima ditandatangani oleh
Terpidana dan perwakilan adat serta disaksikan minimal oleh 2 (dua) orang saksi.
Pasal 352
(1)
Dalam hal pengadilan menjatuhkan putusan pidana tambahan kepada Korporasi, pelaksanaan pidana tambahan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)
Dalam hal pelaksanaan pidana tambahan oleh
Korporasi tidak terpenuhi,
Penuntut Umum dapat menyita kekayaan atau pendapatan
Korporasi dan melakukan pelelangan atas izin ketua pengadilan dengan bantuan kantor lelang negara dalam waktu 3 (tiga) bulan.
(3)
Hasil pelelangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dimasukkan ke kas negara.
(4)
Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diperpanjang untuk paling lama 1 (satu) bulan.
Ayat (2)
Jangka waktu 3 (tiga) bulan dimaksudkan untuk memperhatikan hal yang tidak mungkin diatasi pengaturannya dalam waktu singkat.
Ayat (4)
Perpanjangan waktu dimaksudkan untuk tetap dijaga agar pelaksanaan lelang tersebut tidak ditunda.
BAB XX - PENGAWASAN DAN PENGAMATAN PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN
Pasal 353
(1)
Setiap pengadilan harus ada paling sedikit 3 (tiga)
Hakim yang diberi tugas khusus untuk membantu ketua dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap
Putusan Pengadilan yang menjatuhkan pidana berupa pidana pokok, pidana tambahan, pidana yang bersifat khusus, dan tindakan yang ditentukan dalam Undang-Undang.
(2)
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disebut
Hakim pengawas dan pengamat.
(3)
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditunjuk oleh ketua pengadilan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun.
(4)
Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melibatkan pihak lain yang ada kaitannya dengan proses penegakan hukum meliputi:
Penyidik ;
Advokat, selaku yang mewakili kepentingan Terpidana dan Keluarga Terpidana ;
Pembimbing Kemasyarakatan ;
Korban tindak pidana; dan
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan, sebagai bendahara negara, kuasa pelaksana penilai, dan pelelang, dalam hal Putusan Pengadilan menetapkan perampasan barang sitaan diserahkan pada negara.
Pasal 354
(3)
Panitera mencatat berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam register pengawasan dan pengamatan.
Pasal 355
Register pengawasan dan pengamatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 354 wajib dikerjakan, ditutup, dan ditandatangani oleh panitera pada setiap
Hari kerja dan ditandatangani juga oleh
Hakim sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 353 .
Pasal 356
(1)
Hakim pengawas dan pengamat mengadakan pengawasan guna memperoleh kepastian bahwa
Putusan Pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
(2)
Hakim pengawas dan pengamat mengadakan pengamatan untuk bahan penelitian demi ketetapan yang bermanfaat bagi pemidanaan, yang diperoleh dari perilaku narapidana atau pembinaan lembaga pemasyarakatan, serta pengaruh timbal balik terhadap narapidana selama menjalani pidananya.
(3)
Pengamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap dilaksanakan setelah
Terpidana selesai menjalani pidana.
(4)
Pengawasan dan pengamatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 353 berlaku bagi pemidanaan bersyarat.
Pasal 357
Kepala lembaga pemasyarakatan menyampaikan kepada
Hakim pengawas dan pengamat mengenai informasi secara berkala mengenai perilaku narapidana tertentu yang ada dalam pengamatan
Hakim pengawas dan pengamat tersebut.
Pasal 358
Jika dipandang perlu demi pendayagunaan pengamatan,
Hakim pengawas dan pengamat dapat membicarakan dengan kepala lembaga pemasyarakatan mengenai cara pembinaan narapidana tertentu.
Pasal 359
Hasil pengawasan dan pengamatan dilaporkan oleh
Hakim pengawas dan pengamat kepada ketua pengadilan setiap 3 (tiga) bulan sekali.
BAB XXI - SISTEM PERADILAN PIDANA BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI
Pasal 360
(1)
Penyelenggaraan peradilan pidana dilakukan melalui sistem peradilan pidana berbasis teknologi informasi.
(2)
Sistem peradilan pidana berbasis teknologi informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan dalam Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan, peradilan, dan pemasyarakatan.
(3)
Sistem peradilan pidana berbasis teknologi informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan dalam rangka memberikan informasi terkait dengan:
penyelenggaraan peradilan pidana;
penanganan Tersangka, Terdakwa, dan Terpidana ;
pelaksanaan Upaya Paksa ;
pemenuhan hak Korban ;
pelaksanaan penyelesaian perkara melalui mekanisme Keadilan Restoratif ;
statistik kriminal;
Putusan Pengadilan ;
pelaksanaan Putusan Pengadilan ; dan
data lainnya berkaitan dengan penyelenggaraan sistem peradilan pidana terpadu.
(4)
Pemberian informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan kepada Penyidik, Jaksa, Hakim, Advokat, dan
Pembimbing Kemasyarakatan sesuai dengan peruntukannya.
(5)
Pemberian informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) dilakukan dengan menjamin kerahasiaan identitas
Saksi dan
Korban .
(6)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan sistem peradilan pidana berbasis teknologi informasi diatur dengan Peraturan Presiden.
BAB XXII - KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 361
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
perkara tindak pidana yang sedang dalam proses Penyidikan atau Penuntutan, Penyidikan atau Penuntutannya diselesaikan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
perkara tindak pidana yang sudah terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetapi proses Penyidikan atau Penuntutan belum dimulai, Penyidikan atau Penuntutannya dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini;
perkara tindak pidana yang sudah dilimpahkan ke pengadilan dan sudah dimulai proses pemeriksaannya tetap diperiksa, diadili, dan diputus berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209), kecuali untuk proses peninjauan kembali berlaku ketentuan dalam Undang-Undang ini; dan
dalam hal perkara tindak pidana yang sudah dilimpahkan ke pengadilan tetapi proses pemeriksaan Terdakwa belum dimulai, perkara diperiksa, diadili, dan diputus berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
BAB XXIII - KETENTUAN PENUTUP
Pasal 362
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 363
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kewenangan PPNS dan
Penyidik Tertentu dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 364
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai
Upaya Paksa dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 365
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209), dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 366
Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 367
Seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan terkait acara pidana yang bertentangan dengan Undang-Undang ini dinyatakan tidak berlaku, kecuali diatur dalam Undang-Undang.
Pasal 368
Undang-Undang ini dapat disebut dengan KUHAP.
Pasal 369
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 2 Januari 2026.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta pada tanggal 17 Desember 2025
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PRABOWO SUBIANTO
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 17 Desember 2025
MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA, PRASETYO HADI
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR 188
Salinan sesuai dengan aslinya
KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA Departemen Perundang-undangan dan Administrasi Hukum,
ttd
Lydia Silvanna Djaman PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2025 TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA I. UMUM
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7149
& vbtab &